
Menjalani keseharian seperti biasanya tanpa banyak drama dan recana licik, membuat hati Alexa lebih tenang dan damai. Wanita itu kini telah sibuk mempersiapkan data-data pengajuan pada beberapa sekolah sesuai jurusan dan keahlinnya sebagai serjana pendidikan Ekonomi.
Bukan hanya itu kesibukan yang Alexa alami, bolak balik pengadilan untuk mengurus kasus perceraian dia juga tangani sendiri sebab tidak ingin merepotkan Sean, terlebih mereka tidak lagi bekerja bersama.
Sejak Alexa keluar dari perusahaan, dia sangat jarang bertemu dengan Sean lagi. Menjadi asing setelah tahu identitas masing-masing, itulah yang terjadi pada keduanya.
"Ugh ... Ternyata mengurus hal-hal seperti ini lelah juga," gumam Alexa meregangkan ototnya setelah lama berkutat dengan layar laptop di dalam kamarnya sendiri.
"Sepertinya tidur sebentar tidak akan membuat gemuk," gumam Alexa. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan perlahan-lahan memejamkan mata.
Namun, deringan ponsel menganggu di saat dia akan terbang ke alam mimpi. Alexa meraba tempat tidur mencari ponselnya. Menjawab panggilan begitu saja tanpa melihat siapa sang penelpon.
"Ada apa?"
"Sayang, aku merindukanmu."
Alexa memicingkan matanya dan memeriksa siapa penelpon tersebut. "Ck," decaknya saat tahu panggilan itu dari pria yang akan menjadi mantan suaminya.
"Aku tidak merindukanmu! Jadi tolong jangan ganggu hidup aku lagi, ngerti?"
"Lexa, beri aku kesempatan satu kali lagi. Kumohon ...." Suara rengekan mulai terdengar.
"Tidak ada kesempatan kedua, bay!" Alexa memutuskan sambungan telpon dan langsung memblokir kontak Ziko.
Hari ini dan seterusnya, Alexa tidak ingin berurusan lagi dengan Ziko yang hanya mempu menghadirkan luka dalam hatinya.
Baru saja meletakkan kembali ponselnya, benda itu kembali berdering.
"Apa dia tidak bisa membuatku hidup dengan tenang?" gumam Alexa mulai kesal.
Wanita itu menjawab telpon dengan amarah. "Sudah aku bilang tidak ada kesempatan kedua untukmu, jadi enyalah sekarang juga!" teriak Alexa.
"Jadi kamu belum bisa memaafkan kesalahanku?"
"Se-sean?" lirih Alexa. Dia menelan salivanya kasar mengetahui bahwa itu adalah Sean. "Bukan seperti itu, aku mengira kau itu Ziko, percayalah!"
"Oh begitu."
"Mau makan siang bersama? Aku ada di lantai bawah."
"Benarkah?" tanya Alexa tidak percaya dan dijawab deheman oleh Sean.
Wanita itu segera keluar dari kamar dan meneliti lantai dasar. Dia tersenyum melihat Sean tengah bersandar di tiang sangat kokoh dekat ruang kerja Ricard.
"Kebetulan aku bosan dirumah," ucap Alexa dan memutuskan sambungan telpon. Dia menemui Sean di lantai bawah.
"Kamu sengaja datang kerumah untuk menjemputku atau ...."
"Mengambil berkas."
"Ternyata aku salah," guman Alexa, tapi tetap saja dia mengikuti langkah Sean keluar dari rumah dengan pakaian santai miliknya.
"Kau tidak mau bersiap-siap?" tanya Sean meneliti penampilan Alexa. Pakaian Alexa memang sudah rapi tapi Sean sedikit tidak menyukainya.
"Hm, lagian hanya makan siang bukan berangkat kerja," jawab Alexa masuk lebih dulu ke mobil Sean. Wanita itu hanya membawa satu benda ditangannya. Yaitu, ponsel.
Apapun akan dia dapatkan hanya dengan benda pipih itu saja, bahkan rumah sakalipun.
"Aku mengira kamu sengaja menjauh karena kejadian hari itu," celetuk Alexa. Cerewet? Itu memang kepribadian Alexa yang sebenarnya, itulah mengapa saat sikapnya berubah menjadi dewasa, Ricard langsung curiga dan menyelidiki masalahnya.
"Aku tidak berniat menjaga jarak, tapi memang banyak pekerjaan, semoga Nona mengerti." Sean mengulum senyum melihat raut wajah Alexa yang tiba-tiba berubah setelah dia memanggil Nona.
"Sean!"
"Aku tidak sengaja," sahut Sean. Pria itu memutar setir kemudi memasuki sebuah restoran yang tidak terlalu ramai akan pengunjung.
"Sengaja atau tidak itu membuatku kesal. Apa kamu lupa kita sangat akrab saat kuliah dulu?" Alexa kembali mengingatkan. Memang dikehidupan sebelumnya Sean dan Alexa cukup dekat, tapi hancur saat Sean berusaha meyakinkan Alexa bahwa suaminya telah berselingkuh.
"Aku ingat tapi rasanya terlalu aneh jika kita terlalu dekat, terlebih ... Ayo turun!" ajak Sean tanpa melajutkan kalimatnya.
Pria itu turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alexa tanpa sadar sejak tadi seorang pria mengikutinya dari belakang.