
Serin semakin menatap nyalang ayahnya sambil memegang pipinya yang terasa kebas setelah ditampar oleh pria yang menjadi cinta pertamanya dulu.
"Ayo tampar lagi! Tampar sepuas ayah biar perasaan ayah lega!" desak Serin menarik tangan Jackson yang telah bergetar setelah menampar pipi putrinya.
"Ayah!"
"Serin cukup!" bentak Jackson. "Kau memang anak tidak berguna, ayah menyesal telah menjadi ayahmu!"
Duar, bagai disambar petir di siang hari. Tatapan Serin semakin mengelap, memang selama ini tidak ada yang pernah mengerti dirinya.
"Aku juga tidak pernah meminta untuk lahir sebagai putrimu!" teriak Serin sekencang mungkin hingga terdengar sampai keluar kamar.
"Kau selama ini tidak pernah mendukung apa yang aku inginkan. Dua tahun yang lalu alih-alih menutup scandal dan meminta Sean menjadi kekasihku, kau malah mengirim aku ketempat bunda!" tunjuk Serin pada Jackson.
"Caramu salah Serin! Kau telah mempermalukan diri sendiri. Apa kau sadar selama ini telah menjual harga dirimu sendiri?" Jackson berusaha mendakati putrinya, tapi Serin terus mundur hingga pinggangnya mentok pada nakas.
"Apa pedulimu tentang harga diriku Tuan Jackson! Kau tidak lebih dari orang asing di dalam hidupku. Hubungan kita telah berakhir sejak kau mengatakan menyesal menjadi ayahku, dan kau mengulanginya sampai tiga kali dua tahun yang lalu." Serin mengarahkan pisau buah pada ayahnya.
Sekarang wanita itu benar-benar telah gila karena obsesinya pada Sean bercampur dengan luka atas perpisahan orang tuanya yang tidak pernah Serin ingingkan selama ini.
"Cukup Serin, ikuti kata ayah! Pergilah bersama bundamu dan jangan kembali lagi. Keberadaanmu di negera ini hanya membuat dirimu sendiri malu Nak."
"Aku bukan putrimu!" teriak Serin. "Berhenti melangkah atau aku akan menusukmu Tuan Jackson!" ancam Serin tanpa ingin mengendurkan uluran tangannya padahal Jackson terus saja melangkah mendekat.
Satu sentil lagi pisau itu mengenai dada Jackson, seorang pengawal langsung menendangnya hingga menancap dia atas bantal.
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Saya yang akan mengurus Nona Serin," imbuh sang pengawal yang umurnya lebih tua dua tahun dari Serin.
Pria paruh baya itu sangat kecewa mendengar putrinya mempermalukan diri sendiri hanya karena seorang pria, itulah mengapa Jackson kelepasan mengatakan kalimat keramat yang sangat dibenci oleh semua anak di dunia ini.
Apalagi berita yang sedang menyebar semakin membuat Jackson terpukul. Pria itu mengira putrinya telah hidup dengan damai bersama mantan istrinya, ternyata malah tinggal dirumah yang merupakan saingan bisnis.
Lagi, berita Serin menggoda suami orang dan melakukan aborsi berulang kali membuat hati Jacksok cukup terpukul.
Jackson menjatuhkan tubuhnya di dalam kamar karena rasa sakit yang tiba-tiba menikam dadanya. Detakan jantung yang tidak beraturan juga rasa sakit seperti ditikam ribuan pisau, kembali pria paruh baya itu alami.
"Harusnya disaat-saat seperti ini kaulah yang ada di samping ayah, Serin," gumam Jackson menahan rasa sakitnya seorang diri.
Hanya dokter, Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu tentang penyakit jantung yang dia terima, hingga semua kekayaan yang dia miliki dialihkan atas nama Serin sebagai anak kandungnya. Sayangnya, Serin terlalu gila dengan pria yang tidak mencintainya.
***
Alexa berjalan dengan membawa sebotol ang*gur mer*ah juga gelas di tangannya. Wanita berbadan dua itu bersenandung ria menapaki anak tangga.
Alexa baru saja dari gudang mengambil minuman untuk menemani malam-malam mereka di dalam kamar.
Tepat saat Alexa membuka pintu, dia mendapatkan tatajam tajam dari pria yang sejak tadi duduk di sisi ranjang menghadap pintu.
Alexa tersenyum dan melangkah mendekati suaminya. Meletakkan ang*gur mer*ah juga gelas di atas meja dan naik kepangkuan sang suami.
"Lunakkan tatapanmu Sayang, atau kau akan tidur diluar malam ini," bujuk Alexa memainkan jari-jari tangannya di rahang tegas Sean. Malam ini Alexa benar-benar liar menurut Sean.
"Siapa yang menyuruhmu mengambil minuman hm? Kau ingin membunuhku perlahan-lahan karena mengkhawatirkanmu?" balas Sean berbisik di telinga Alexa. Bukannya takut, Alexa malah tertawa terpingkal-pingkal.