
Serin buru-buru keluar dari apartemennya setelah merencanakan sesuatu untuk Alexa. Wanita licik itu harus segera pergi sebelum bertemu ayahnya.
Serin terus berlari menuju mobilnya setelah sampai di basemen apartemen, dia segera membuka pintu mobil dan hendak masuk. Sayangnya pintu mobil itu ditedang cukup keras, membuat Serin tersentak kaget.
Wanita itu mengeram kesal. "Berani-beraninya kalian menendang mobil kesayangan aku ...." Ucapan Serin terhenti, wanita itu menelan salivanya kasar mengetuhui siapa yang telah berdiri di hadapannya.
Perlahan-lahan Serin memundurkan langkahnya bersiap untuk kabur. Sial, dia sedikit terlambat untuk melarikan diri hingga harus bertemu orang-orang suruhan ayahnya.
Baru saja Serin membalik tubuhnya untuk berlari, tangannya telah dicekal oleh pria berbadan besar juga tinggi.
"Jangan kabur Nona, tuan ingin bertemu dengan anda," imbuh orang suruhan ayah Serin. Pria bertubuh besar itu mengendong Serin menuju mobil yang telah terparkir rapi menghadap pintu keluar basamen.
"Lepasin aku botak jelek!" teriak Serin terus memukul punggung kekar pria botak tersebut.
Dia terus meronts agar diturunkan, tapi nyatanya semua yang dia lakukan sia-sia saja. Serin menghembuskan nafas kasar setelah tubuhnya di hempaskan begitu saja ke dalam mobil.
"Kalian benar-benar telah membuatku marah!" pekik Serin di dalam mobil, tapi dua orang bertubuh kekar tersebut tidak ada yang menyahuti makian Serin.
Kedua pria itu hanya diperintahkan untuk mencari Serin dan membawannya kehadapan Ayahnya untuk diinterogasi.
"Kalian semua gila!" teriak Serin menendang jok mobil hingga kedua orang yang berada di depan sedikit terkejut.
Salah satu pria terpaksa kebelakang untuk mengunci pergerakan Serin agar berhenti mengamuk seperti orang gila saja.
"Diam Nona!" tegur salah satu pria tersebut.
"Tidak akan sebelum kau melepaskan aku! Kau tidak punya hak untuk menculikku!"
"Ck." Pria itu langsung mengambil sesuatu di dalam sakunya, kemudian menusukkan di tangan Serin tanpa memperdulikan wanita itu akan merasakan sakit atau tidak.
"Lepaskan aku," lirih Serin. Nada bicara serin mulai merendah, seiring pergerakan tubuhnya yang melemah. Obat bius yang disuntikkan pria itu sangat cepat bereaksi.
***
Sean tersenyum lebar melihat istrinya keluar dari ruangan dokter Obgin. Dia berdiri dan langsung menghampiri Alexa. Sean mendaratkan kecupan dipipi ibu hamilnya ketika tempat mereka berdiri terlihat sepi.
"Apa yang dikatakan dokter?" tanya Sean. Pria itu menunduk untuk mengenggam tangan Alexa.
"Kandungan aku jauh lebih baik dari sebelumnya, aku bisa melakukan aktivitas seperti biasa, tapi harus tetap memperhatikan pola makan. Tapi ...," lirih Alexa di akhir kalimat.
Wanita itu menunduk saat mengingat penjelasan dokter tentang kandungannya. Lagi-lagi Alexa menyalahkan diri sendiri karena terlalu ceroboh malam itu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Sean.
"Perkembangan kandungan aku sedikit bermasalah karena efek alkohol. Harusnya aku tidak ...."
"Sssttttt, sudah. Jangan menyesali sesuatu yang telah terjadi. Kamu belum tahu malam itu, jadi kamu tidak salah apa-apa," bisik Sean. Pria itu memeluk tubuh Alexa dan mengusap lengan wanita itu penuh kasih sayang. "Yang harus kita lakukan adalah menjaganya, bukan malah menyesali," bisik Sean. Keduanya telah berada di dalam mobil, jadi Sean tidak segang-segang memberikan kecupan di puncuk kepala istrinya.
Alexa membalas pelukan Sean. "Makasih Husbu sudah berusaha memahamiku," gumannya.
"Itu tugasku sebagai suamimu, Sayang." Sean melerai pelukannya setelah merasa Alexa sedikit tenang. Dia menunduk untuk mengecup punggung tangan istrinya.
"Sekarang semua masalah kita telah selesai, jadi fokus pada keluarga dan kehidupan kita saja," imbuh Sean.
Alexa menganggukkan kepalanya patuh, dia sedikit memundurkan tubuhnya saat Sean membantu memasangkan sabuk pengaman.
"Duduk yang nyaman Nyonya Sean," lanjut Sean setelah menyetel jok yang diduduki Alexa.
"Terlalu memanjakan," cibir Alexa.
Sean hanya tertawa menanggapi cibiran istrinya. Mengusap rambut Alexa sebentar sebelum melajukan mobil meninggalkan area rumah sakit.
Sepanjang jalan, ada banyak cerita yang keduanya bicarakan. Bahkan masa depan menjadi topik paling penting dalam obrolan Alexan dan Sean.
"Karena anak kita akan kembar lima, jadi aku harus membeli rumah yang ...."
Sean mengigit bibir bawahanya karena mendapat sentilan dari sang istri.
"Ngomongnya suka ngasal," gerutu Alexa.