Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 132 ~ Bukti ketelibatan Serin


Melihat Alexa berdiam diri di dalam kamar dengan tatapan kosongnya, membuat Sean sedikit penasaran apa yang tengah wanita itu pikirkan.


Seang menghampiri Alexa, meletakkan segelas susu ibu hamil di meja memudian duduk tepat di samping sang istri.


"Kenapa istri aku melamun hm? Banyak pekerjaan di sekolah?" tanya Sean mengelus rambut Alexa.


Yang di elus segera menolehkan kepalanya, tidak lupa melempar senyum. Alexa merubah posisi duduknya menjadi bersandar di dada bidang sang suami.


"Aku kepikiran sama Ziko," lirih Alexa memainkan tangannya di kancing kemeja Sean. Pergerakan tangan itu berhenti sebab Sean menahannya.


"Ziko? Kamu mikirin Ziko saat aku ada di samping kamu, Lexa?" tanya Sean langsung menjauhkan diri dari istrinya.


Tatapan tajam Sean perlihatkan karena kesal Alexa memikirkan Ziko yang jelas-jelas telah menjadi masa lalu. "Sana, tidak perlu meluk-meluk aku lagi. Percuma kalau hatinya masih sama mantan suami," gerutu Sean menyingkirkan tangan Alexa yang hendak memeluknya.


Namun, Alexa tidak menyerah untuk memeluk Sean, toh dia tidak salah dan ucapannyapun masih setengah jalan. Memang dasarnya Sean sajalah yang otaknya perlu disucikan.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu cemburuan banget sih, Husbu? Apa-apa pasti cemberut, marah kalau aku dekat sama pria lain. Kamu tidak percaya kalau aku hanya mencintaimu hm?" tanya Alexa menumpu dagunya di pundak sang suami.


"Karena kamu sangat cantik dan hampir mendekati sempurna, akan banyak pria yang tergila-gila padamu Lexa," sahut Sean masih dengan wajah cemberutnya.


Sontak saja Alexa tertawa terpingkal-pingkal, tidak menyangka suaminya akan betingkah seperti anak kecil hanya karena cemburu saja. Dia menangkup kedua rahang Sean dan mengecup bibir milik suaminya beberapa kali.


"Husbu aku yang palinggggg tammppaaan .... Sekang aku hanya milikmu dan akan menjadi ibu dari anak-anakmu lalu apa yang ditakutkan hm?"


"Kamu tidak mau hamil kembar lima!"


"Sean!" pekik Alexa tertahan. Masih saja suaminya membahas hamil kembar lima. Memangnya mereka akan membuat tim basket? Kenapa tidak sekalian saja membuat tim sepak bola? Kembar 11.


"Bilang iya dan aku tidak akan marah lagi!"


Alexa menghela nafas panjang dan akhirnya menganggukkan kepala agar suaminya tidak marah lagi. Sungguh kekanak-kanakan.


"Aku mau hamil anak kembar lima darimu, Husbu," imbuh Alexa kembali memeluk suaminya.


"Gemes banget istri aku kalau nurut kayak gini." Sean menguyel-uyel pipi Alexa gemas.


"Kenapa mikirin Ziko?" tanya Sean saat teringat kembali pembahasan awal mereka.


"Hanya itu?" Alia Sean terangkat.


"Iya hanya itu, aku takut kamu terluka, Hubus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup aku tanpamu," lirih Alexa.


"Aku lebih takut kehilangan kamu," bisik Sean ditelingan istrinya. "Yakinlah tidak akan terjadi sesuatu pada kita."


Hening melanda mereka setelah pembahasa berakhir. Hanya tangan yang saling berebut ingin mengelus perut di mana di dalamnya terdapat nyawa.


Kadang Alexa memindahkan tangan kekar Sean karena geli, kadang Sean memindahkan tangan Alexa sebab ingin lebih akrab dengan calon anaknya.


"Bisa tidak Husbu mengalah saja?" kesal Alexa.


"Bisa tidak kamu saja yang ...." Sean yang hendak membalik kalimat Alexa mengurungkan niatnya saat ponsel di atas meja berdering.


Sean segerak menjauhkan tangannya dari perut sang istri dan menerima telpon dari orang suruhannya.


"Kenapa?" tanya Sean.


"Nona Serin telah berangkat siang tadi Tuan, dan saya baru menemukan bukti pertemuan antara pelaku kecelakaan dan Serin. Mereka bertemu di tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya," jelas orang suruhan Sean di seberang telpon.


"Di mana?"


"SMK Angkasa Tuan. Saya harus apakan bukti tersebut?"


"Simpan dengan aman, lagipula dia telah pergi."


"Baik Tuan."


Sean kembali meletakkan ponselnya setelah sambungan telpon terputus. Pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya, yaitu mengelus perut sang istri.


"Siapa, Husbu?" tanya Alexa.


"Orang suruhan kita, katanya bukti keterlibatan Serin sudah ketemu."


Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Biarlah, lagian Serin sudah pergi, aku juga kasihan sama kondisi mentalnya untuk saat ini."