
"Husbu baik-baik saja? Sakit perutnya sudah mereda? Ah iya makanan yang bunda buat sudah datang?" Alexa terus saja mencerca Sean dengan pertanya seputar kesehatan pria itu.
Raganya memang ada di sekolah, tapi pikiran dan hati Alexa masih dirumah karena mengkhawatirkan suaminya. Alexa tidak ingin meninggalkan Sean seorang diri, tapi dia ada keperluan penting disekolah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
"Belum, tubuh aku malah semakin lemas. Makanan dari bunda juga belum datang. Cepat pulang," rintih Sean di seberang telpon.
"Baiklah."
Alexa memasukkan ponselnya kedalam tas, wanita itu baru saja keluar dari ruang rapat bersama guru lainnya. Sebenarnya dia masih ada kelas satu jam lagi, tapi sepertinya akan ia titipkan agar bisa pulang menemui sang suami.
"Fery!" panggil Alexa pada siswanya.
Laki-laki sedikit mendayu itu menoleh dan menghampiri Alexa. "Ada apa Bu?" tanyanya.
"Tolong berikan buku ini pada ketua kelas XI Ekonomi 3, saya ada urusan mendesak," pinta Alexa pada Fery.
"Baik bu."
"Makasih ya." Alexa melempar senyum pada siswanya tersebut.
"Sama-sama bu, mari."
Alexa menganggukkan kepalanya dan memutar langkah kekiri dimana koridor akan mengantarkannya menuju perkiran.
"Alexa!"
Alexa memutar bola mata malas mendengar suara tersebut menyebut namanya, sungguh dia sangat risih pada Irwan yang sok kenal dengannya.
"Mau kemana?" tanya Irwan menyamai langkah Alexa.
"Pulang!"
"Salah-satu siswa kita masuk rumah sakit karena demam berdarah, apa kamu tidak ingin menjenguknya? Sebagai guru kita ...."
"Terimakasih atas informasinya pak Irwan, tapi suami saya lebih penting sekarang." Alexa memotong kalimat Irwan.
Wanita itu membuka pintu mobil dan masuk tanpa menghiraukan Irwan yang berusaha mencegahnya agar tidak pulang.
"Ah iya, pak Irwa memang baik sampai peduli pada siswa. Pak Irwan akan menjenguknya? Tolong sampaikan salam saya pada keluarganya," ucap Alexa kemudian menaikkan kaca mobil.
"Entah siapa yang mengantar makanan itu sampai membuat Sean kelaparan," gumam Alexa.
Wanita itu menurunkan kecepatan mobilnya kemudian meraih ponselnya di dalam tas. Alexa langsung menghubungi bundanya untuk memastikan sesuatu.
"Siapa yang mengantar makanannya Bunda? Kenapa sampai sekarang belum sampai juga?" tanya Alexa dengan sebelah tangan mengendalikan setir kemudi.
"Serin Nak."
"Ah baiklah, makasih Bunda."
Alexa menghela nafas panjang mengetahui siapa yang membawa makanan untuk suaminya. Wanita itu kembali menaikkkan kecepatan mobilnya hingga tiba dengan cepat di gedung tempatnya tinggal bersama sang suami.
Dengan langkah lebarnya Alexa memasuki gedung agar bisa segera sampai di unit suaminya. Tangan Alexa mengepal hebat saat keluar dari lift dan tidak sengaja melihat Serin berdiri di depan pintu dengan menenteng sesuatu di tanganya.
Dia menghampiri wanita kurang belaian tersebut. "Serin?" sapa Alexa dengan senyuman.
"Ah kak Lexa," sapa Serin ramah meski sedikit terkejut. Wanita itu sangat kesal karena Irwan gagal menghentikan Alexa pulang.
"Kenapa kau berdiri di depan pintu?"
"Ini tante Kania menyuruh aku mengantarkan makanan untuk suami kakak. Aku sudah memencet bel berkali-kali tapi tidak ada sahutan apapun," jelas Serin.
Alexa langsung mengambil kotak yang dibawa Serin. "Terimakasih, kau boleh pulang sekarang. Kami tidak menerima tamu jika bukan keluarga!"
"Tapi aku sepupu kak Lexa."
"Maaf Serin, tapi yang boleh masuk hanya bunda dan kak Ricard saja." Alexa menepuk pundak Serin dengan bibir melengkung kebawah.
"Entah sekarang di Korea musim semi atau musim panas, tapi harusnya kau bisa beradaptasi di Indonesia, Serin. Sekarang lagi musim hujan dan baju kamu terlalu terbuka. Saran aku, kamu pakai yang lebih tertutup lagi, kasian kalau sakit," ucap Alexa.
Wanita itu melambaikan tangannya sebelum menutup pintu rumah tanpa mengajak Serin masuk. Yang ada Alexa malah terang-terangan mengusir Serin.
Sudah Alexa katakan dia akan mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan. Dulu dia merelakan Ziko, sebab pria itu sendiri yang selingkuh.
Berbeda dengan sekarang, Sean tidak selingkuh tapi ada wanita yang ingin mendekatinya. Sebagai seorang istri dia harus mengaja suaminya.