Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 53 ~ Memulai kembali


Tidak terasa air mata Alexa menetas begitu saja mendengar cerita dari Sean. Dia mengira setelah jatuh pinsang di pinggir jalan, dia telah tiada.


Ternyata dibalik kematiannya ada seorang pria yang mati-matian menolong agar dia tetap hidup. Namun, takdirnya memang harus mati untuk terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih baik.


Alexa mendongak menatap Sean saat pria itu mengusap air matanya. "Jangan nangis, takut Ricard melihatnya dan menuduh aku yang tidak-tidak," ucap Sean.


"Kamu takut sama kak Ricard?"


"Tentu." Sean berdiri dari duduknya, sudah terlalu lama dia ada di rumah ini. "Aku pergi sekarang." Pamitnya.


"Mulai hari ini kita adalah teman Sean, bukan atasan dan bawahan lagi. Jadi jangan pernah bersikap formal padaku!" teriak Alexa tapi Sean tetap berjalan tanpa membalik tubuh hanya sekedar memberi jawaban.


Alexa mengembungkan pipinya seraya berjalan meninggalkan area kolom renang, tidak ada kesedihan sama sekali dalam hatinya telah berpisah dengan Ziko.


Wanita itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, hari ini sangat melelahkan karena melakukan berbagai macam hal. Dari menjadi istri yang baik, presdir penuh tanggung jawab, sampai menjadi istri durhaka. Alexa telah mengalami sumuanya.


"Alexa mari kita menata hidup dari awal lagi dengan cinta dan cerita yang baru," gumam Alexa. Wanita itu menarik guling kesayangannya dan mulai memejamkan mata. Istirahat sejak dari kejamnya dunia adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


***


Alexa mengerjap-erjapkan matanya ketika merasakan elusan begitu lembut di pipi. Mata itu perlahan-lahan terbuka hingga dapat melihat pria tampan duduk di sisi ranjang. Alexa memindahkan kepalanya di paha pria itu.


"Aku baru saja tidur kak," guman Alexa manja.


"Siapa bilang hm? Sudah jam tujuh Lexa, kamu tidur selama 3 jam!" peringatan Ricard.


"Tubuhku terasa remuk kak setelah mengalami berbagai drama hari ini," keluh Alexa egang untuk bangun dari pangkuan Ricard.


"Kenapa memendamnya sendiri? Apa kakak tidak berharga dalam hidupmu hm? Kenapa meminta bantuan Sean padahal kakak juga bisa membantu?" Ricard mulai mengarah pada pembicaraan serius dan Alexa tidak suka akan hal itu.


"Karena kak Ricard menyebalkan dan tidak sesabar Sean!" teriak Alexa dari kamar mandi.


"Itu karena kakak sayang sama kamu Lexa! Ini terakhir kalinya kamu memendam sakit sendirian, tidak ada lain kali."


"Baiklah kak, baiklah. Sebaiknya kakak pergi dari kamar Lexa sekarang juga," teriaknya.


Wanita itu mandang wajahnya di depan cermin kamar mandi mewah miliknya. "Mari kita kembali kekehidupan awal Lexa," gumamnya menepuk-nepuk pipinya berulang kali.


Usai melakukan ritual mandi dan terasa segar, Alexa memutuskan untuk menemui bundanya di lantai bawah. Wanita bermata indah itu akan meminta maaf dengan tulus karena telah mengecewakan sang bunda.


"Bundaaaaaa?" panggil Alexa memeluk leher Kania dari belakang. Wanita paruh baya itu tengah menikmati drama korea.


"Jangan mengajak bunda bicara Lexa, bunda sangat kecewa sama kamu," ujar Kania.


"Ayolah bunda maafin Lexa. Lexa tidak memberitahu bunda tentang masalah ini karena takut jantung Bunda jedak-jeduk lagi," rengek Alexa. Dia berpindah tempat duduk di samping Kania, memeluk lengan wanita paruh baya itu posesif.


"Harusnya kamu membicarakan sama bunda nak, bukan memendamnya sendirian. Kenapa juga kamu harus mempertahankan hubungan yang sudah hancur sejak awal pernikahan? Bunda memang tidak mau melihat putra atau putri bunda menjadi Duda/Janda. Tapi bunda lebih tidak mau lagi kalau Lexanya bunda ini disakiti Sayang," ceramah Kania panjang labar. Dia menangkup dagu Alexa dan menguyel-uyel hidung mancung putrinya.


"Lexa sayang Bunda."


"Bunda tidak sayang sama Lexa." Kania terkekeh, dia berusaha menghibur putrinya untuk saat ini. Meski dirinya juga sedang terluka mendengar perpisahan Alexa. Andai sejak awal Kania menentang pernikahan tersebut, perpisahan tidak mungkin terjadi.


"Mau menikah lagi?" celetuk Ricard langsung bergabung.


"Aku baru saja berpisah, bahkan keputusan pengadilan belum keluar, tapi kakak sudah menanyakan tentang menikah."


"Suami kamu selanjutnya harus lulus seleksi kakak dulu!"