Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 119 ~ Semua bukti


Melihat Sean sibuk sendiri dengan pekerjaan, membuat Alexa sungguh dibuat kesal bukan main.


Sudah setengah jam wanita itu duduk di sofa panjang, tapi Sean belum meliriknya sama sekali. Bahkan orang yang mereka tunggu tidak kunjung datang.


Alexa langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Sean. Tanpa abah-abah wanita itu duduk di pangkuan sang suami dan memeluknya sangat erat.


"Kalau aku tahu Husbu akan sesibuk ini, aku tidak mungkin berkunjung," gumam Alexa.


Sean senyum simpul, menghentikan segala kegiatan dan membalas pelukan sang istri.


"Maaf Sayang, kamu mau apa hm?" tanya Sean.


"Aku jenuh tapi, aku penasaran sama informasi yang ingin disampaikan orang suruhan kita," sahut Alexa. Sesekali wanita itu meniup-niup leher Sean yang membuat pria itu bergidik sesekali.


"Jangan menggodaku Lexa, sebentar lagi orang itu tiba," imbuh Sean menutup mulut Alexa.


Merasakan hembusan nafas Alexa sungguh membuat Sean panas dingin. Pria itu mendorong tubuh Alexa agar pelukan terlerai.


"Duduklah yang benar Lexa, apa kau tidak merasa sakit jika duduk seperti ini hm? Kasian perut kamu."


"Ck, sejak kau mengatahui aku hamil, apa-apa tidak boleh aku lakukan. Husbu, aku itu hamil dan sehat, bukan lumpuh," decak Alexa tidak suka.


Dia segera turun dari pangkuan Sean dan kembali ke sofa. Sean buru-buru mengikuti istrinya.


"Aku salah," gumam Sean tidak ingin bertengkar, terlebih dia sudah mendapatkan patuah panjang lebar dari Bunda Kania yang mengatakan harus mengalah jika Alexa sedang marah.


Baru saja Sean menunduk ingin mengecup bibir Alexa yang manyun, suara ketukan pintu sudah terdengar. Sean mengurungkan niatnya. Dia malah beralih duduk di samping sang istri.


"Masuklah!" perintah Sean.


Pintu ruangan langsung terbuka, lalu masuk satu orang pria seumuran Sean membawa tas yang entah apa isinya.


"Kenapa kau telat dan wajahmu babak belur seperti itu?" tanya Alexa setelah pria tersebut duduk dihadapannya.


"Maaf Nona, saya terlambat karena dicegat oleh seseorang di jalan. Sepertinya orang itu tahu kalau saya membawa barang bukti," jelasnya.


"Lain kali berhati-hatilah," imbuh Sean. Tatapan pria itu tertuju pada tas yang berada di atas meja.


"Semua bukti kecuali keterlibatan Nona Serin dalam kecelakaan Tuan," sahut pria itu.


Orang suruhan Sean segera mengeluarkan flashdisk dan beberapa foto di dalam tasnya.


"Ini bukti yang Tuan butuhkan. Cctv dua tahun yang lalu yang tidak sengaja berada di dalam kamar hotel, juga artikel yang pernah tending pada masanya."


Dengan sigap Sean memeriksa kopian artikel tersebut. Senyum miring tercetak jelas di wajahnya. Hanya dengan dua bukti itu sudah bisa mengusir Serin sekaligus kembali mempermalukan Ayana Group, tapi yang Sean ingingkan bukti kejatahan Serin.


Namun, sepertinya Sean akan mengesampinkan itu karena keselamatan Alexa akan dalam bahaya dengan keberadaan Serin di sekitarnya.


"Ada lagi yang kau bawa?" tanya Alexa.


"Informasi baru Nona." Pria itu tersenyum senang. "Dua tahun yang lalu, Ziko dan Serin memiliki hubungan lebih dari seorang teman. Serin sempat mengandung darah daging Ziko. Sebenarnya kandungan itu ingin Serin gunakan sebagai darah daging Tuan kalau saja berhasil dijebak."


"Ha-hamil anak Ziko? Sesempit itukah duniaku?" kaget Alexa tidak percaya.


Alexa mengira urusannya dengan Ziko telah berakhir, ternyata lagi-lagi pria itu menjadi penyebab masalah kembali.


"Bagaimana dengan anaknya?" tanya Sean, sementara tangannya sibuk mengenggam tangan lentik sang istri.


"Serin mengugurkan kandungannya Tuan, hal itu juga salah satu penyebab Serin mempunyai penyakit mental," imbuhnya.


Orang suruhan Sean kembali menyerahkan beberapa berkas juga foto. "Di dalam sini telah tercatat dengan jelas dimana Serin aboris juga hotel yang mereka kunjungi. Dan ini riwayat kejiwaan Serin dari dokter yang besangkutan."


"Maaf karena belum bisa memenuhi permintaan Tuan tentang bukti kecelakaan."


"Tidak masalah, kau bisa mencarinya sekarang. Jangan lupa cek saldomu setelah sampai dirumah," imbuh Sean dan dijawab anggukan oleh orang suruhannya.


Setelah kepergian pria yang selalu Sean andalkan, dia memperhatikan berbagai macam bukti di atas meja. Satu fakta yang mengejutkan, ternyata masalah besar hampir saja Sean jumpai jika terjebak dua tahun yang lalu.


"Waktunya Eksekusi."