Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 144 ~ Aku muak!


Suara tamparan mengema di dalam sebuah ruangan yang terlihat sangat galap. Tamparan keras dari Alexa berhasil menyadarkan Ziko yang baru saja terlelap setelah disiksa habis-habisan oleh anak buah Sean.


Pria itu mengerjap perlahan dan tersenyum pada Alexa tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Aku senang kau sehat dan ...." Ziko tidak dapat melanjutkan kalimatnya, karena sebuah tamparan kembali mendarat di pipi kirinya.


"Dasar pria gila! Beraninya kau mencelakai suamiku!" bentak Alexa dengan tangan terkepal. Tatapan permusuhan wanita itu layangkan sebab sangat geram pada Ziko.


Andai saja hari itu Ziko tidak mengempeskan ban mobil Sean, maka suaminya tidak akan kecelakaan.


"Aku hanya ingin menyelamatkan nyamu Lexa, apa itu salah? Harusnya kau ...."


Tidak, kali ini bukan tamparan dari Alexa yang membuat Ziko terdian, melainkan pukulan keras dari Ricard yang baru saja datang setelah tahu keberadaan adik kesayangannya.


"Dasar pria tidak berguna, harusnya sejak dulu aku tidak membiarkanmu hidup!" geram Ricard. Pria itu melepaskan ikatan di tubuh Ziko dan menghujani Ziko dengan pukulan bertubi-tubi.


Sementara Alexa mundur perlahan untuk menjaga jarak kalau saja terkana pukulan dari salah satu orang tersebut.


Penyebab utama kecelakaan tentu saja Ziko. Andai pria itu tidak bersikap seperti pahlawan, maka tidak ada kecelakaan yang terjadi.


Sejak dinyatakan hamil, Alexa hampir tidak pernah mengendarai mobilnya lagi karena laragan dari Sean. Maka otomatis mobil putih yang kini telah berada di tempat rongsokan tidak akan memakan korban.


"Kembalilah kerumah sakit Lexa, biarkan kakak yang mengurus pria bajingan ini!" teriak Ricard yang masih mempunyai dendam dengan mantan adik iparnya, terlebih setelah Ziko berani melukai orang yang sangat dia percayai.


Alexa menganggukkan kepalanya paham, wanita itu keluar dari ruangan gelap dan menemui kaki tangan Sean yang berada di ruang tamu bersama beberapa orangnya.


"Urus saja Serin dan Ziko, saya bisa pergi sendiri," cetus Alexa menenteng tas tangannya keluar dari rumah yang terlihat menyeramkan tampilan luarnya.


Wanita itu memesan taksi agar bisa sampai di rumah sakit tanpa mengeluarkan banyak tenaga lagi. Rasa pusing di kepalanya belum juga mereda padahal sudah makan dan minum vitamin dari dokter kandungan.


Alexa menghela nafas panjang setelah sampai di ruang perawatan suaminya, wanita itu mendudukkan diri di sisi berangkar setelah mengecup kedua pipi Sean.


"Maaf aku meninggalkamu terlalu lama. Aku baru saja menemui orang yang telah membuat kamu terbaring dirumah sakit," lirih Alexa.


"Cepatlah bagun Sayang, aku membutuhkan pelukan darimu. Aku merindukan segala omelan juga sentuhanmu," lanjut Alexa dengan mata berkaca-kaca.


Wanita itu mendongak itu menghalau air matanya agar tidak tumpah, tapi usahanya sia-sia karena bulir-bulir bening itu mulai berjatuhan membasahi pipi dan tangan Sean.


Tangan itu bergerak perlahan, tapi pemiliknya urung membuka mata. Pria itu seakan-akan ingin menyahuti semua curhatan istrinya, tapi otaknya tidak bisa berfungsi dengan normal sehingga saraf-sarafnya terasa kaku.


"Sampai kapan kau akan membuatku menunggu sendirian, Husbu? Apa kamu tega membuat aku menangis tanpa sandaran?" Alexa mengusap air matanya kasar dan meraih tangan Sean yang tadinya bergerak.


Wanita itu menciumi jari-jari tangan Sean berulang kali. "Bangun Sayang! Aku sangat ingin makan nasi goreng buatan kamu. Bukannya selama ini kamu selalu tidur larut karena menunggu permintaan aneh-anehku?"


Alexa terus merancau tanpa henti hanya untuk menyalurkan rasa sepi yang hinggap dihatinya setelah kecelakaan Sean. Dunia Alexa benar-benar tidak baik-baik saja.


"Aku sangat ingin makan jambu, tapi harus kamu yang beli, Sean. Memangnya kamu mau kalau anak kita ileran karena ayahnya tidur mulu tanpa tahu kapan akan bangun?"


"Sean? Aku digoda banyak pria diluar sana, apa aku pilih salah satu dari mereka saja? Aku muak terus melihatmu malas-malasan seperti ini, seharusnya kau bangun dan bekerja untukku!"


"Sean!" bentak Alexa "Apa kau benar-benar tidak ingin menuruti keinginan aku hah? Baiklah aku marah padamu!" Alexa beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi.


Suara tangisan wanita itu kembali menuhi kamar mandi karena belum terbiasa dengan kondisi suaminya.