
"Maafin bunda ya karena tidak tahu kamu ada di dalam sana Nak. Maafin bunda karena hampir bunuh kamu kemarin malam," lirih Alexa mengusap perutnya yang masih rata.
Dia dan suaminya baru saja pulang dari rumah sakit setelah keadaan Alexa benar-benar membaik. Kabar baik dan buruk Alexa alami secara bersamaan.
Janin anda sangat rentang keguguran, ini di sebabkan karena anda mengonsumsi minuman beralkohol. Untung saja janin anda tidak keluar Nona. Setelah ini sering-seringlah periksakan kandungan untuk memastikan perkembangan janin berjalan dengan normal atau tidak.
Usia kandungan anda sudah memasuki minggu ke ketujuh.
"Sayang?"
Alexa melirik Sean sekilas, kemudian kembali menunduk. Perasaan bersalah menghinggapi hati wanita itu karena bertindak bodoh kemarin malam.
"Calon bayi kita pasti baik-baik saja, jangan pikirkan apapun," imbuh Sean mendekap Alexa penuh kasih sayang.
"Maaf Husbu, harusnya aku kerumah sakit lebih awal untuk mengeceknya."
"Tidak apa-apa Lexa, lagian calon bayi kita tidak kenapa-napa. Sekarang jangan pergi kamanapun dulu, termasuk ke sekolah."
Alexa mengangguk dalam dekapan suaminya. Untung saja Sean tidak marah mendengar kondisi bayi yang ada di dalam kandungan Alexa.
Senyuman yang sempat pudar kembali merekah di bibir Alexa saat merasakan usapan di perutnya.
"Calon bayi ayah sudah masuk minggu ke 7," lirih Sean.
"Kamu tidak curiga?" tanya Alexa memastikan.
Sean mendengus mendengar pertanyaan istrinya. "Buat apa aku curiga Lexa? Dokter sudah menjelaskan semuanya. Usia kandungan dan usia pernikahan kita memang tidak sama, tapi kata dokter itu hal yang umum jika rahim perempuan subur."
"Hari pertama kehamilan dihitung saat hari terakhir datang bulan, Sayang. Kan kata kamu harusnya datang bulan di malam pernikahan kita."
"Syukurlah Husbu mengerti, aku takut suatu hari ada asumsi lain yang akan membuat keraguan dihati kamu."
"Ck, istrinya Sean kok sering over thingking akhir-akhir ini hm? Jeda setelah kamu berpisah dengan Ziko hampir dua bulan Lexa, itupun kamu masang Iud Sayang."
"Makasih Husbu." Alexa membalas pelukan suaminya tidak kalah erat. Lagi dan lagi Alexa merasa sangat beruntung karena dipertemukan oleh pria yang pikirannya terlalu positif tentang sesuatu.
"Aku beruntung memiliki Sean Varos Grady," gumam Alexa.
Jam 6 pagi, Sean harus dibangungkan dengan deringan ponselnya yang lumayan nyaring. Pria itu meraba nakas di sampingnya kemudian menjawab panggilan dari seseorang.
"Saya sudah menemukan alasan kenapa Serin ingin menghancurkan rumah tangga Tuan dan Nona Lexa. Ini bersangkutan dengan kejadian dua tahun yang lalu. Tuan ingat saat ada wanita yang ingin menjebak Tuan, ketika menghadiri pesta perayaan Ayana Group?"
"Hm."
Tentu saja Sean ingat betul hari itu, hari yang sangat bersejarah untuknya. Sebab hari itu adalah hari di mana dia merengut kesucian Alexa.
"Wanita itu adalah nona Serin, Tuan!"
"Eeeuugggg," gumam Alexa semakin mengeratkan pelukannya.
"Datanglah ke ruangan saya jam 1 siang!" perintah Sean dan memutuskan telpon begitu saja.
Pria itu tidak ingin Alexa tahu masalah ini untuk sementara waktu. Pikiran Alexa selalu mengarah ke hal-hal yang negatif. Sean tidak ingin ada kesalahanpaham yang terjadi dalam rumah tangannya.
Dia meletakkan ponselnya dan membalas pelukan sang istri, mengecup hidung mancung Alexa.
"Tidurlah, masih jam 6 pagi," bisik Sean.
"Kepala aku pusing," gumam Alexa.
"Itu karena baby kita nakal Lexa, maaf karena kecebong aku, kamu jadi tidak berdaya setiap pagi."
"Kecebong? Sadis sekali ayamu Nak," gumam Alexa dengan tawa kecilnya.
Wanita itu kembali memejamkan mata dan menikmati elusan Sean di rambutnya. Sementara Sean mulai larut dengan pikirannya sendiri tentang kejadian dua tahun yang lalu.
Akhirnya Sean ingat siapa Serin yang sebenarnya. Dia dalah wanita yang berusaha menjebak untuk tidur berdua, sayangnya Sean tidak masuk jebakan tersebut sebab tidak sempat meminum obat yang diberikan Serin secara langsung.
"Jadi ini alasannya? Sial, kenapa aku bisa lupa dengan kejadian itu. Semoga rekaman cctvnya masih ada," batin Sean. Akhirnya setelah sekian lama, Sean menemukan titik terang tentang alasan Serin mendekatinya.
Hanya satu yang Sean tidak bisa dapatkan kali ini. Yaitu bukti keterkaitan Serin dalam kasus kecelakaannya.