
"Lexa masuk! Jangan bicara pada pria sepertinya!" teriak Ricard dari garasi.
Alexa yang sempat mematung langsung menarik tangannya dari genggaman Ziko. "Pergilah dan jangan kembali lagi!" ucapnya dan menghampiri Ricard.
Ck, kakak laki-lakinya memang sangat posesif, hingga sering kali membatasi apapun yang Alexa ingin lakukan, padahal umur wanita itu sudah terbilang dewasa. Usia 27 dan beberapa bulan lagi genap 28 tahun, tapi diperlakukan layaknya bocah remaja.
Sebenarnya Alexa suka, tapi tidak jika terlalu berlebihan.
"Ayo masuk kakak Sayang dan jangan emosi terus," ajak Alexa merangkul mesra lengan kakaknya. "Bagaimana perkembangan kandungan kak Delia?"
"Baik," sahut Ricard.
"Kakak sebentar lagi jadi ayah harusnya kurang-kurangin emosi sama seseorang, apalagi ngurusin hidup orang lain! Kakak mau Lexa jadi perawan tua karena tidak menikah?" tanya Alexa dengan wajah menawarkan pertengkaran.
Dia meringis saat hidung mancungnya ditarik cukup kuat oleh Ricard. "Perawan dari mananya, hm? Bahkan sebelum menikah kamu sudah melakukannya dengan ...."
"Ssstttttt, rahasia negara ini kak! Jangan sampai bunda dengar." Alexa langsung membekab mulut Ricard agar tidak membocorkan sesuatu yang sangat memalukan.
Untung saja Alexa sedikit tidak tahu malu hingga bisa bersikap biasa saja di depan orang yang telah mengambil kesuciannya karena kesalahannya sendiri.
Alexa melepaskan rangkulannya dari Ricard dan berlari menuju dapur ketika mendengar suara bundanya di sana.
"Tunggu dulu," cegah Alexa ketika ada pelayan yang melintas di hadapannya. "Tolong bawa ke kemar saya!" perintahnya menyerahkan tas juga map yang dia bawa tadi.
Setelah mendapat jawaban dari pelayan, Alexa melanjutkan langkahnya ke dapur dan memeluk Kania dari belakang.
"Ada acara apa Bunda?" tanya Alexa.
Dapur sangat ramai dengan beberapa pelayan yang tengah menyiapkan menu makan malam dan ini tidak seperti biasanya.
"Bunda akan kedatangan tamu spesial nanti," sahut Kania.
"Siapa?" Alexa melepaskan pelukannya dan menatap sang Bunda penuh selidik.
"Sebenarnya ada apasih Bunda? Lexa bukan anak kecil lagi sampai harus main rahasian seperti ini." Alexa eggang meninggalkan dapur sebab rasa penasaran cukup tinggi.
"Ricard, bawa adik kamu pergi!" teriak Kania tanpa ada keinginan memberitahukan apapun pada putrinya, membuat Alexa sungguh penasaran.
"Kyaaaaa ...." Alexa berteriak heboh saat tubuhnya di gendong seperti karung beras oleh kakaknya sendiri. Wanita itu menepuk-nepuk punggung Ricard pelan.
"Turunkan aku kak Ricard!" pinta Alexa, tapi Ricard seperti tuli. Pria itu baru menurunkan Alexa setelah sampai di dalam kamar.
"Banyak tahu cepat mati!" ucap Ricard dan menutup pintu kamar.
Alexa menghembuskan nafas panjang melihat tingkah aneh bunda dan kakaknya. "Entah apa yang telah kalian rencanakan," gumam Alexa.
"Ulang tahun?" Dia berusaha mengingat momen berharga untuk hari ini, tapi tidak ada satupun yang ditangkap oleh otaknya.
Merasa gerah dan pusing berpikir, Alexa memutuskan untuk mandi sore agar terasa segar. Bermain-main air, itulah yang Alexa lakukan di kamar mandi hingga membutuhkan waktu kama baginya bersiap-siap.
"Lexa, jam 8 malam jangan lupa turun ya!" teriak Ricard di balik pintu kamar mandi. Pria itu sudah keluar masuk kamar Alexa sejak satu jam yang lalu. "Apa kau tidur di kamar mandi?"
"Bunda menyuruhku bersiap-siap kak Ricard, jadi aku harus mandi sampai bersih!" sahut Alexa, meski itu hanya kebohongan.
"Sepertinya kau senang akan dijodohkan!"
Blug, ponsel Alexa terjatuh ke dalam air karena ucapan Ricard di balik pintu. Dijodohkan? Sungguh itu tidak pernah ada dalam bayangan Alexa sebelumnya.
Wanita itu segera membilas tubuhnya dengan air bersih dan mengambil ponselnya di dalam bathtub berisi air.
"Pakai ikut mandi segala," omel Alexa pada ponselnya. Dia segera membuka pintu dan mendapati Ricard dengan senyum jenakanya.
"Aku benar akan dijodohkan kak?" tanyanya memastikan.
"Lupa sama kalimat sendiri? Bukannya kamu yang bilang sama Bunda .... Sekarang aku tidak punya pacar dan tidak mencintai siapapun Bunda, jadi aku siap dijodohkan jika bunda sangat menginginkan cucu dariku. Bukankah itu kalimatmu, Sayang?"