
Sean terus mengerakkan tubuhnya, hingga keringat mulai bercucuran yang semakin menambah ketampanan pria itu. Semakin lama, pegerakannya semakin cepat untuk memaksimalkan kekuatan.
Hingga pada akhirnya dia memencet tombol untuk mematikan Treadmill yang dia gunakan itu.
Sean duduk di salah satu bangku dan menengus air yang dia bawa tadi. Hari minggu seperti ini memang Sean sering kali menghabiskan waktunya di Gym agar lebih bugar dan sehat.
"Kenapa? Apa sudah ada informasi tentang pelakunya?" Sean menghidupkan Earphone yang melekat di telinganya sejak tadi.
"Belum Tuan, sepertinya dia juga bukan orang sembarangan dilihat bagaimana dia menutupi jejak dengan baik," ucap seseorang di seberang telpon.
"Saya tidak mau tahu, kau harus menemukan orang itu sebelum pernikahan saya dimulai!"
"Baik Tuan."
Sean melempar Earphone di telinganya asal karena sangat kesal. Entah siapa lagi yang mencari masalah dengannya, yang Sean takutkan orang itu malah menganggu kehidupan Alexa.
"Sean!"
Sean menoleh ke sumber suara dengan senyuman menawannya. "Aku sudah bilang akan menjemputmu nanti, Lexa," ucap Sean segera berdiri dan menghampiri Alexa.
Keduanya berencana akan ke butik untuk memeriksa gaun pengantin yang telah dipesan. Sean sudah mengatakan akan menjemput Alexa setelah olahraga, tapi nyata wanita itu tidak sabar menunggu.
"Aku ingin melihat kamu olahraga," sahut Alexa merebut air minum di tangan Sean. Tidak lupa mengambil handuk juga ponsel pria itu yang tergeletak di tempat duduk.
"Tidak boleh, ayo pulang!" ajak Sean merangkul tubuh Alexa tanpa peduli tubuhnya penuh akan keringat.
"Kenapa?"
"Mungkin saja kau bukan hanya memperhatikan aku, tapi orang lain juga. Tidak ada kesempatan untuk cuci mata, karena kamu hanya boleh menatapku, mengerti?" jelas Sean panjang lebar.
"Mengerti Tuan posesif. Sungguh aku tidak sabar menanti pernikahan kita Sean. Bolahkan satu minggu itu kita sulap menjadi satu hari?" tanya Alexa. Wanita itu melangkahkan kakinya keluar dari lift setelah sampai di lantai tempat apartemen Sean berada.
Memang tempat Gym yang dikunjungi Sean ada di gedung yang sama, hingga pria itu tidak perlu membuang tenaga ke tempat lain
Sean menaikkan alisnya melihat Alexa dengan lancang membuka pintu apartemen setelah menekan beberapa angka.
"Memangnya aku pernah bohong, hm?" tanya Sean.
"Tidak, aku tidak percaya saja kalau sandi apartemenmu adalah tanggal lahirku. Sungguh kau sangat bucin Sean!" teriak Alexa. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya menunggu Sean yang tengah mandi.
Senyuman Alexa mengembang saat ingatannya kembali pada kejadian dua tahun yang lalu. Dimana dia dengan lancang masuk ke kamar Sean dan menggoda laki-laki itu.
Sungguh Alexa tidak sengaja melakukannya, hanya saja saat pulang Reuni bersama teman-temannya dan mabuk, alamat Seanlah yang pertana terlintas di otak Alexa.
Menyesal karena kehilangan sesuatu yang berharga? Awalnya iya, tapi setelah mendengar Sean ingin bertanggung jawab padahal bukan kesalahannya membuat Alexa merelakan semuanya.
"Sean, apa kau ingat dulu kita ...."
"Stop Lexa! Jangan bicara apapun!" perintah Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ayolah Sean jangan malu-malu seperti itu," goda Alexa. "Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Membahas hal-hal seperti ini tidak akan membuat otakmu ...."
"Otak aku mudah terkontaminasi Lexa!"
Alexa menelan salivanya kasar ketika Sean tiba-tiba ke ranjang dan mengungkung tubuh Alexa. Padahal pria itu hanya memakai handuk sebagai pengaman.
"Satu minggu buatku adalah waktu yang sangat lama, jadi tolong kerjasamanya, Sayang," bisik Sean. Pria itu mengecup kening Alexa sebelum melepaskan kunkungannya.
"Sean!" teriak Alexa sangat kesal.
"Kamu yang memulai Lexa! Mungkin hari ini sampai satu minggu kedepan kau akan lolos, tapi tidak setelahnya!" sahut Sean yang sudah berada di ruang ganti baju.
Sementara Alexa yang masih di ranjang terus mengibas-ibaskan tangannya demi mengusir rasa gerah yang tiba-tiba melanda.
Percayalah sekarang Alexa sangat baper. Jika menggoda dan bergerak lebih dulu Alexa tidak akan salah tingkah. Berbeda jika diserang secara tiba-tiba.
Apalagi sekarang hatinya telah berhasil di culik oleh Sean.