Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 185 ~ Keraguan


Sebelum meningalkan SMK Angkasa, Sean dan Alexa mampir lebih dulu ke kantin untuk makan siang bersama. Hal itu membuat keduanya menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di kanting.


Kebetulan keduanya bukan makan di kantin khusus guru, melainkan khusus siswa.


"Mau makan apa Husbu? Biar aku pesan yang banyak. Makanan di sini enak-enak loh," kata Alexa.


"Menu?"


"Tuh!" Menunjuk layar lebar berisi menu untuk hari ini.


"Terserah kamu Sayang."


"Baiklah." Alexa segera meninggalkan meja untuk menghampiri para pedangan yang berbaris rapi di tempat masing-masing. Setelah memesan wanita itu kembali lagi ke tempat duduknya.


"Tahu tidak? Aku kangen masa-masa saat sekolah dulu. Bolos bareng, ke kantin bareng dan apa-apa pasti sama teman-teman." Alexa mulai bercerita pada suaminya yang tampak memperhatikan kantin.


Pria itu siap siaga menegur siswa yang mungkin saja memandangi istrinya secara diam-diam.


"Aku kangen ...."


"Mantan pacar kamu yang selalu mengajak ke kantin dan bolos setiap hari?" Potong Sean membuat Alexa cemberut.


Sean jika sedang kesal atau cemburu sangat susah untuk diajak mengbrol meski sebentar. Kalau saja ini bukan di sekolah, Alexa sudah memberi pelajaran pada suaminya.


***


Usai makan siang bersama di sekolah sambil mengenang masa lalu, akhirnya Alexa dan Sean pulang kerumah bunda Kania untuk melihat anak-anak mereka.


Senyuman Alexa mengembang sempurna melihat anak-anak dan keponakannya terus berlari di halaman rumah tanpa mengenal panasnya terik matahari.


"Ayah pulang!" Aily berlari untuk memeluk Sean yang berdiri tepat di samping Alexa.


Memang Ayli sangat dekat dengan ayahnya, berbeda dengan Aidan dan Aiden yang lebih dekat dengan bundanya.


"Putri ayah bau acem ih."


"Ai bau acem?"


"Hm."


Membuat Delia dan Alexa tertawa melihat tingkah ayah dan anak itu. Karena matahari yang terlalu panas, Alexa menyuruh anak-anaknya masuk untuk istirahat sejenak. Tentu saja sekalian tidur siang agar segar di sore hari.


***


Sepanjang mengelilingi mall, Serin tidak pernah sekalipun melepaskan rangkulannya di lengan ibu Arnold. Senyuman terus menghiasi wajah wanita itu sejak satu jam yang lalu setelah sampai di pusat perbelanjaan.


Sementara Arnold sendiri kembali ke profesinya yaitu mengawal dua wanita yang dia sayangi.


"Jadi begini rasanya menemani perempuan belanja?" gumam Arnold terus saja mengikuti langkah Serin dan ibunya. Sesekali terdengar suara tawa di antara keduanya.


"Serin, kita masuk ke situ yuk!" ajak ibu Arnold.


"Ayo Mah!" Dengan antusias Serin berjalan sambil menggengam tangan ibu Arnold memasuki toko yang lumayan sepi oleh pungujung.


Di dalamnya terdapat banyak pakaian tentu saja brand ternama.


"Mau ini?" Menunjuk pakaian kekurangan bahan. Lantas Serin dan Arnold tersipu malu.


Bagaimana tidak, ibunya baru saja menunjuk lingerie berwarna merah menyalah dan ditujukan untuk Serin.


"Aku mau, ini juga sama yang itu." Menunjuk beberapa lingerie yang akan membuat pria mana saja tidak akan tahan jika dipakai oleh istrinya.


Diam-diam Serin tersenyum tanpa disadari oleh siapapun baik suaminya sendiri. Jika boleh jujur, Serin sudah menyukai Arnold satu tahun yang lalu saat keadaanya mulai membaik dan resmi keluar dari rumah sakit jiwa.


Wanita mana yang tidak akan luluh mendapati perhatian dari seorang pria tampan seperti Arnold? Bahkan yang lebih sering menjenguk saat dia dirumah sakit tentu saja Arnold.


Permintaan untuk menikah itu murni keinginan Griya sebab melihat ketulusan Arnold. Namun, Serin adalah orang pertama yang menyetujui rencana tersebut dan bersikap seolah-olah dia tidak mencintai suaminya.


Serin takut obsesi pada seorang pria kembali muncul dipermukaan. Bagaimana jika kejadian di masa lalu terulang lagi? Arnold tidak mencintainya, dan dia mengingingkan cinta seorang Arnold.


"Sayang, mama panggil kamu," bisik Arnold berhasil menyadarkan Serin dari lamunannya.


Pipi Serin semakin merona mendengar Arnold memanggilnya sayang di tempat umum seperti ini.


Apa sudah saatnya Serin memperlihatkan rasa sukanya pada Arnold? Tapi dia takut akan penolakan lagi.