Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 190 ~ Karena cinta


Sean terdiam setelah mendengar bentakan istrinya. Pria itu seakan tidak punya nyali melihat tatapan memerah Alexa.


"Sayang!" Sean berusaha meraih tangan Alexa, tapi wanita itu menyentak dan meninggalkan Sean sendirian di dalam kamar.


"Aaakkkhhhhh, kenapa aku sulit banget sih mengendaliin emosi akhir-akhir ini?" tanyanya pada diri sendiri. Pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi.


Beranjak dari duduknya untuk mencari keberadaan Alexa yang entah pergi kemana padahal sudah tengah malam. langkah Sean berhenti ketika sayup-sayup mendengar suara isakan dari dalam sebuah ruangan.


Suara itu seakan menarik kaki Sean agar semakin mendekat. Pria itu terhenyak saat tahu yang menangis adalah istrinya. Dia lantas mendekat dan langsung memeluk Alexa yang bersembunyi di balik meja kerjanya.


"Sayang, maaf."


"Kenapa sih Husbu selalu cari masalah setiap harinya? Cemburu tanpa alasan dan terlalu posesif akan sesuatu? Tau tidak rasanya tertekan itu seperti apa?"


"Lexa ...."


"Selama ini aku berusaha menghindar agar tidak bertemu pria manapun, selalu menjaga jarak hanya untuk menjaga perasaan Husbu. Tapi apa pernah sekali Husbu mikirin gimana tertekannya aku?"


"Maaf Lexa, ak-aku salah."


"Memang salah!" Alexa menatap suaminya dengan mata memerah. Sebenarnya Alexa tidak ingin mengeluarkan unek-unek yang selama ini dia pendam sendiri, tapi semakin hari kecemburuan Sean semakin menjadi dilingkungan kerja.


"Aku janji tidak akan seperti ini lagi Lexa. Aku tidak akan memecat Arya, tadi aku hanya emosi sehingga ...."


"Dulu suami aku selalu bisa menahan emosi, apa-apa selalu bicara baik-baik tapi sekarang semuanya hilang. Apa ada wanita lain?"


"Kamu ngomong apa, Sayang? Bahkan saat meeting sekalipun yang ada dipikiran aku itu cuma kamu dan anak-anak kita. Berlih kelain hati tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya."


Dengan sigap Sean menarik Alexa kepelukannya, mengelus punggung wanita itu untuk menenangkan. Apapun awal mula pertengkaraanya, mau Alexa salah atau Sean, yang harus meminta maaf lebih dulu adalah Sean.


Itu adalah solusi paling ampuh agar masalah tidak berlarut-larut dalam rumah tangannya.


"Besok kerumah sakit," kata Alexa.


"Kayaknya Husbu banyak pikiran, harus konsultasi ke donter untuk antisipasi saja."


"Aku tidak apa-apa Sayang, ini murni hanya rasa cemburu yang berlebihan. Aku janji tidak akan marah-marah tidak jelas lagi seperti tadi. Maaf kalau selama ini aku selalu membuat kamu tertekan."


"Dimaafin." Alexa mengusap air matanya kasar lalu berdiri karena merasa lantai sangat dingin. Tidak sia-sia wanita itu menangis, lihatlah semua masalah selesai dengan cepat dan suaminya kembali melunak.


"Ayo kita tidur dan besok jemput anak-anak ...."


"Malam ini Husbu tidur di kamar anak-anak!"


"Sayang."


"Hukuman karena Husbu melanggar janji tidak membuat aku menangis!" teriak Alexa sambil berlari menuju kamarnya lalu mengunci pintu rapat-rapat.


Sean menghela nafas panjang melihat hal tersebut. "Andai saja aku tidak membuat masalah, malam ini pasti akan jauh lebih indah," gumam Sean membelokkan langkahnya menuju kamar Aidan dan Aiden untuk tidur bersama guling.


***


Jika Alexa dan Sean sedang bertengkar dan harus tidur sendiri-sendiri, maka berbeda dengan Arnold dan Serin yang kini menikmati malam yang indah bersama keringat yang bercucuran di tubuh masing-masing.


Seakan tidak merasakan lelah satu sama lain, keduanya terus memadu kasih dibawah selimut tebal. Memenuhi seluruh kamar dengan suara desa*han-des*ahan memabukkan dari keduanya.


Mata Serin sesekali terpejam jika Arnold bergerak di atas tubuhnya. Entah kenapa malam ini penyatuan mereka terasa jauh lebih menyenangkan dan tidak menoton. Mungkin karena sekarang mereka melakukannya atas dasar cinta satu sama lain.


Mengakui sebuah cinta dalam hubungan adalah hal yang sangat penting untuk keberlangsungan rumah tangga. Terlebih jika rumah tangga tersebut awalnya dibangun atas dasar permintaan, bukan keinginan.


"Terimakasih istriku," gumam Arnold sebelum menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Serin.


Pria itu baru merasakan perih di punggungnya setelah mendapatkan pelepasan.


"Terimakasih juga suamiku, aku mencintaimu," balas Serin mengecup bibir Arnold.