Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 159 ~ Hasil USG


Senyuman Sean merekah sangat lebar saat membuka matanya dan mendapati Alexa masih tidur di pelukannya. Pria itu tidak membuang waktu untuk mengecup kening Alexa cukup lama.


Setelah berdebat cukup lama semalam, akhirnya Sean menyetujui untuk melakukam operasi meski resikonya sangatlah berbahaya. Entah mengalami strok atau kematian.


"Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu dan anak kita," bisik Sean tepat di telinga Alexa, membuat wanita itu sontak membuka matanya.


Sama seperti Sean, Alexa juga tersenyum cerah. Menumpu dagunya tepat di dada bidang sang suami. "Hari ini kita ketemu dokter Harun untuk membicarakan operasi dan kapan waktu tepatnya akan dilakukan," imbuh Alexa.


Sebenarnya wanita itu mengalami ketakutan yang sama dengan Sean, hanya saja ini satu-satunya cara agar Sean bisa pulih jika beruntung.


"Semangat ya Sayang, baby-baby kita membutuhkan kalian nanti," gumam Alexa.


Wanita itu segera turun dari ranjang lalu mencepol rambutnya asal. Membuka tirai agar cahaya matahari masuk ke kamarnya.


"Kita jalan-jalan setelah bertemu dokter Harun mau? Sekalian USG, aku sangat ingin melihat anak kita sebelum operasi," bujuk Sean yang masih duduk di atas ranjang sebab sulit bergerak tanpa bantuan dari Alexa.


Alexa lantas menganggukkan kepalanya. "Aku akan menuruti semua keinginan Husbu hari ini," sahut Alexa menghampiri suaminya.


Wanita itu membantu Sean untuk duduk di kursi roda yang ada di sisi ranjang, setelahnya mendorong menuju balkon kamar untuk berjemur sebentar.


"Tunggu disini Sayang, aku akan mengambil sesuatu untukmu." Sebelum pergi Alexa mengecup bibir Sean, membuat pria itu tersenyum.


Hati Sean tiba-tiba menghangat mendapatkan perlakuan Alexa yang tidak lagi kesal padanya. Ternyata memang benar, masalah akan terasa ringan jika dibagi dengan seseorang meski tidak bisa membantu banyak.


"Semangat Sean, jangan tanamkan keraguan dalam dirimu. Kau harus bisa kembali untuk istri dan anak-anakmu!" Sean mengepalkan tangannya memberi semangat pada diri sendiri, tanpa pria itu sadari sejak tadi Alexa menyaksikanannya.


Wanita itu meneteskan air mata tanpa sadar melihat punggung kekar suaminya. "Semangat Husbu, aku yakin kau tidak akan meninggalkan aku dan anak kita," batin Alexa mengusap air matanya kasar.


***


Sean dan Alexa dengan seksama mendengar penjesalan dokter Harun tanpa ada lagi yang disembunyikan. Sean juga telah melakukan beberapa tes dari dokter Harun sebagai kelayan untuk melakukan operasi.


Alexa lantas mengenggam tangan Sean untuk menenangkan hatinya sendiri saat dokter Harun setuju untuk melakukan operasi meski resikonya cukup berbahaya.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok. Saya sarahkan keselamatannya ditangan Dokter," imbuh Alexa penuh pengharapan.


Dokter Harun menganggukkan kepalanya, dari hasil pemeriksaan kondisi tubuh Sean sangatlah sehat. Bahkan patah tulang yang Harun kira akan membutuhkan waktu lama untuk pemulihan malah berjalan lebih cepat.


Bisa dibilang imun Sean terlalu kuat untuk dimasuki virus-virus atau penyakit saki sehatnya tubuh pria itu.


"Terimakasih dok," kata Sean sebelum pergi.


Sepasang kekasih itu segera meninggalkan dokter Harun dan berjalan menuju ruangan dokter Obgyn untuk melakukan USG lebih dulu.


Sepanjang jalan tangan Sean dan Alexa tidak pernah terlepas satu sama lain, membuat Arya yang dengan setia mendorong kursi roda merasa iri melihatnya.


"Ternyata keputusan aku tidak salah, kejujuran selalu membawa jalan kebaikan meski menyakitkan," batin Arya. Awalnya pria itu menyesal memberitahukan penyakit Sean pada Alexa ketika mendengar keduanya bertengkar.


Tapi sekarang pria itu malah bersyukur. Langkah Arya berhenti di depan ruangan dokter Obgyn.


"Saya akan menunggu disini Nona," cetus Arya.


Alexa menganggukkan kepalanya, beralih mendorong kursi roda memasuki ruangan. Seperti biasa sebelum melalukan USG, Alexa akan sedikit bercerita dengan dokter tentang keluhanya dan memeriksakan kesehatan juga tekanan darah.


"Tekanan darah dan berat badan normal Nona, mari kita melakukan USG. Sepertinya baby-babynya sangat sehat melihat calon ibunya juga sehat," celetuk sang dokter menuntun Alexa menuju brangkar.


Sean yang melihatnya segera mendekat dan duduk di sisi brangkar memperhatikan layar monitor yang mulai menimbulkan suara-suara kegaduhan setelah dokter menempelkan alat di perut Alexa usai diolesi gel yang entah apa namanya, Sean tidak tahu.


"Ketiga calon bayi Nona sehat semua, lihatlah." Dokter menujuk layar monitor dimana tatapan Sean sejak tadi tidak beralih.


Hati Sean terasa menghangat melihat tiga kantung di dalam perut Alexa. Rasanya masih tidak percaya dia akan menjadi seorang ayah.


"Kamu harus kuat demi mereka Sean," batinnya.