Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 187 ~ Dokter Salsa


Alexa mematut dirinya di depan cermin setelah siap dengan pakaian sederhana tapi terlihat elegant. Di sisi ranjang terdapat dua laki-laki tampan yang setia menilai penampilan wanita itu. Sejak tadi Aidan dan Aiden tidak mau keluar dari kamar hanya untuk memastikan bunda mereka baik-baik saja.


"Bagaimana?" tanya Alexa setelah membalik tubuhnya menghadap Aidan dan Aiden.


Kedua bocah itu langsung menaikkan jempolnya sambil menganggukkan kepala.


"Bunda cantik banget," puji Aidan menghampiri bundanya. "Tapi Bunda jangan pakai sendal itu nanti kakinya sakit. Kata ayah, tadi kaki Bunda sakit makanya digendong." Aidan mulai mengatur bundanya.


Laki-laki kecil itu sama sekali tidak membiarkan bundanya terluka meski seujung kuku saja.


Alexa berjongkok untuk mensejejarkan tingginya dengan Aidan. "Kaki bunda sudah sembuh karena diurut sama Idan tadi, jadi tidak apa-apa nak."


"Beneran?"


"Benar Sayang." Alexa mengacak-acak rambut putranya sebelum berdiri. Mengenggan tangan mungil dua laki-laki yang sedang memakai piyama tidur upin dan ipin.


"Kalau kalian mengantuk langsung tidur di kamar ya, jangan nyusahin Oma. Kalian sudah besar dan pintar."


"Iya Bunda!"


***


Setelah berhasil berpamitan pada putri bungsu mereka, akhirnya Sean dan Alexa dapat lolos keluar dari rumah. Aily sangat berbeda dengan kakak-kakaknya yang sangat penurut.


Bahkan saat akan berangkat tadi, Aily tidak mau turun dari gendongan Sean. Tidak mungkin juga Alexa mengajak Aily, yang ada Aidan dan Aiden akan ikut serta. Angin malam sangat tidak cocok untuk anak-anaknya yang mudah flu.


"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Sean. Sebelah tangan pria itu mengenggam tangan istrinya, sebelah lagi sibuk pada ponsel.


Mengemudi? Tentu saja ada Arya yang setia menemani mereka. Mungkin gaji Arya cukup tinggi, tapi itu sebanding dengan pengorban waktu untuk anak dan istrinya dirumah.


Mau bagaimana lagi, tidak bekerja maka anak dan istrinya akan kekurangan. Terlebih Sean tidak terlalu otoriter pada bawahannya, jika meminta izin tentu saja langsung diizinkan. Hanya saja Aryalah yang tidak enak jika memanfaatkan kebaikan Sean.


Setelah lama mengemudi, akhirnya Sean dan Alexa tiba juga di restoran tempatnya janjian dengan Azka.


Tatapan Alexa tertuju pada sepasang kekasih yang sangat wanita itu kenali. Keduanya terlihat sangat mesra dan mengemaskan.


"Serin dan Arnold," ucap Alexa memberitahukan suaminya.


Sean lantas mengikuti arah pandangan Alexa, dan benar saja Sean dan Arnold sedang makan malam dan terlihat sangat romantis.


"Andai saja dulu kita dipertemukan dalam kasus yang berbeda, mungkin aku akan mempunyai teman sekaligus sepupu yang menyenangkan seperti Serin."


"Jika kata seandainya tidak ada di dunia, maka penyesalan tidak akan tercipta di hati orang-orang yang bersalah."


"Husbu benar." Alexa tersenyum sumbringan. Wanita itu beralih mengamit lengan suaminya untuk memasuki ruangan VIP yang telah dipesan oleh Azka.


Entah apa yang ingin Azka bicarakan sehingga rela membuang waktunya hanya untuk makan malam bersama seperti sekarang. Bagi pengusaha sukses waktu adalah uang, mereka akan bertemu kerabat jauh jika akan membahas hal penting yang akan menguntungkan dua pihak saja.


"Akhirnya kalian datang juga, ayo duduk dulu Nona Alexa, Tuan Sean," sambut seorang wanita cantik yang setia mendampingi Azka.


Alexa dan Sean menganggukkan kepalanya, lalu duduk di kursi yang mejanya bundar dan sangat luas. Bahkan jarak mereka cukup jauh dan banyak tempat kosong yang tersedia di sisi meja.


"Dokter Salsa bukan?"


"Benar Nona Lexa."


"Ah saya tidak menyangka kalau istri Tuan Azka adalah dokter pribadi bunda." Alexa tersenyum ramah.


Tentu saja wanita itu tidak asing pada Salsa yang merupakan dokter jantung. Wanita itu sering kali datang kerumahnya untuk memeriksakan kondisi Kania yang mempunyai penyakit jantung.


"Senang bisa makan malam bersama kalian." Salsa terus saja berbicara sangat ramah pada tamu mereka, sementara sebelah tangannya sejak tadi di genggam oleh sang suami. Sakin eratnya, tangan lentik itu berkeringat.


"Azka!"


"Aku lupa." Cengir Azka melepaskan genggaman tangannya.