Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 184 ~ SMK Angkasa


Setelah menjemput dan mengantar anak-anaknya pulang kerumah bunda Kania, Sean akhirnya sampai juga di sekolah SMK Angkasa dimana tempat istrinya tengah mengajar sekarang.


Pria itu berjalan dengan wajah datarnya menyusuri koridor sekolah yang tampak ramai, karena Sean datang diwaktu istirahat.


Tatapan Sean tertuju pada wanita cantik yang sedang di kerumuni oleh siswa di dekat lapangan outdor. Entah bernyanyi bersama atau sekedar seru-seruan dengan gitar.


Sean hendak menghampiri wanita cantik tersebut, tapi tangannya malah ditarik oleh Arya.


"Tuan, ruangan kepala sekolah ada di ujung koridor dekat aula," ucap Arya memperingatkan. Sebenarnya pria itu tahu Sean mau kemana, tapi dia berusaha mengingatkan agar tidak macam-macam di sekolah yang banyak anak-anak.


"Saya tahu!"


"Lalu kenapa Tuan ingin berjalan ke arah lapangan?" Arya mengulum senyum.


"Kau mau mati!"


"Saya bercanda Tuan, mari!" Tidak ingin mencari penyakit lagi, akhirnya Arya berhenti mengoceh. Terlebih aura-aura Sean sepertinya sedang cemburu pada remaja yang pantas menjadi keponakan Alexa.


Jika Sean sedang dibakar api cemburu, maka berbeda dengan Alexa yang asik menikmati waktu istirahat bersama anak-anak didiknya, tanpa menyadari keberadaan sang suami.


Toh Sean tidak pernah bercerita bahwa akan menjadi penyuntik dana tetap di sekolah tempatnya mengajar.


"Sepertinya cukup sampai di sini, ibu mau keruang guru dulu." Alexa lantas berdiri setelah anak-anak didiknya usai menyanyikan dua lagu untuknya.


Wanita itu sebenarnya bukan ingin ke ruang guru, melainkan kanting untuk makan siang sebab cacingnya sejak tadi konser dadakan.


Langkah Alexa memelan saat akan melewati mading sekolah, membaca papan pengumuman yang dikhususkan untuk siswa.


"Turnamen basket antar sekolah?" Sepertinya anak-anak harus ikut."


Dengan sigap Alexa mengambil gambar dan mengirim ke grup kelasnya. Seketika grup chat itu ramai akan respon siswa laki-laki yang berminat dalam bidang basket.


"Bu Lexa!" Alexa menoleh ke sumber suara dan mendapati guru olahraga khusus basket menghampirinya.


"Sudah membaca pengumuman? Saya harap anak didik bu Lexa bersedia ikut kali ini," ucap Ricky guru olahraga di SMK Angkasa.


Jika Alexa mau, menjadi selingkuhan wanita cantik dihadapannya juga tidak masalah. Terlebih tujuan Ricky menjadi guru selain ingin membagi ilmu, pria itu berencana mencari istri. Tidak masalah jika siswanya sendiri.


"Sudah, saya akan membujuk anak-anak untuk ikut. Semangat pak Ricky!" Alexa mengepalkan tangannya sambil tersenyum tanpa menyadari Sean yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah melihatnya.


"Terimakasih semangatnya Bu Lexa, mari." Ricky menunduk hormat lalu meninggalkan Alexa seorang diri. Menggoda? Tidak ada sejarahnya seorang Ricky menggoda seseorang wanita, jika sebaliknya mungkin.


"Berani-beraninya dia menggoda istriku!" Tangan Sean mengepal hebat, langkah lebarnya semakin mendekati Alexa yang masih setia berdiri di depan mading. Dengan sigap pria itu menarik tubuh istrinya memasuki sebuah ruangan olahraga lumayan gelap.


"Siapa kamu!" teriak Alexa memberontak.


"Sssstttttt diamlah!"


"Husbu?"


"Hm."


Lantas saja Alexa meraba dinding ruang olahraga sehingga ruangan yang semula gelap kini terang benderang. Wanita itu menatap tajam suaminya. Sangat marah dikagetnya padahal sedang lapar.


"Kenapa Hubus ada di sini? Jangan bilang sedang memata-mataiku!" Todong Alexa.


"Kenapa? Salah menguntiti istri sendiri, hm?"


"Banget!"


"Sebaiknya kamu berhenti mengajar Lexa. Aku tidak suka ada pria yang mengajakmu bicara. Apalagi tadi, kau bahkan tersenyum pada guru olahraga tersebut!" Tentu saja Sean tahu kalau Ricky guru olahraga, karena pria itu tadi menggunakan seragam olahraga.


"Husbu plis deh! Yang namanya bekerja tentu saja kita akan banyak bicara pada seseorang terlebih lawan jenis!"


Alexa berkacang pinggang setelah berhasil meloloskan diri dari cengrakam suaminya. Entah sampai kapan posesif suaminya menghilang.


"Aku cemburu." Sean melunakkan tatapannya ketika melihat tatapan Alexa yang tidak kalah tajam. "Sayang, hati aku sakit setiap kali ...."


"Ck, sudah punya anak tiga juga, masih saja cemberuan. Ayo keluar, jangan sampai dilihat siswa!" Menarik tangan Sean keluar dari ruang olahraga