Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 95 ~ Jangan bahas tentang kehamilan


"Kenapa melamun, hm?" bisik Sean langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, sementara Alexa sibuk membuat susu untuknya.


"Aku tidak melamun, lepasin dulu pelukannya Husbu!" pinta Alexa, tapi Sean enggang melepaskan pelukan itu.


Sean sedang berusaha menghibur Alexa yang mungkin saja sedih karena mimpi buruk semalam. Memang trauma atau masa lalu yang menyakitkan tidak semudah bicara untuk melupakan.


"Istri aku makin hari cantiknya nambah," puji Sean mengecup pipi Alexa dari belakang.


"Aku memang cantik Sean, jadi lepaskan pelukan kamu! Sudah jam tujuh lewat kamu harus sarapan dan berangkat kerja," pinta Alexa.


Dengan berat hati Sean melepaskan pelukannya dan memilih duduk di meja pantri, memperhatikan Alexa memanggang roti yang telah diisi selai coklat maupun kacang.


"Ada kegiatan apa hari ini dan pulang jam berapa?" tanya Sean.


"Mungkin pulang sore karena hari ini aku ful kelas. Ah iya." Alexa membalik tubuhnya seraya membawa sepiring roti ke atas meja pantri. "Tidak perlu menjamput aku nanti, aku bisa pulang sendiri."


"Kenapa? Aku tidak sibuk dan bisa ...."


"Tidak apa-apa Husbu, ayo buruan sarapan setelah itu berangkat ke kantor."


"Hm," gumam Sean dan mulai menyantap hidangan di atas meja.


Setelah sarapan Sean berpamitan pada istrinya yang masih terlihat sangat murung. "Apa hari ini aku libur saja?" tanya Sean meminta pendapat tapi dijawab gelengan oleh Alexa.


"Aku tidak apa-apa Husbu, jangan kawatirkan apapun." Alexa tersenyum dan berjinjit untuk mengecup bibir sang suami.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Sean langsung menahan tengkuk Alexa dan semakin memperdalam ciumannya hingga beberapa menit, Sean melepaskan karena hampir kehabisan nafas.


"Hati-hati Husbu." Alexa melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian Sean seiring senyumnya yang memudar karena terus memikirkan mimpinya. Alexa sangat takut mimpi itu menjadi nyata untuknya.


Karena selama ini apapun yang dia mimpikan akan selalu menjadi nyata jika tidak dicegah. Bukankah mencegah itu semua dia harus hamil? Tapi hamil bukan kehendak sendiri melainkan anugerah.


***


Sean menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya setelah menyesalaikan semua pekerjaan yang ada. Pria itu memejamkan mata sejenak hingga helaan nafas kasar mulai terdengar keluar dari mulut dan hidungnya.


"Kenapa mimpi buruk itu harus Alexa alami? Melihatnya murung saja aku tidak mampu," gumam Sean.


Pria itu beranjak dan duduknya dan menghampiri Ricard di ruangan presdir. Sean ingin membicarakan hal serius tapi bukan tentang pekerjaan, melainkan pribadi.


"Dimana Tuan Ricard?" tanya Sean pada sekretaris Ricard.


"Tuan Ricard baru saja meninggalkan ruangannya Tuan. Jika ada pesan silahkan tinggalkan! Setelah datang saya akan menyampaikannya."


"Tidak perlu," sahut Sean dan segera meninggalkan ruangan Ricard. Tujuan Sean kali ini adalah rumah mertuanya, tapi dia harus memastikan sesuatu dulu. Sean mengubungi seseorang.


"Tidak Tuan, Nona Serin baru saja keluar."


"Baiklah."


Sean bergegas berangkat menuju rumah mertuanya untuk bicara empat mata, kalaupun ada Ricard di sana itu akan lebih baik.


Langkah Sean memelan saat akan memasuki rumah mewah milik orang tua Alexa. Samar-samar dia mendengar tawa seseorang dari meja makan. Terdengar sangat bahagia.


"Semoga Alexa ada ...." Belum selesai Sean berucap dia sudah melihat di antara tawa itu tidak ada istrinya.


Sean mendekat dan menyapa orang-orang yang ada di meja makan.


"Siang Bunda," sapa Sean.


"Ah kebetulan kamu datang Nak, ayo makan dulu. Oh iya istri kamu mana? Sekarang dia jarang mampir kerumah," celetuk Kania mempersilahkan menantunya duduk.


"Lexa sibuk Bunda," sahut Sean.


"Kenapa?" tanya Ricard yang bisa langsung membawa ekpresi wajah Sean.


"Tidak ada hanya ingin mampir," sahut Sean dan menikmati makan siang bersama Kania, Ricard, dan Delia, yang telah resmi tinggal di rumah mewah tersebut.


Pembicaraan ringan mengalir begitu saja di meja makan hingga menjalar tentang kehamilan.


"Aduh bunda tidak sabar memiliki dua cucu. Sean kapan kamu sama Alexa beri bunda cucu hah?" celetuk Kania.


Sean terdiam sejenak sebelum menyahuti candaan mertuanya, mungkin jawabannya akan sedikit serius.


"Bunda, Ricard, saya bisa minta sesuatu sama kalian? Tolong jangan bahas apapun tentang kehamilan, apalagi bertanya pada Alexa," pinta Sean berhasil mengubah ekpresi bahagia Ricard dan Kania.


"Ada apa dengan istrimu Nak? Lexa sakit?" tanya Kania.


"Lexa baik-baik saja Bunda."


"Apa yang terjadi Sean? Jangan berbelit-belit seperti itu!"


"Alexa juga sangat ingin hamil dan itu membuatnya sedih. Jadi tolong jangan tanyakan pada Alexa kapan dia akan membawa kabar baik kerumah ini!"


Sungguh respon Sean sangat berlebihan tapi itu tidak sengaja keluar dari mulutnya hanya karena mengkhawatikan Alexa.


Hanya dia yang tahu bahwa istrinya mempunyai trauma tentang ditinggalkan karena tidak bisa hamil dengan cepat.