Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 37 ~ Kita akan menikah


Percayalah jantung Ziko sedang tidak baik-baik saja sekarang. Dua wanita yang tidak ingin dia tinggalkan, makan dalam satu meja yang sama.


Ziko berkali-kali menelan salivanya ketika merasakan kaki Alexa merayap di bawah meja, begitupun dengan tangan Jesika yang mengelus pahanya penuh sensasi.


"Sayang, ayo suapin lagi." Manja Alexa.


Ziko dengan sigap menyuapi Alexa, meski sebelah tangannya tengah di genggam begitu erat oleh Jesika.


"Jesika, kenapa kau tidak makan? Kau tidak menyukai makanannya?" tanya Alexa setelah mendapat suapan dari sang suami.


"Apa kau juga mau disuapi? Kalau begitu cepat-cepatlah menikah." Alexa mengedipkan matanya seoalah mengejak Jesika.


"Ak-aku ketoilet sebentar," ucap Ziko langsung berdiri dari duduknya ketika suasana tidak lagi konduktif. Niat hati makan siang dengan tenang bersama sudah gagal karena kedatangan Sean dan Jesika di antara mereka.


Ziko mengusap keningnya yang terdapat butiran-butiran keringat setelah sampai di kamar mandi.


Dia membilas wajahnya beberapa kali untuk menghilangkan rasa gerah di tubuhnya.


"Ini tidak bisa terjadi, aku harus bicara dengan Jesika." Itulah keputusan Ziko.


Pria itu segera keluar dari toilet setelah di rasa cukup tenang. Terkejut melihat Jesika ternyata berdiri di depan toilet.


"Apa yang kau lakukan di sini hm?" tanya Ziko memegang kedua lengan Jesika.


"Untuk memberitahukan Alexa tentang hubungan kita!" jawab Jesika menyentak tangan Ziko dari tubuhnya.


"Apa kau gila!"


"Ya, aku sudah gila karenamu Ziko. Ini sudah satu minggu sejak aku memberi waktu untuk menemuiku, tapi kau malah sibuk bersama Alexa. Kau mengira aku bisa sabar menunggumu hah?" Jesika memelototkan matanya tanpa rasa takut.


"Aku sudah bilang kita harus berhati-hati Jesika. Aku pasti menikahimu tapi tidak sekarang! Aku punya bisnis besar, setelah ini sukses aku benar-benar akan menikahimu," bujuk Ziko hendak menyentuh Jesika, tapi lagi-lagi tangannya di hempaskan begitu saja.


"Semua janji yang keluar dari mulut kamu busuk! Aku butuh kepastian bukan sebuah janji."


"Nikahi aku secepatnya atau aku akan membongkar semuanya!" ancam Jesika.


Wanita itu berbalik hendak menemui Alexa dan Sean, tapi langkahnya berhenti karena pelukan Ziko dari belakang. Untung saja toilet sedang sepi, atau mereka akan menjadi topik panas besok pagi.


"Jangan beritahu siapapun tentang hubungan kita Sayang, aku janji akan menikahimu. Menikah sirih, kau mau kan?" bisik Ziko.


"Kita akan menikah seminggu lagi di kota .... Pergilah kesana lebih dulu, aku akan menyusulmu."


Jesika membalik tubuhnya dan menatap manik tajam Ziko. Mencoba mencari kebohongan di sana tapi tidak menemukan apapun.


"Kamu tidak akan menipuku kan?"


"Tidak Sayang, kita akan menikah seminggu lagi. Jadi pergilah ke Kota ... aku akan mengurus yang lainnya. Kalau sampai aku tidak datang, kamu bisa menemui Alexa."


"Kali ini aku kembali mempercayaimu Ziko." Jesika memeluk Ziko sangat erat. Senyuman bahagia tercetak jelas di wajahnya setelah dibuat uring-uringan beberapa hari terakhir.


"Tapi ...." Dia mengantung kalimatnya ketika teringat sesuatu. "Aku baru saja diterima kerja menjadi manager Sayang? Aku harus bagaimana?"


"Kamu mendapatkan pekerjaan?"


"Hm."


"Selamat Sayang," ucap Ziko.


"Aku akan bicara pada bosku dulu. Sebenarnya pekerjaan ini bisa aku kerjakan di mana saja."


Ziko dan Jesika melerai pelukannya setelah puas melepas rindu satu sama lain.


"Ayo, takut Alexa curiga tentang kepergian kita!" ajak Ziko.


"Pergilah lebih dulu agar dia tidak curiga," balas Jesika.


Ziko mengangguk dan segera meninggalkan toilet.


"Aku kelamaan?" tanya Ziko setelah sampai di meja makan.


"Tidak kok, tadi aku juga sama Sean sedang membahas pekerjaan. Ah iya dimana Jesika?"


"Dia sudah pergi sejak tadi," jawab Ziko cepat setelah mendapat pesan dari kekasihnya.


"Begitu? Ya sudah kita pergi juga. Lagian aku masih ada pekerjaan dengan Sean. Sayang, kita berpisah di sini saja." Alexa berjinjit untuk mengecup pipi Ziko, karena masih melihat Jesika memperhatikan mereka.


"Hati-hati Sayang!"