Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 155 ~ Belum terbiasa


"Tadi senyum-senyum sambil berjemur sama Sean, sekarang kok cemberut. Kenapa Sayang?" Kania langsung duduk di hadapan Alexa.


Wanita paruh baya itu merebut mangkuk berisi es batu di hadapan Alexa.


"Jangan diambil Bunda!" tegur Alexa berusaha mengambil kembali es kristal tersebut tapi keburu diserahkan pada pelayan.


"Ada masalah?" tanya Kania sambil menatap putrinya penuh selidik. Jika Alexa sudah duduk seraya mengunyah es batu, itu tandanya Alexa sedang kesal. Terlebih Kania tidak sengaja mendengar putrinya membentak Sean saat di kamar tadi.


"Kalau ada masalah harusnya kamu selesaikan baik-baik bukan malah menghindar Nak." Kania meraih tangan Alexa untuk dia genggam. "Apalagi sampai mengatakan hal-hal yang bisa melukai hati seseorang seperti yang kamu katakan barusan pada Sean."


"Tidak ada seseorang yang mengingingkan dirinya terluka termasuk suami kamu."


"Maaf," lirih Alexa menundukkan kepalanya. Wanita itu sadar terlalu gambalang mengeluarkan kalimat menyakitnya.


"Entah apa yang menyebabkan pertengkaran kalian, tapi harusnya kalian membicarakan dengan kepala dingin. Tanya baik-baik pada suamimu. Kalian bukan lagi anak kecil yang harus dibimbing dalam hal pernikahan."


Kania terus saja mengeluarkan patuah-patuahnya agar Alexa tidak mengulangi hal yang sama. Tidak ada yang tahu isi hati dan mental seseorang, mungkin saja perkataan yang menurut kita biasa saja malah terlalu menyakitkan untuk orang lain.


Kania beranjak dan mendekati putrinya. "Jangan duduk di dapur dan mengunyah es batu sampai gigi kamu sakit, kembali ke kamar dan baikan sama suami kamu!" perintah Kania.


Samar-samar Alexa menganggukkan kepalanya dan segera beranjak menuju kamar untuk meminta maaf pada suaminya.


Alexa terlalu emosi tadi saat tahu Sean menolak untuk datang kerumah sakit tanpa alasan yang jelas.


***


Sean menghela nafas panjang berkali-kali sambil memandangi hamparan luas halaman rumah Alexa. Sesekali pria itu memukul kakinya yang kadang terasa sakit kadang juga mati rasa.


"Kenapa harus begini?" lirih Sean.


Sebenarnya sangat sulit untuk Sean menerima kenyataan, terlebih harus menyusahkan wanita yang seharusnya dia jaga dan manjakan. "Bahkan datang kerumah sakit tidak akan mengubah apapun, hanya mendapatkan pereda rasa sakit tanpa bisa sembuh sepenuhnya!"


Sean mengusap air matanya kasar yang turun tanpa diminta, apalagi saat mendengar suara langkah mendekatinya. Wajah yang tadinya menyiratkan keputus asaan berubah menjadi ceria seakan tidak terjadi apa-apa.


"Husbu."


"Maaf, aku bicara seperti itu bukan karena bosan menjagamu hanya saja ...."


"Tidak apa-apa aku mengerti Lexa. Ayo berdiri, perut kamu akan terasa sesak jika terus duduk seperti itu!" pinta Sean memegang kedua lengan Alexa agar segera berdiri.


"Maafin aku juga karena mengabaikan perintah dokter. Aku akan memeriksakan diri tapi tidak hari ini."


"Kenapa Husbu menolak pergi?"


"Karen aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dan calon anak kita dirumah," jawab Sean asal. Pria itu menarik Alexa agar duduk di paha sebelah kanannya, memeluk Alexa dari belakang cukup erat.


"Beri aku waktu untuk terbiasa, setelahnya aku tidak akan menyusukahkan dirimu lagi," bisik Sean.


"Husbu ngomong apa? Aku tidak keberatan merawat Husbu, hanya saja sedih kalau Husbu tidak ada usaha untuk menyembuhkan diri."


"Aku ingin dimanja seperti dulu," lanjut Alexa dalam hati. Wanita itu bergeming, menikmati pelukan hangat Sean yang terasa menenangkan.


Mungkin Alexa dan Sean sama-sama belum bisa menerima kenyataan yang ada, terlebih berbeda pendapat sering kali terjadi dalam sebuah hubungan.


"Besok kita kerumah sakit ya? Aku akan membuat janji temu dengan dokter Harun," bujuk Alexa mengelus tangan kekar Sean yang melingkar di perutnya.


Sean mengelengkan kepalanya. "Aku akan pergi dengan Arya besok."


"Tidak, aku harus ikut biar tahu kondisi Husbu yang sebenarnya. Lagipula sudah lama aku tidak bicara langsung dengan dokter Harun, semua kondisi Husbu aku ketahui kalau bukan dari Husbu sendiri ya Arya."


"Kamu tidak percaya?"


"Bukan tidak percaya, tapi takut kata baik-baik saja yang keluar dari mulut Husbu berbeda dengan dokter Harun."


Sean menghela nafas panjang mendapati kekeras kepalaan istrinya. Mengambil jalan tengah, Sean langsung saja menganggukkan kepalanya.


"Baiklah My Wife."