
Tidur nyeyak Alexa bersama Raymond harus terganggu karena teriakan Serin yang lumayan nyaring. Semua penghuni rumah langsung berkumpul di ruang keluarga, termasuk Alexa sendiri.
Wanita bermata indah itu mendekati suaminya yang berdiri di belakang sofa. "Ada apa Husbu?" tanyanya memeluk lengan sang suami, sementara Eca dan Eri telah hilang entah kemana setelah melukai seseorang.
"Eca dan Eri melukai Serin."
"Baguslah, kedua baby aku memang berbakti." Alexa senyum simpul dan memperhatikan Serin yang tengah ditangani oleh pelayan sebelum dokter datang.
Darah di tangan juga pipi berhasil dibersihkan, tapi tetap saja darah segar masih mengalir. Alexa meringis melihat hal itu, bukan dia yang mengalami tapi tubuhnya terasa ngilu membayangkan betapa perihnya luka diwajah Serin.
"Ricard, tolong gendong Ray aku mau mengobati luka Serin dulu," ucap Delia, tapi langkah wanita itu berhenti karena tarikan Alexa.
"Tidak perlu terlalu baik pada orang tidak tahu malu kak. Eca tidak melukai orang sembarangan," ucap Alexa.
"Tapi Lexa, bagaimanapun dia adalah ...."
"Ck ada pelayan dan dokter yang menanganinya," decak Alexa dan menarik Delia meninggalkan ruang tamu.
Untung saja Kania sedang tidak ada dirumah, jadi tidak ada yang membela Serin untuk saat ini.
Dua pasangan romantis itu berkumpul di lantai dua tanpa memperdulikan tangisan Serin di lantai bawah.
"Apa yang terjadi?" tanya Alexa pada Sean. Dia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami tanpa peduli bahwa disana ada Ricard dan Delia.
"Dia berusaha menggodaku," bisik Sean agar tidak bisa didengar oleh orang lain.
"Pantas saja Eca marah. Eca tidak mungkin membiarkan ayahnya digoda oleh wanita jalan*g seperti Serin." Alexa senyum simpul dan semakin mengeratkan pelukannya.
Rasanya sangat bahagia Serin terluka saat akan menggoda suaminya. "Kau tidak akan bisa merebut Sean dariku Serin," batin Alexa.
"Mau tidur, hm?" tanya Sean. Alexa mengangguk, membuat Sean dengan sigap mengendong tubuh Alexa.
"Aku ke kamar dulu," izinnya pada Ricard dan dibalas anggukan begitu saja.
***
"Ya ampuan Nak wajah kamu kenapa?" tanya Kania yang baru saja datang. Wanita itu duduk di samping Serin yang pipinya telah diperban.
"Dicakar sama kucing Tante. Sakit banget," adu Serin langsung memeluk Kania.
"Eca Bunda," jawab Alexa ikut bergabung di sofa, sementara Sean berada di taman belakang bersama Eca dan Eri, mereka akan pulang karena hari hampir gelap.
"Lexa, harusnya kamu tidak membiarkan ...."
"Bunda mau menyalahkan Eca karena telah melukai Serin? Apa Bunda lupa kalau Eca tidak melukai sembarang orang? Eca hanya melukai yang menurutnya pantas saja," potong Alexa tidak sudi jika kucing kesayangannya di salahkan begitu saja.
Kania menghela nafas panjang, apa yang dikatakan Alexa ada benarnya. Eca tidak melukai orang begitu saja.
"Seharusnya dengan kejadian ini Bunda bisa membuka mata kalau yang selalu terlihat benar belum tentu benar," lanjut Alexa.
Wanita itu mendekati bundanya dan mengecup kedua pipi Kania. "Lexa dan Sean ada urusan penting jadi harus pulang sekarang Bunda. Wekend nanti Lexa akan berkunjung lagi, semoga tidak ada drama dirumah yang tenang ini saat aku kembali."
"Hati-hati Nak," balas Kania mengelus punggung putrinya.
Wanita paruh baya itu berdiri untuk mengantar kepergian Alexa dan meninggalkan Serin begitu saja. Serin memang berhasil mengendalikan Kania, tapi dia belum mampu membuat Kania membenci Alexa. Sebab bagaimanapun kondisinya, darah lebih kental dari air.
"Sean, jaga Lexa baik-baik ya nak." ucap Kania menepuk pundak menantunya.
"Pasti Bunda."
"Bunda?" panggil Alexa.
"Kenapa?"
"Semoga Bunda menyangi Kak Delia seperti Bunda menyayangi Sean dan Serin."
"Maksud kamu apa Nak? Bunda tidak pernah membeda-bedakan mereka."
"Mungkin seingat Bunda. Kak Delia sudah pasti istri kak Ricard dan ibu dari Raymond, tapi Serin? Wanita itu bahkan tidak punya hubungan darah dengan kita. Ibunya hasil anak selingkuhan, tidak menutup kemungkinan anaknya akan melakukan hal yang sama," ucap Alexa dan masuk ke mobil.
Sementara Kania bergeming memikirkan ucapan putrinya. Selama ini Kania tidak sadar telah membeda-bedakan Serin dan Delia.
...****************...