
Tatapan Aily tertuju pada tangan ayahnya yang sejak tadi memijit kaki bundanya. Dengan segera bocah itu menselonjorkan kaki lalu menarik tangan Sean agar berada di kakinya.
"Ai juga mau dipijet Ayah! Bunda jangan dekat-dekat sama Ayah!" Menatap Alexa penuh permusuhan.
Alexa menghela nafas panjang, saingan paling berat seorang istri tentu saja putrinya.
"Dia suami bunda!"
"Tapi dia ayah Ai!"
Sean yang melihat perdebatan kedua prempuan kesayangannya hanya bisa tersenyum sambil memijit pelan kaki kecil Aily.
Aidan dan Aiden lantas berdiri sambil berkacak pinggang.
"Ayo Bunda kita ke sana!" Menunjuk ranjang yang tampak berantakan karena ulah mereka sendiri. "Idan pijitin sampai bobo." Menatap penuh permusuhan pada Sean. "Ayah nggak boleh dekat-dekat sama Bunda!"
***
Setelah menerima telpon dari mamanya, Arnold kembali ke kamar dan mendapati Serin masih bergelud di bawah selimut. Pria itu menarik selimut perlahan, hanya sampai leher sebab Serin sedang tidak memakai apapun dibalik selimut tebal.
"Aku masih mengantuk."
"Mama katanya mau datang satu jam lagi," bisik Arnold.
Hal tersebut membuat mata Serin yang semula sayu terbuka sangat lebar. Dia tidak salah dengarkan? Mertuanya akan datang kerumah? Itu artinya ada kesempatan untuk Serin mengambil hati wanita yang telah melahirkan suaminya.
"Kamu serius?" Tanya Serin memastikan. Wanita itu telah duduk di atas ranjang dengan rambut sedikit acak-acakan setelah olahraga malam bersama sang suami.
"Sejak kapan aku berbohong?"
"Tunggu di sini!" Serin segera turun dari ranjang, berlari ke kamar mandi untuk membilas wajahnya dan berpakain lengkap.
Pagi ini suasana hati Serin langsung membaik mendapat kabar dari suaminya. Sebenarnya dia sering kali iri melihat postingan Ayra yang sangat dimanja oleh mertuanya, dan Serin juga ingin merasakan hal yang sama.
Pernah sekali Serin bermimpi sedang hamil dan begitu dimanja oleh mertuanya, itulah mengapa dia terlalu berharap hubungannya baik-baik saja.
"Mau ngasih tahu Bunda kalau mertua aku mau datang!" sahut Serin berlari keluar kamar mencari bundanya.
Sementara Arnold kembali duduk di sisi ranjang sambil tersenyum. Pria itu tidak menyangka mamanya menelpon dan mengatakan akan berkunjung dan mengajak Serin belanja sebelum meninggalkan Indonesia.
"Makasih Mah, berkatmu aku melihat senyuman ceria Serin lagi," batin Arnold.
Bisa dibilang perasaan cinta itu mulai hadir di hati Arnold. Akhir-akhir ini pria itu sangat suka melihat Serin tersenyum, begitupun sebaliknya. Akan ikut merasakan sakit kalau saja istrinya bersedih.
Baru saja Arnold akan berdiri, Serin kembali lagi ke kamar masih dengan senyuman di wajahnya.
"Arnold, bunda senang banget dengar mama mau mampir." Menghampiri Arnold dan langsung memeluknya tanpa rasa malu, padahal selama ini yang selalu memulai hanya Arnold dan Serin menerima apa adanya saja.
"Aku juga senang liat senyum kamu," bisik Arnold membalas pelukan Serin.
Jantung Arnold berpacu semakin cepat seiring bergantinya menit tapi pelukan itu tidak kunjung terlerai. Ternyata respon jantung Arnold jauh lebih hebat ketika bukan dia yang memulai.
"Aku mau siap-siap dulu buat nyambut mama." Melerai pelukannya, tersenyum pada Arnold sebelum masuk ke ruang ganti baju.
Sementara Arnold yang telah rapi segera meninggalkan kamar. Berjalan sesekali menuruni anak tangga. Siapa yang menyangka seorang pengawal sepertinya bisa menikahi majikannya sendiri tanpa melakukan hal licik apapun.
Bahkan sejak pertama kali bekerja, tidak pernah terbesit di hati Arnold untuk mendapatkan nyonya dari Ayana Group, tapi sekarang pria itu malah menjadi presdir, melewati jabatan kakaknya sebagai asisten Tuan Sean.
"Kata Serin, mama kamu bakal datang Nak?" tanya Griya yang sedang menata makanan di atas meja.
"Iya Bunda."
"Hari ini bunda sangat bahagia karena kabar datangnya mama kamu kerumah Nak. Sejak dulu Serin sering kali bercerita sama Bunda."
Kening Arnold mengerut.
"Dia sangat ingin dimanja oleh wanita yang telah melahirkan pria yang dia cintai."
"Pria yang Serin cintai?" Kening Arnold semakin mengkerut. Selama ini yang pria itu tahu, Serin menikah denganya hanya untuk menyelamatkan perusahaan dan untuk mendapatkan keturunan saja.