Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 140 ~ Merusak bukti kecelakaan


Sepeninggalan Kania, Alexa kembali menghampiri suaminya. Wanita itu mengambil handuk di atas nakas kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membasahinya dengan air hangat.


Setelah dirasa cukup basah, barulah Alexa melap wajah Sean secara perlahan agar terlihat lebih cerah dan tidak seperti orang sakit.


"Suamiku terlalu tampan hingga sakit saja tetap bercahaya," lirih Alexa terus membilas kulit bagian luar Sean.


Wanita itu masih fokus pada keadaan suaminya tanpa memperdulikan siapa yang telah mencelakai Sean. Pikiran Alexa terlalu terbebani hingga tidak berpikir sampai ke sana, terlebih yang wanita itu tahu Serin telah pergi dan dia tidak mempunyai musuh di mana-mana.


"Harusnya hari itu Husbu mengendarai mobil sambil liat lampu lalu lintas, bukan malah bertingkah ceroboh seperti ini. Lihatlah apa yang terjadi sekarang? Kau membuatku menangis tiada henti," omel Alexa dengan bibir mengerutnya.


Wanita itu memutuskan duduk di sisi brangkar setelah tidak tahu harus melakukan apa lagi.


"Ayo bangun, aku bosan duduk sendiri," pinta Alexa menjentik-jentikkan jarinya di pipi Sean.


"Gemes banget sih suami aku, jadi pengen cium." Alexa terus saja bicara sendiri sambil menghibur hatinya yang telah rapuh.


Mungkin orang yang melihat Alexa mengira semua baik-baik saja. Namun, kenyataanya rasa sakit tentu saja masih bersarang di hati Alexa dan akan hilang jika suaminya benar-benar bangun.


Mendengar decitan pintu tidak membuat Alexa menoleh, sehingga pria yang baru saja masuk merasa canggung untuk melanjutkan langkahnya.


"Mendekatlah!" perintah Alexa tanpa mengalihkan perhatiannya dari Sean. Wanita itu tahu ada yang masuk, tapi memilih acuh.


Pria itu melangkah mendekat dan berdiri di sisi lain brangkar.


"Maaf baru bisa menemui Nona sekarang, maaf pula karena tidak becus menjaga Tuan," imbuh orang kepercayaan Sean dan Alexa.


Sebenarnya pria itu masih ragu untuk datang sekarang karena mengira Alexa masih berduka. Dengan menbicarakan kecelakaan, akan membangkit luka lama yang belum mengering sepenuhnya.


Namun, pria itu juga tidak ingin memendam semuanya sendiri setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Kejadian beberapa hari yang lalu bukan murni kecelakaan Nona, melainkan sebuah rencana pembunuhan."


Alexa langsung mendongakkan kepalanya menatap pria yang selalu identik dengan topi juga hansaplast di kening sebelah kiri. Entah ada luka apa disana hingga hansaplast tidak pernah lepas setiap mereka bertemu.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Alexa dengan wajah dinginnya.


"Serin, Nona. Sebenarnya Serin ingin mencelakai Nona tapi salah sasaran karena hari itu yang mengendarai mobil Nona, adalah tuan Sean. Maaf seharusnya saya tidak melakukan kesalahan seperti ini." Sesal pria bertopi itu. Harusnya dia lebih cepat beberapa menit agar Sean yang begitu baik padanya tidak mengalami kecelakaan dan terbaring di rumah sakit.


"Semua bukti sudah saya kumpulkan Nona, termasuk keterlibatan Ziko dalam kecalakaan ini."


Alexa mengangguk tanpa ingin meluarkan kalimat apapun. Antara kaget dan tidak mengetahui dalang dalam kecelakaan Sean adalah Serin dan Ziko. Tidak perlu kaget jika dua orang itu berulah, karena dua-duanya memang selalu mencari keributan. Yang membuat Alexa kaget hanya keberadaan Serin yang ternyata masih ada di indonesia.


"Saya harus melakukan apa dengan bukti ini Nona? Menyerahkan pada polisi atau ...."


"Tungguh perintah dari saya!" Akhirnya Alexa mengeluarkan suara setelah lama terdiam. "Di mana Serin sekarang berada?"


"Villa selatan, dia tinggal sendirian setelah melarikan diri dari ayahnya."


"Pergilah!"


Pria bertopi itu mengangguk dan segera mengundurkan diri dari hadapan Alexa. Sampai mendapatkan perintah dari bosnya, dia akan mengamankan bukti agar tidak dihancurkan oleh siapapun.


Sebenarnya polisi bisa saja mendapatkan bukti dengan mengambil remakan CCTV di tempat kejadian, hanya saja orang suruhan Alexa dengan cepat mengambil bukti dan merusak semua bukti agar polisi tidak mempercepat proses penahanan.


Ini orang suruhan Sean dan Alexa lakukan karena belum mendapat perintah apapun dari orang yang telah menolong dirinya juga orang tuanya dari kematian akan rasa lapar.


"Aku berhutan budi pada Tuan Sean, maka aku akan mengabdi padanya sampai kapanpun itu bahkan tanpa dibayar sekalipun," lirih Pria bertopi sambil memandangi bosnya dari celah jendela.