
6 tahun kemudian.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, banyak hal yang telah Alexa dan Sean alami selama 7 tahun pernikahannya.
Perusahaan-perusahaan yang berusaha menjatuhkan Jonshon group kini telah jatuh lebih dulu tanpa bisa menyentuh kepemimpinan Sean. Bahkan perusahaan milik mantan suami Delia telah jatuh bangkut dua tahun yang lalu karena dendam dan amarah membakarnya sendiri.
Menikmati keluarga kecil yang bahagia adalah hal yang diimpikan semua orang, terlebih jika mempunyai suami yang sangat pengertian dan memanjakan kita layaknya seorang ratu, dan sekarang Alexa telah mendapatkan semua itu dengan bersuamikan Sean Varos Grady, suami kedua yang akan menjadi suami terakhirnya.
Anak-anak mereka telah tumbuh menjadi anak-anak yang baik meski kadang kali membuat masalah yang membuat Alexa angkat tangan dibuatnya.
Seperti saat ini, baru saja wanita itu melihat anak-anaknya turun dari mobil dijemput oleh Arya. Ketiganya langsung berlari dengan raut wajah yang berbeda-beda, tidak ada raut bahagia tercetak jelas di sana.
"Ayah!" Suara Aily lebih dulu terdengar bahkan terkesan merengek pada Sean, membuat pria itu menunduk untuk mengendong putri kesayangannya.
"Anak ayah kenapa menangis hm? Siapa yang berani mengusik putri cantik ayah?"
"Kak Idan dan Iden!" Tunjuk Aily pada dua bocah yang berada dalam lindungan Alexa.
"Kok Idan?"
"Kok Iden?"
Kedua bocah laki-laki itu tentu saja menatap Aily tajam karena mengadu yang tidak-tidak pada ayah mereka. Toh sejak tadi Aidan dan Aiden tidak banyak bicara, karena memang sejak dulu keduanya sangat kalem. Sayangnya mempunyai adik cewek yang licik, manja, dan suka membuat masalah seperti Aily.
"Ayah, kak Idan dan kak Iden marahin Ai. Terus kakak bilang tidak mau main sama Ai lagi." Aily menatap ayahnya berharap kakak-kakaknya mendapat marah.
"Aidan dan Aiden ngapain adeknya, hm? Sini cerita Sayang!" Sean berjongkok dan memanggil kedua putranya tanpa amarah sedikitpun.
Lantas Aidan dan Aiden mendekat tentu saja dengan perisainya yaitu bunda tercinta.
"Siapa yang mau jelasin dulu?" tanya Sean.
"Ai!" Tunjuk Aidan dan Aiden serempak.
"Tuh kata kakaknya Ai dulu," celetuk Alexa.
"Ai disekolah cuma bagi-bagi pensil warna sama teman-teman, Bunda-Ayah. Terus kak Idan dan Iden datang langsung marah-marahin Ai. Ai kan tidak salah."
"Kata ayah, berbagi sama orang itu bukan kejatahan tapi kebaikan. Bunda juga pernah ngomong sama Ai jangan pelit-pelit sama teman."
Mendengar hal itu Aiden dan Aidan saling tatap, sepertinya ada yang Aily lewatkan dalam ceritanya.
"Ayo marahin kakak, Ayah!" Rengek Aily.
"Sebentar!" pinta Sean, sementara Alexa diam saja melihat drama yang sudah-sudah setiap pulang sekolah seperti ini. Wanita itu yakin kedua putranya tidak salah, tapi memang akarnya ada pada Aily yang suka merasa benar.
"Sekarang giliran Aiden sama Aidan yang bicara!" perintah Sean seperti hakim saja.
"Idan sama Iden memang marahin Ai di sekolah tapi karena Ai salah, Ayah. Masa bagi-bagi pensil warna punya Idan sama Iden. Harusnya kalau mau bagi punya dia saja!"
Sean dan Alexa sontak menghela nafas panjang mendengar penuturan anak-anaknya. Sean melirik istrinya seakan mengkode membawa putra mereka ke kamar.
...Sepeninggalan ketiga orang kesayangannya, Sean mendudukkan diri di sofa masih Aily di pangkuannya. ...
"Kenapa Ayah tidak marahin kakak?"
"Karena kak Idan dan Iden tidak salah!"
Aily memanyungkan bibirnya tidak terima, harusnya kedua kakaknya mendapat hukuman karena membuatnya menangis di sekolah.
"Sayang, berbagi sama teman-teman itu boleh banget, tapi harus punya sendiri bukan orang lain. Lain kali kalau mau bagi-bagi jangan ambil punya kakak lagi ya, tapi bagi punya sendiri saja!"
"Ai tahu?"
Aily mengelengkan kepalanya. "Ayah belum ngomong." Sean lantas tersenyum mendengar jawaban putrinya, benar-benar pintar.
"Ngambil punya orang lain tanpa izin sama halnya dengan mencuri, jadi jangan lagi ya! Meski itu punya kakak."
"Maafin Ai, Ayah. Ai tidak tahu kalau ambil punya kakak juga termasuk mencuri. Nanti kalau Ai mau boleh minta?"
"Boleh dong Sayang. Ayah akan mengabulkan semuanya asal tidak aneh-aneh."