Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 89 ~ Sakit perut


Sean ikut tersenyum melihat istrinya sejak tadi tertawa seorang diri seperti orang gila. Dia segera menyudahi pekerjaanya dan menghampiri Alexa di atas ranjang.


Menarik punggung Alexa yang membelakanginya agar berbaring di pangkuannya.


"Lihat apa sampai tertawa lepas seperti itu, hm?" tanya Sean membelai rambut lurus Alexa.


"Serin."


"Serin?" Sean mengerutkan keningnya.


"Hm, liat Husbu, dia lagi nangis karena ketakutan di dalam mobil sendirian. Ternyata nyali dia tidak begitu besar sampai ingin menganggu rumah tangga kita," jelas Alexa.


Wanita itu menyerahkan ponselnya pada Sean. Di sana ada Video yang diberikan oleh anak buahnya. Serin tengah menangis di dalam mobil karena takut akan kegelapan.


"Ck, istri aku memang sangat jahil," decak Sean. Dia meletakkan ponsel Alexa di atas nakas dan menunduk untuk mengecup bibir Alexa sekilas.


"Kenapa? Tidak suka hm?" tanya Alexa dan dijawab gelengan oleh Sean.


Pria itu membaringkan tubuh Alexa di bantal kemudian ikut berbaring.


"Jangan bertindak terlalu jauh Lexa, biar aku yang menangani semuanya. Fokuslah pada kesehatan kamu saja," bisik Sean menarik Alexa dalam dekapannya.


"Aku tahu Husbu, aku hanya kesal sama dia. Aku janji tidak akan membahayakan diriku sendiri," gumam Alexa menikmati pelukan sang suami.


Bahkan tanganya dengan lancang menelusup masuk ke baju kaos Sean hanya untuk mengusap perut kotak-kotak sang suami.


"Jangan terlalu kebawah Lexa, aku takut kamu membangungkan sesuatu," peringatan Sean. "Bekas ditubuhmu bahkan masih ada, jangan buat aku semakin menambahnya."


"Pengertian banget sih Husbuku ini, padahal bekas itu aku menyukainya. Ah iya, apa kau sudah minun susu yang ada di atas meja?"


"Sudah, sekarang aku ingin mengenggam minum susu yang lain."


Alexa tertawa ketika Sean ikut menelusupkan tangannya dibalik piyama dan meremas sesuatu tanpa penghalang apapun itu.


***


"Sean, cepatlah mandi!" teriak Alexa dari dapur. Wanita yang tengah memegang segelas susu itu mendengus kesal ketika suaminya tidak kunjung keluar dari kamar mandi padahal sudah jam 7 pagi.


"Husbu!" panggil Alexa lagi, kali ini dia berdiri di ambang pintu.


"Sebentar lagi Lexa, perut aku sakit banget," sahut Sean seperti menahan sakit.


"Maaf, aku tidak tahu," gumam Alexa setelah Sean membuka pintu.


"Tidak apa-apa, sakitnya hanya ...."


"Jangan kerja hari ini, aku akan beritahu kak Ricard. Kamu harus istirahat dirumah," potong Alexa menarik Sean agar duduk di sofa.


"Lexa, hanya sakit perus biasa sebentar lagi juga sembuh."


"Tidak Sean, kamu sangat pucat!" sentak Alexa.


Wanita itu meninggalkan kamar untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya, tidak lupa membawa kue kering ke kamar untuk Sean makan sebelum minum obat.


"Sayang?"


"Husbu!"


"Hm, baiklah." Dengan terpaksa Sean meminum teh hangat tersebut beserta kueanya, setelah itu meminum obat pemberian dari Alexa.


"Padahal aku tidak sakit keras, tapi Alexa begitu peduli padaku," gumam Sean. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga dipagi hari mendapat perhatian berlebihan dari sang istri.


Ternyata Alexa cuek-cuek bisa khawatir juga.


"Aku hanya punya kelas sampai jam 11 pagi, jadi akan pulang cepat. Jangan masuk kerja atau aku benar-benar marah!" titah Alexa.


"Istirahat yang cukup Husbuku." Alexa mengecup kening Sean sebelum pergi.


***


"Bagimana keadaan kamu Nak? Apa sudah membaik?" tanya Kania pada Serin yang duduk di meja makan.


Wanita itu tiba dirumah saat jam 3 pagi diantar oleh orang suruhan Alexa. Tentu saja dengan perasaan takut juga lapar yang Serin derita.


"Sudah lebih baik tante," sahut Serin mulai menyesap susu buatan Kania. "Ah iya, kata Bunda. Tante punya putri yang seumuran sama Serin, sekarang dia dimana? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Serin pura-pura tidak tahu.


"Lexa? Dia sudah tidak tinggal disini Nak. Dia ikut suaminya dan akan berkunjung di akhir pekan saja."


"Oh sudah menikah ternyata, aku sangat ingin bertemu denganya," ucap Serin. "Dengan suaminya, bukan dengan Alexa," lanjut Serin dalam hati.