
Alexa melirik Irwan yang tengah membukakan pintu mobil untuknya, sejurus kemudian dia juga melirik mobil sang suami yang terparkir tepat di depan mobil Irwan berhenti.
"Ayo!" ajak Irwan penuh senyuman.
Alexa menganggukkan kepalanya. "Husbu!" panggilnya berlari kecil menuju mobil sang suami tanpa peduli pada Irwan yang kini tengah mengepalkan tangannya karena kecewa.
Kecewa Alexa lebih memilih Sean dibanding dirinya.
"Hah, bahkan suaminya tidak membukakan pintu," gumam Irwan.
Sementara Alexa sama sekali tidak mempermasalahkan tentang pintu mobil yang harus dibuka oleh siapa. Yang terpenting untuk Alexa pria yang dia cintai datang menjemput tanpa memberi kabar lebih dulu.
Diperlakukan seperti itu jauh lebih menyenangkan bagi Alexa.
"Husbu sudah lama menunggu?" tanya Alexa memundurkan sedikit tubuhnya ketika Sean mendekat untuk memasangkan sabuk pengaman. Romantis bukan?
Dengan sigap Alexa mengecup pipi Sean, membuat pria itu menoleh.
"Nantangin?" tanya Sean.
"Kalau iya kenapa?" tanya Alexa balik.
Wanita itu membulatkan matanya tidak percaya ketika Sean langsung meraup bibirnya dan melu*mat dengan kasar. Hanya beberapa menit tapi berhasil meninggalkan rasa kebas di bibir indah Alexa.
"Mau lebih?"
Alexa mengelengkan kepalanya dan membuang pandangan ke jalanan. "Banyak anak-anak diluar," gumam Alexa.
Sepertinya wanita itu sudah kapok dan tidak akan menggoda Sean lagi. Sekarang Alexa selalu kalah karena apa yang dia ucapkan akan langsung dikabulkan oleh sang suami.
"Siapa pria itu? Sepertinya dia suka sama kamu," celetuk Sean mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Husbu sudah lama?" Alexa malah mengulang pertanyaanya.
"Sejak kamu berjalan beriringan keluar menuju parkiran. Enak ya kerja sama pria?"
"Husbu cemburu? Ayolah jangan cemburu seperti ini. Aku hanya mencintaimu dan aku hanya milikmu." Alexa dengan sigap memeluk lengan kekar Sean agar tidak marah lebih lama lagi.
"Aku tidak suka kalau istriku dekat sama pria lain Lexa. Kamu itu terlalu cantik dan menggoda. Nafas saja kamu sudah menbuat orang jatuh cinta," gerutu Sean.
"Ulu-ulu husbunya aku ternyata bisa gombal juga."
Sean menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan, menikmati layar tv yang sedang menayangkan film action. Di atas nakas ada segelas susu coklat yang telah Alexa buat untuknya.
Pria itu melirik ke pintu untuk memastikan yang masuk ke kamarnya adalah Alexa.
"Husbu, kenapa susunya belum diminum? Itu sudah dingin," omel Alexa. Wanita itu merangkak naik ke ranjang dan menyandarkan kepalanyan di pundak Sean.
"Nanti saja kalau mau tidur," sahut Sean. "Darimana?"
"Jawab telpon dari bunda. Bunda mau kita kerumah besok, katanya kangen sama aku."
"Besok aku akan mengantarmu sebelum berangkat. Tidak ada kelaskan?"
"Hm, aku tidak ada kelas jadi bebas mau kemanapun besok." Alexa beralih memeluk suaminya dengan manja. Berada di pelukan Sean adalah tempat ternyaman untuknya.
"Saat aku pulang apartemen sudah bersih dan ada beberapa masakan di dapur. Kamu nyuruh seseorang, Sean?" Alexa mendongakkan kepalanya.
"Hm, setelah kita pergi ada perempuan yang datang untuk membereskan tempat ini dan memasak untuk kita."
"Jangan lagi."
"Kenapa?" Sean melirik istrinya. Tangannya sejak tadi bergerak mengelus rambut lurus Alexa.
"Aku bisa mengerjakan rumah sendiri Sean. Aku bisa masak sendiri dan mengurusmu juga."
"Ck, aku tidak mau istri cantikku ini lelah karena pekerjaan rumah."
"Pokoknya aku tidak mau ada parempuan masuk ke apartemen kita! Apalagi sampai masuk ke kamar kita, titik!" Alexa menyungkan bibirnya.
Sean langsung saja mengiyakan permintaan sang istri. "Baiklah kerjakan rumah sendiri, kalau lelah langsung bilang sama kamu."
Alexa menganggukkan kepalanya membuat Sean gemas dan beralih mengecup kening wanita itu cukup lama. Ah ya Sean hampir melupakan sesuatu malam ini.
"Mana dompet kamu?" pinta Sean menegadahkan tangannya.
"Kenapa memangnya?" tanya balik Alexa, meski begitu wanita itu tetap saja memberikan dompetnya pada Sean.
Dengan sigap Sean membuka dompet mewah milik sang istri. Mengeluarkan seluruh kartu debit maupun kredit di dalam sana dan menyerahkan kembali dempet yang telah kosong.
"Kok diambil? Terus nanti aku belanjan pakai apa Husbu?"