
Jesika duduk tidak tenang di dalam kamarnya, wanita itu tengah memikirkan sesuatu untuk membalas Alexa karena telah berani merebut Ziko darinya.
"Ayo berpikirlah Jesika sebelum Ziko benar-benar jatuh cinta pada Alexa," gumam Jesika memukul-mukul kepalanya sendiri.
Sesekali wanita itu mengiggit kuku jarinya sendiri. Dia sangat takut kalau saja Ziko benar-benar meninggalkan dirinya sekarang.
Karena pria itu telah berjanji akan menikah dengannya, Jesika tidak jadi mengambil pekerjaan yang diberikan oleh Ricard, dan sekarang Jesika tidak punya cukup uang untuk membiayai dirinya sendiri.
Lamunan Jesika buyar ketika suara bel apartemennya terus berbunyi tidak sabaran. Mengira itu adalah Ziko yang ingin menemuinya, Jesika langsung membuka pintu tanpa mengintip lebih dulu.
"Zik ...."
"Apa benar ini kediaman Nona Jesika?"
"Be-benar, ada apa ya Pak? Kenapa bapak datang pagi-pagi kerumah saya?" tanya Jesika pada dua polisi berbadan kekar di depan pintu.
"Anda kami tangkap atas percobaan pembunuhan Tuan Ziko!"
Polisi tersebut memperlihatkan surat penangkapan pada Jesika.
"Tidak, saya tidak berencana membunuh siapapun pak! Ini fitnah, saya ...."
"Anda bisa jelaskan di kantor polisi!" Pria berbadan tegap tersebut mencengkram tangan Jesika sangat kuat karena wanita itu terus meronta ingin kabur.
Dengan sigap polisi lainnya memasangkan borgol di kedua tangan Jesika kemudian mengiringkan ke Lift.
"Lepasin saya! Saya tidak melakukan apapun. Ini fitnah!" sentak Jesika berusaha lepas dari kunkungan polisi tapi tenaganya kalah jauh.
Sepanjang jalan hanya teriakan yang terus Jesika lakukan berharap bisa terbebas. Sampai matipun dia tidak ingin merasakan dinginnya udara dingin di balik jeruji.
"Lepasin Saya!" teriak Jesika.
***
Alexa berdiri di depan kantor polisi bersama Ziko yang kini dia peluk lengan kirinya. Wanita itu tengah menunggu kedatangan Jesika bersama polisi lainnya.
"Aku senang akhirnya Jesika masuk penjara Sayang. Aku tahu kamu selingkuh dariku karena dia menggodamu bukan?" Alexa beralih menatap Ziko yang kini jauh lebih tinggi darinya.
"Iy-iya Sayang, dia yang telah menggodaku," sahut Ziko.
"Sudah kuduga."
Dia melempar senyum meremahkan pada Jesika.
"Ziko, jadi kau yang melaporkan aku? Kau benar-benar jahat!" teriak Jesika hendak menghampiri Ziko dan Alexa tapi lebih dulu dicegah oleh polisi.
"Aku bersumpah akan membalas semuanya! Kau penipu Ziko!" teriakan Jesika masih saja terdengar padahal telah diseret cukup dalam oleh polisi.
"Kenapa tatapan kamu seperti itu Ziko? Kamu menyesal memenjarakan wanita yang kau cintai?"
Ziko sontak mengelengkan kepalanya. "Tidak, aku sama sekali tidak menyesal Lexa. Aku malah beruntung karena kamu memenjarakan wanita ular sepertinya."
"Sekarang giliranmu Sayang," batin Alexa memeluk lengan Ziko posesif.
"Nona?"
"Ah ya Sean?" sahut Alexa langsung melepaskan rangkulannya dari lengan Ziko. Namun, dia tidak bisa bergerak sebab Ziko mengenggam tangannya sangat erat. Mungkin cemburu melihat dia dan Sean.
"Nona harus keperusahaan sekarang, sesuatu terjadi di sana," ucap Sean.
"Benarkah? Aku akan berangkat sekarang, pergilah lebih dulu Sean," sahut Alexa dan dijawab anggukan oleh Sean.
***
Ziko menghela nafas panjang setelah sampai di rumah mewah milik istrinya. Rumah yang dulu sangat ingin dia miliki tapi sekarang keinginan itu telah sirna karena cinta yang diperlihatkan Alexa untuknya.
"Entah masalah apa yang terjadi di perusahaan sampai Alexa tidak membiarkan aku ikut," gumam Ziko mendudukkan tubuhnya di sofa panjang tepat depan Tv.
Pria yang sering kali arogant pada orang miskin tersebut langsung menaikkan kakinya di atas meja, kemudian memanggil pelayan.
"Buatkan saya sesuatu yang segar!" perintah Ziko.
"Baik Tuan," sahut sang pelayan dan segera menjauhi Ziko.
Pelayan sudah hapal betul bagaimana semena-menanya Ziko jika berada di rumah, tapi mereka tidak bisa berbuat apapun selain mematuhi perintah Ziko, karena pria itu adalah suami dari majikannya yang baik.
"Saat mendengar kecelakaan itu, aku berdoa agar dia mati," bisik salah satu pelayan.
"Kamu benar, dia sok berkuasa padahal hanya menantu di rumah ini. Kalau aku jadi Nona Alexa, sudah ku tendang dia dari rumah."
"Modal tampan sama goyangan doang kayaknya tuh orang."