Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 40 ~ Mimpi buruk


Suara ledakan di tengah jalan mengelegar, membuat siapa yang melihat juga mendengarnya terkejut. Itupula yang dirasakan Alexa yang kini berdiri di pinggir jalan.


"Kak Ricard!" teriak Alexa saat melihat mobil yang telah meledak adalah milik kakaknya.


Tubuh Alexa bergetar hebat, dunianya seakan runtuh detik itu juga mendapati kenyataan yang ada. Dia berlari hendak menerobos api yang telah berkobar membakar hangus mobil milik Ricard.


Namun, tubuhnya langsung dipeluk oleh Sean yang juga berada di lokasi kejadian.


"Kak Ricard tidak mungkin pergi!" teriak Alexa sekencang mungkin, hingga berhasil membangunkan pria yang terlelap di sampingnya.


"Lexa, hey bangun! Kamu kenapa?" Ziko menguncang tubuh Alexa yang telah berkeringat padahal kamar mereka terasa sangat dingin.


"Sayang?"


Mata Alexa terbuka lebar, nafasnya memburu seiring jantung yang berdetak tidak tentu arah.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Ziko langsung memeluk istrinya dan mengelus pundak Alexa yang bergetar hebat.


"Ak-aku tidak apa-apa," lirih Alexa.


Wanita bermata indah itu mendorong tubuh Ziko agar menjauh darinya. Berjalan menuju balkon padahal hari masih gelap sebab baru jam 4 pagi.


Alexa memandangi langit yang sangat indah karena bintang-bintang juga bulan yang menemani.


"Hanya mimpi," gumam Alexa.


"Dingin Sayang." Ziko tiba-tiba datang dan menutup tubuh Alexa dengan selimut tebal.


"Pergilah, aku ingin sendiri!" usir Alexa tidak ingin bicara dengan siapapun hari ini, terlebih pada Ziko. Ziko adalah orang pertama yang dia curigai untuk saat ini, sebab hanya Ziko musuhnya bukan orang lain.


***


Alexa berlari menuruni satu persatu anak tangga setelah rapi dengan setelan kerjanya. Gara-gara mimpi buruk, dia bangun kesiangan.


"Bunda, kak Ricard mana?" tanya Alexa.


"Kakak kamu sudah pergi sejak pagi Sayang. Ayo sarapanlah dulu!"


"Lexa sarapan di kantor saja." Alexa hanya mengecup pipi bundanya kemudian meninggalkan rumah tersebut.


Segala mimpi buruk yang dia alami sering kali menjadi nyata jika tidak di tangani dengan serius. Dan kali ini Alexa tidak akan membiarkan mimpinya menjadi kenyataan menyakitkan.


"Akhirnya Nona datang juga, saya ...."


"Di mana kak Ricard?" tanya Alexa memotong ucapan Sean.


"Ada di ruangannya Nona, kenapa? Apa Nona membutuhkan sesuatu?" tanya Sean.


"Aku bermimpi kak Ricard kecelakaan karena bom di dalam mobilnya. Mungkin itu tidak akan terjadi sekarang, tapi rem blong bisa saja."


"Saya akan memastikan semuanya baik-baik saja Nona. Saya akan memantau pergerakan Jesika dan Ziko," ucap Sean menunduk patuh. "Nona tidak perlu mengkhawatirkan apapun."


"Hm," gumam Alexa.


Wanita bermata indah itu melangkahkan kakinya memasuki lift yang akan membawa dia ke lantai 5, di mana ruangan Ricard berada.


Mengetuk pintu sebelum masuk, itulah yang Alexa lakukan setelah sampai di ruangan kakaknya.


"Kak Ricard?" panggil Alexa.


"Kenapa, hm?"


"Aku kangen." Alexa menghampiri kakanya yang ternyata tengah mengerjakan sesuatu. Memeluk leher Ricard cukup erat seperti takut kehilangan.


"Tumben."


"Kak Ricard nanti kalau mau pergi atau pulang kerumah harus bareng aku ya? Pakai mobil aku, jangan mobil kakak!"


Ricard menaikkan alisnya karena merasa aneh. "Kenapa adik aku tiba-tiba posesif seperti ini hm? Baiklah, kakak akan pulang bareng kamu jadi jangan cemberut lagi." Ricard mengecup pipi Alexa sekilas.


"Awas kalau kakak bohong, dah." Alexa melambaikan tangannya setelah berhasil mengambil kunci mobil Ricard diam-diam. Itulah tujuannya ingin bertemu kakaknya.


Wanita itu memutuskan kembali ke ruangannya untuk mencari tahu siapa saja yang akan berniat jahat padanya. Langkah Alexa terhenti ketika mendengar deringan ponselnya.


"Kau menemukan sesuatu Sean?"


"Iya Nona, saya menunggu anda di ruangan presdir. Kali ini tidak ada campur tangan Ziko sama sekali, melainkan selingkuhannya. Dia baru saja bertemu dengan ketua gangster dan menyuruhnya untuk menyabotase mobil tuan Ricard."


"Berani-beraninya wanita ular itu bermain-main denganku. Mari kita lihat sampai di mana kau bisa bermain." Alexa senyum licik.


Beniat mencelakai kakak tersayangnya? Bagaimana jika yang terluka Ziko? Bukankah pernikahan tidak akan terjadi jika mempelai prianya terbaring di rumah sakit?