
"Maaf Nona karena membuat anda datang kerumah sakit larut malam seperti ini," imbuh sang dokter.
Alexa mengelengkan kepalanya tanda tidak mempermasalahkan meski dia harus bangun jam 1 dini hari. Yang ada di otak Alexa hanya keadaan suaminya saja bukan yang lain. Dia mendongak untuk menatap sang dokter, di sampingnya sudah ada Ricard yang setia menemani.
"Bagaimana dengan kondisi suami saya dokter? Tadi kabar yang saya dengar sungguh ...."
"Saat pihak rumah sakit menelpon, memang benar detak jantung Tuan Sean sempat berhenti, tapi keajaiban terjadi hingga detakan jantungnya normal kembali. Tuan Sean telah dipindahkan ke ruang perawatan karena telah melaluli masa krisis beberapa jam yang lalu," jelas sang dokter.
Alexa menghembuskan nafas lega mendengar perkataan sang dokter. Saat mendengar detak jantung Sean sempat berhenti, jantung Alexa seakan ingin ikut berhenti sakin tidak sanggupnya mendengar kabar buruk tersebut.
Ternyata ketakutannya tidak terjadi, suaminya masih ingin bertahan untuk dirinya juga janin yang sedang dia kandung.
"Makasih dokter," lirih Alexa. Dia melirik kakaknya yang berdiri di samping kanan. "Kak Ricard, suami aku selamat."
"Iya Sayang, suami kamu selamat. Dia sekarang baik-baik saja," sahut Ricard mengelus pundak Alexa.
Pria itu tersenyum dan mengenggam tangan adiknya yang terasa sangat dingin. Alexa tadi seperti orang kesetanan saat mendengar kabar dari dokter, untung saja Ricard belum tidur atau Alexa akan mengendarai mobil sendiri kerumah sakit.
Ricard mulai melangkahkan kakinya bersama Alexa menuju ruangan VVIP yang disebutkan dokter barusan. Dia mengangguk seakan mengisyaratkan pada Alexa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Masuklah dan temani suamimu, kakak akan menunggu di sini," ujar Ricard lalu menutup pintu ruang rawat.
Ricard mendudukan diri di kursi tepat di depan ruangan Sean sambil memejamkan matanya karena sangat mengantuk. Perasaan Ricard melega setelah tahu adik iparnya baik-baik saja meski harus mengalami koma entah sampai kapan.
Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam ruang perawatan, Alexa duduk di kursi yang tersedia di sisi brangkar. Senyuman tipis Alexa perlihatkan.
Sekarang sudah tidak terlalu banyak alat yang terpasang di tubuh Sean. Hanya selan infus dan alat monitor saja karena sudah melalui masa-masa krisis selama tiga hari.
"Makasih Husbu mau bertahan demi aku," gumam Alexa dengan mata berkaca-kaca. "Aku mencintaimu Sean, jadi cepatlah bangun dan menjakan aku," lirih Alexa.
Sebenarnya Alexa tidak ingin pulang kerumah dan hanya ingin memantau kondisi Sean dirumah sakit saja, tapi Kania dan Ricard menentang demi kebaikan Alexa sendiri yang tengah hamil.
***
"Tidak, aku bukan pembunuh!" teriak Serin menjambak rambutnya sendiri tanpa memperdulikan rasa sakit.
Pancaran mata wanita itu menyiratkan kebingungan setelah mendapatkan goncangan hebat di otaknya. Serin tidak pernah menyangka akan menghabisi pria yang dia cintai dengan tangannya sendiri.
"Maafkan aku Sean, aku tidak berniat membunuhmu," lirih Serin. "Jangan ganggu aku, aku hanya mencintaimu." Serin menatap ruangannya dengan pandangan takut juga putus asa.
Ini sudah terjadi sejak tiga hari yang lalu. Berhasil meloloskan diri dari polisi tidak membuat Serin tenang. Wanita itu malah dihantui ketakutan dan penyesalan sebab membunuh kekasihnya sendiri.
"Sean jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu." Kalimat itu terus terulang berkali-kali dari mulut Serin langsung.
Sungguh wanita itu benar-benar gila. Kadang kala kondisi Serin baik-baik saja, tapi tiba-tiba akan berteriak jika mengingat kejadian hari itu, belum lagi bisikan-bisikan jahat yang menghampiri telinganya
"Ak-aku tidak membunuh siapapun!" teriak Serin semakin menarik rambutnya keras-keras. Bisikan seseorang yang mengatainya pembunuh kembali terdengar di telinganya.
"Jangan hukum aku, aku bukan pembunuh!"
"Aku membunuh Alexa, bukan Sean."
"Tidak-tidak, aku mencintai Sean jadi aku tidak membunuhnya!"
"Bunda tolong Serin," lirih Serin setelah bisikan itu menghilang dari telinganya. Raungan Serin mengema di dalam kamarnya, membuat pria yang bersandar di balik pintu merasa iba.
"Seharusnya saya memastikan Nona sampai dengan selamat," gumam Arnold.