
Ziko mengulingkan tubuhnya ke samping setelah mendapatkan pelepasan dari Serin. Pria itu bangun usai mengatur nafasnya yang memburu.
"Kau mau kemana?" lirih Serin menarik tangan Ziko. Mata wanita itu telah sayu setelah dibuat terbang setinggi mungkin oleh Ziko.
"Aku ada urusan," balas Ziko dan menghempaskan tangan Serin.
Pria itu memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, memakai dan bergegas keluar dari kamar.
Sejak bertemu dengan Serin, Ziko akhirnya mendapatkan tempat yang layak untuk tinggal. Keduanya tinggal di satu apartemen yang sama dan Ziko menyukai hal itu.
"Kau tidak akan bisa menyakiti Alexaku, Serin," guman Ziko setelah berhasil meninggalkan apartemen.
Dia memutuskan untuk bekerjasama dengan Serin, hanya untuk mengetahui apa saja rencana wanita itu. Jika menyangkut keselamatan Alexa, tentu Ziko akan menghentikannya.
***
"Tuan, Nona Lexa menyuruh saya kembali menyekap Ziko," lapor seseorang di seberang telpon.
"Jangan dengarkan perintahnya, biarkan Ziko berkeliaran di luar sana!" sahut Sean.
Pria itu masih berada di kantor padahal jarum jam sudah menujukkan angka 10 malam. Karena tidak ingin ke Sanghai, Sean harus lembur mengerjakannya kekacauan di sana bersama orang kepercayaan Ricard.
"Nona Lexa takut, Ziko dan Serin bekerjasama."
"Jangan khawatirkan hal itu, saya lebih tahu dari kamu. Lakukan perintah saya saja," cetus Sean dan memutuskan sambungan telpon begitu saja.
Sean mempunyai alasan yang kuat mengapa tidak membiarkan Ziko di sekap, itu tidak lain karena Sean yakin dengan kekuatan cinta yang tulus.
Sikap Ziko telah berubah, hanya saja gaya hidupnya saja yang masih sama seperti dulu. Tentu n*afsu menyertai.
Sean menyandarkan tubuhnya pada kursi, memejamkan mata sejenak sambil mengurut pangkal hidungnya yang terasa pegal begadang seharian.
"Ayana Group, harusnya kau memperhatikan putrimu dengan baik jika tidak ingin malu," gumam Sean dengan senyum smriknya.
Atensi Sean teralihkan pada benda pipihnya di atas meja, dia tersenyum mendapati telpon dari sang istri. Sean langsung menjawab panggilannya.
"Kenapa belum tidur Lexa? Tidur tengah malam tidak baik untuk kesehatan kamu juga calon anak kita," omel Sean.
"Aku tidak bisa tidur tanpa pelukanmu, cepatlah pulang. Husbu bisa mengerjakan urusan perusahaan nanti saja," ucap Alexa di seberang telpon.
Wanita yang sedang melakukan Video call tersebut mengembungkan pipinya hingga terlihat mengemaskan.
"Setengah jam lagi aku pulang."
"Baiklah, aku segera pulang," pasrah Sean.
Setelah sambungan telpon terputus, Sean segera memberaskan berkas-berkas penting di atas meja, kemudian memasukkan dilaci paling bawah lalu menguncinya.
Hal yang sama dia lakukan untuk bukti-bukti kejahatan Serin.
***
Alexa duduk setengah berbaring di atas ranjang dengan laptop berada di pangkuannya. Wanita itu tengah sibuk menikmati drama China yang sangat romantis.
"Kenapa Sean belum tiba juga?" gumam Alexa ketika kembali teringat dengan suaminya.
Sudah setengah jam berlalu setelah dia menelpon, tapi Sean tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Jalanan di jam-jam seperti ini sangat lengang, jadi tidak mungkin terjebak macet.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya." Alexa turun dari ranjang dan memutuskan akan menunggu Sean di dapur saja. Terlebih dia haus dan lupa membawa air minum ke kamar.
Berjalan hati-hati di antara cahaya temarang, itulah yang Alexa lakukan, terutama saat menuruni tangga lumayan tinggi. Tentu saja, karena jarak lantai 1 dan 2 cukup tinggi.
Baru di pertengahan anak tangga, langkah Alexa berhenti ketika melihat sekelebat bayangan melintas di bawah sana.
"Husbu?" panggil Alexa. "Apa mungkin kak Ricard?" gumam Alexa.
Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, kemudian berbelok kemana bayangan tadi melintas.
"Husbu?" panggil Alexa lagi saat melihat pria berjongkok di dekat jendela.
"Hm."
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau membuatku takut," gerutu Alexa. Dia segera meraba saklar hingga lampu menyala semua.
"Sssttttt diam Sayang. Eca lagi tidur." Sean meletakkan jarinya di bibir dengan Eca berada di gendongannya.
"Kenapa Eca ada di sini?" heran Alexa.
"Saat pulang aku tidak sengaja melihat Eca berlari, aku mengikutinya dia malah tertidur di jendela yang telah terbuka."
"Oh, mungkin pelayan lupa menutupnya tadi, ayo aku mengantuk."