
"Hati-hati makannya, Sean." Alexa buru-buru memberikan air minum pada suaminya. Tidak lupa mengusap sudut bibir itu dengan jari telunjuk.
Bukan hanya Sean yang kaget mendengar nama itu keluar dari bundanya, Alexa lebih kaget tapi memilih bersikap biasa-biasa saja.
Setelah sarapan bersama, Alexa langsung menemui Eca di ruangannya di ikuti Sean di belakang.
"Kau tidak akan ke perusahaan? Kak Ricard akan mencarimu," ucap Alexa tanpa menatap suaminya.
Alexa bergeming saat dia dipuluk dari belakang oleh Sean.
"Kenapa, Husbu?"
"Jangan khawatirkan apapun, aku akan menyelasaikan semuanya sebelum dia membuat masalah," bisik Sean. Pria itu menumpu dagunya di pundak sang istri.
Meski sama-sama khawatir, Sean tidak ingin istrinya mengalami stres hanya karena masalah ini. Walapun masalahnya tidak bisa dibilang kecil, tapi juga tidak terlalu besar.
Yang menjadi penghalang mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak tahu alasan Sarin mengibarkan genderang perang padanya.
"Kau mengira aku takut Sean?" Alexa membalik tubuhnya dan mengalungkan tangan di leher sang suami. Wanita itu mengeleng dengan senyuman. "Aku tidak takut pada apapun bahkan jika Serin muncul dihadapanku. Aku malah senang akhirnya wanita itu muncul di hadapan kita."
"Kau memang pemberani Lexa, aku suka itu." Sean senyum simpul, dia mendekatkan wajahnya untuk mel*umat bibir seksi milik Alexa.
Baru saja Sean akan menyesap lebih dalam lagi, ponselnya mulai berdering cukup memekkan telinga. Alexa tertawa mendegar hal itu, tapi tidak dengan Sean yang merasa terganggu.
"Sudah aku katakan, Husbu. Kak Ricard pasti mencarimu."
"Sepertinya kamu benar, aku pergi dulu my Wife," bisik Sean dan meninggalkan ruangan Eca.
Sementara pemilik ruangan sibuk tiduran di sofa khusus kucing memperhatikan majikannya sedang bermesraan.
Alexa menghampiri Eca dan mengusap bulu-bulu halus nan lebat tersebut.
"Kau merindukanku hm? Maaf aku tidak bisa membawamu bersamaku Eca. Apartemen Husbu hanya mempunyai satu kamar dan aku tidak mau menodai matamu setiap malam." Alexa tersenyum gemas.
"Eca Sayang, sebentar lagi ada orang gila akan tinggal dirumah ini, aku harap kau bisa mengerjainya setiap saat sampai tidak betah tinggal di rumah ini. Dan kau harus ingat ...." Alexa menjeda kalimatnya.
"Jaga Bunda selagi aku tidak ada dirumah ini. Namanya Serin, Eca. Dia wanita gila yang entah cantik atau tidak."
"Pintar banget sih." Alexa beralih mengendong Eca karena sangat gemas pada kucing kesayangannya itu.
Eca seperti mengerti saja apa yang dingingkan Alexa. Kucing manis itu membelai pipi Alexa dengan kakinya tanpa mengelurkan kuku tajamnya.
***
"Kamu yakin akan pergi dan tinggal dirumah tante Kania Nak?" tanya Griya bunda Serin.
"Aku yakin Bunda."
"Kenapa tidak tinggal dirumah ayahmu saja? Bukankah dulu kamu juga tinggal disana saat berlibur?" tanya Griya lagi.
Wanita itu merasa bingung dengan putrinya yang tiba-tiba ingin berkunjung ke Indonesia dan tinggal dirumah Kania.
"Aku tidak suka dengan anak angkatnya yang sok berkuasa itu Bunda," sahut Serin.
Wanita berusia 27 tahun itu menoleh mengharap bundanya. Mengecup pipi Griya sebelum menarik kopernya keluar dari kamar.
"Hati-hati dan tahu sopan santun dirumah tante Kania. Dia mempunyai putri dan putra yang lebih tua meski hanya beberapa bulan saja darimu, jadi kau harus patuh padanya," patuah Griya terus mengikuti langkah putrinya menuju pintu utama.
Sementara Serin diam-diam tersenyum mendengar nasehat bundanya.
"Tunggu aku Sean," batin Serin.
"Aku akan merindukan Bunda." Serin memeluk Griya ketika akan masuk ke mobil yang akan mengantarnya ke bandara.
"Aku akan mengabari Bunda setelah sampai di rumah tante Kania. Sungguh aku juga tidak sabar bertemu dengan putrinya. Menurut cerita Bunda dia pasti sangat cantik dan pintar."
"Dah Bunda." Serin melambaikan tangannya dan hendak masuk ke mobil, tapi tangannya langsung ditarik oleh Griya.
"Kau tidak punya rencana jahat apapun kan Serin? Kau dikirim ayahmu kemari tiga tahun yang lalu karena berbuat ulah di Indonesia. Bunda harap kali ini kau tidak melakukan kesalahan yang akan kau sesali nantinya."
"Ck, Bunda sungguh sangat cerewet. Memangnya apa yang akan aku lakukan di sana? Aku hanya ingin liburan dua atau tiga bulan saja. Lagipula ada Irwan di sana."