
"Pulang!" suara dingin Sean mengintrupsi di ruangan tersebut, bahkan nadanya sampai mengema.
"Sebentar Sean, aku harus tahu apa alasan dia. Ini kesempatan kita." Alexa menghempaskan tangan Sean dan kembali menghampiri Irwan yang telah terkapar di lantai.
Namun, baru saja akan berjongkok, tubuhnya telah melayang karena ulah Sean. Pria itu mengendong Alexa meninggalkan ruangan yang sangat meresahkan. Sean tidak memperdulikan tatapan para pengunjung juga teriakan Alexa yang memaksa untuk diturunkan.
Dia baru menurunkan Alexa setelah sampai di mobil.
Brak
Suara pintu mobil ditutup terdengar sangat kencang, membut Alexa terkejut bukan main. Wanita itu melirik suaminya yang baru saja masuk ke mobil.
"Jalan!" perintah Sean tanpa senyum di wajahnya. Bagaimana tidak, Sean sangat geram saat tahu istrinya menemui Irwan yang jelas-jelas bekerja sama dengan Serin, bukankah itu sangat berbahaya?
Sean rela menghabiskan uang dan banyak waktu daripada harus membuat Alexa mendapatkan masalah hanya karena masalahnya.
Sejak awal kecelakaan terjadi, bukankah yang membawa masalah Sean? Maka pria itu sendiri yang akan menyelesaikannya bukan Alexa.
"Husbu?" panggil Alexa menyandarkan kepadanya di pundak Sean, tapi pria itu urung menoleh.
"Kepala aku pusing karena terlalu banyak minum, aku butuh asupan oksigen untuk bernafas," gumam Alexa yang kesadarannya perlahan-lahan memudar padahal tidak minum terlalu banyak.
Biasanya mau minum berapapun Alexa tidak akan mabuk, tapi sekarang dia sedikit oleng. Apalagi tadi Sean mengendongnya seperti karung beras, itu malah semakin menambah pusing di kepalanya.
"Husbu, aku kencintaimu!" lirih Alexa mendongakkan kepalanya, dia mengelus rahang tegas Sean yang mengeras.
"Cium." Alexa memanyungkan bibirnya dan hendak meraup bibir Sean, tapi pria itu langsung menutup mulut dan hidungnya karena aroma alkohol Alexa sangat menyengat.
"Alihkan kacang spionnya!" perintah Sean dan langsung di laksanakan oleh sopir yang membawa mereka.
"Lexa berhenti bertingkah seperti anak-anak, kita ada dimobil!" cegah Sean ketika Alexa tetap menggodanya, bahkan wanita itu sudah duduk di atas pangkuan Sean.
"Uuggghhhh." Ingin rasanya Sean mengutuk seseorang saat lutut Alexa mengenai belutnya.
"Aku mau muntah, Husbu. Aku muntah di mbawna huek ...." Belum selesai berucap Alexa sudah memuntahkan isi perutnya tepat di jas mahal Sean.
Alexa mengeleng. "Aku tidak masuk, Husbu. Aku sadar tapi sedikit oleng." Dia menyengir tanpa dosa.
Sementara Sean sibuk melepas jasnya juga kemeja yang dia kenakan agar Alexa bisa bersandar tanpa terkena muntahnya sendiri. Tidak lupa Sean mengambil tisu basa yang selalu Alexa bawa kemana-mana untuk membersihkan mulut Alexa.
***
"Entah apa yang terjadi kalau aku telat datang," omel Sean menurunkan tubuh Alexa di atas ranjang. Tanpa istirahat dia mengambil handuk dan membasahinya dengan air hangat. Membasuh seluruh tubuh Alexa setelah melucuti semua pakaiannya.
"Sial, ternyata belutku sangat baperan!" gerutu Sean saat merasakan sesuatu mulai sesak padahal istrinya telah hilang kesadaran setelah muntah.
"Untung saja kau cepat hilang kesadaran, atau kau akan memperk*osaku seperti dua tahun yang lalu." Sean terus mengomeli Alexa. Sementara yang di omeli telah bergabung dengan alam mimpinya.
Setelah mengurus istrinya, Sean ikut membaringkan diri di samping Alexa, memeluk tubuh tanpa tertutup sehelai benangpun selain selimut tebal yang dikenakan.
"Aku bahkan rela meninggalkan pekerjaan yang begitu menumpuk di kantor hanya karemu, Lexa," gumam Sean mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.
Mendengar kabar dari anak buahnya bahwa Alexa menghadiri makan malam bersama Irwan, membuat Sean sangat geram. Selicik apapun seseorang perempuan jika berhadapan dengan minuman dan seorang pria, cepat atau lambat akan kalah juga.
"Tidurlah yang nyenyak, aku akan memberimu kabar baik besok pagi," bisik Sean.
"Istri Sean sangat cantik dan itu membuat Sean sangat posesif." Sean senyum simpul.
"Husbu, aku mau pipis," gumam Alexa.
"Kau mimpi?"
"Cium aku Husbu, aku merindukanmu." Alexa terus saja mengingau dan itu terlihat mengemaskan di mata Sean.
"Berhentilah nengingau Lexa, atau aku akan memperk*osamu sekarang juga," bisik Sean tepat di daun telinga Alexa.
Tidak tahuka wanita itu bahwa sekarang Sean tengah menahan sesuatu karena menghargai istrinya. Tidak ingin menjamah tubuh yang pemiliknya tidak sadarkan diri.