Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 192 ~ Meninggalkan Indonesia


Jika Alexa, Sean dan anak-anaknya sedang menghabiskan waktu di hari libur, maka berbeda dengan Serin dan Arnold yang hari ini harus meninggalkan Indonesia untuk menata hidup lebih baik.


Serin berpikir ini adalah jalan terbaik untuknya dan Arnold, agar orang-orang yang dia sakiti bisa hidup bahagia tanpa takut dengan dirinya yang mungkin saja berulah.


Sejak tadi Serin terus berdiri sambil mengenggam tangan suaminya. Sangat berat untuk meninggalkan orang-orang yang dia sayangi, terlebih ibu mertuanya. Dimana mereka baru saja akur kemarin.


"Kalau tidak mau pergi kita cancel saja, Serin. Lagian tidak akan ada yang marah jika kamu tinggal di negera ini. Kita hidup tanpa menganggu orang lain."


Serin mengelengkan kepalanya, wanita itu sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan negera kelahirannya.


"Tidak apa-apa, kita bisa balik kapan saja untuk bertemu Mama maupun Bunda." Wanita itu berusaha tersenyum meski air mata hampir saja terjatuh membasahi pipinya.


Terlebih saat mendengar suara derap langkah semakin mendekati tempat yang dia pijak.


"Serin!"


Serin lantas membalikkan tubuhnya dan mendapati ibu Arnold berlari kecil kearahnya.


"Mama."


"Kita baru saja menghabiskan waktu dan belanja bersama Nak, kenapa harus pergi secara tiba-tiba seperti ini?" Ibu Arnold langsung memeluk menantunya saat tahu keberangkatan Arnold dan Serin dari Arya.


Memang rencana keberangkatan 3 hari lagi, tapi Serin mempercepat karena sudah menyelesaikan semua urusannya di sini.


"Hanya Korea Mah, Serin bisa balik kapan saja. Kalau perlu Mama yang berkunjung ke Korea untuk liburan bersama." Membalas pelukan mertuanya, sedangkan Arnold hanya bisa mengusap punggung Serin yang mulai bergetar.


Wanita itu telah meminta maaf pada orang-orang yang pernah dia sakiti sebelumnya. Berbaikan dengan orang-orang yang pernah dia musuhi, juga sudah berhasil mengambil hati mertuanya, jadi tidak alasan lagi untuk Serin tinggal.


Terlebih Sean dan Alexa masih belum bisa menerima kerbedaanya meski mendapatkan maaf sepenuhnya dari keluarga bahagia tersebut.


Serin mengerti, sangat sulit menerima kejahatan yang pernah dia lakukan di masa lalu, terlebih kecelakaan tersebut hampir merengut nyawa Sean dan membuat Alexa menderita padahal sedang hamil.


"Jangan pergi ya, tinggalah bersama mama di sini. Bagaimana kalau kamu hamil di sana Nak? Kamukan butuh kasih sayang mama." Ibu Arnold terus saja membujuk.


Terlebih ada rasa sesal di hati wanita paruh baya itu sebab pernah membenci wanita sebaik Serin, bahkan tidak segang-segang menghinanya dengan mengatakan gadis bekas orang gila.


"Aku akan kembali saat hamil dan meminta dimanja oleh Mama."


Dengan terpaksa Serin melerai pelukan mertuanya lebih dulu, menghapus air mata yang telah lancang membasahi pipi.


"Dah Mama, sampai jumpa nanti." Serin mulai melambaikan tangannya sambil mengenggam tangan Arnold yang selesai memeluk ibunya.


Tepat saat akan melewati pembatas untuk penumpang, suara seseorang berhasil menghentikan langkah keduanya.


"Kalian pergi untuk apa? Jika untuk pekerjaan dan kepentingan pribadi pergilah! Tapi jika pergi karena perkataan aku beberapa hari yang lalu, maka tetaplah di sini!"


Serin lantas membalik tubuhnya untuk menatap wanita cantik yang baru saja datang bersama keluarga kecilnya.


"Lexa?"


"Kemarilah sepupuku!" Alexa merentangkan tangannya lebar-lebar sambil tersenyum. Membuat Serin melepaskan genggaman tangan Arnold dan berlari kepelukan Alexa.


"Maafkan kesahalan aku di masa lalu Lexa. Aku harap kita masih tetap menjadi keluarga."


"Tentu, tinggalah di Negera ini. Kamu tidak kasihan pada Bunda Griya, hm? Aku dan Sean sudah hidup bahagia, lantas apa yang membuatmu pergi?"


Alexa melerai pelukannya masih dengan senyuman. "Mau dibilas seluruh air dilautan, itu tidak akan menghilangkan fakta bahwa kau adalah cucu dari Opa."


"Kau menerimaku menjadi adikmu?" Mata Serin semakin berembun. Tidak menyangka Alexa mempunyai hati seluas samudra sehingga bisa memeafkan kesalahan begitu besar.


"Kenapa tidak? Cancel kepergianmu, semua kerungian biar aku yang menutupinya!"


Serin mengeleng sambil menghapus air matanya kasar. "Aku masih mampu menutupi kerugianku sendiri kak Lexa. Terimakasih."


"Sama-sama, hiduplah bahagia bersama Arnold. Dia pria yang baik dan tulus padamu."


Alexa melirik suami dan anak-anaknya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Saat akan berangkat liburan tadi, Alexa mendengar kabar bahwa Serin akan meninggalkan indonesia.


Yang lebih mengejutkannya lagi saat bunda Kania menelpon bahwa Serin pergi karena dirinya. Karena ucapannya beberapa hari yang lalu sempat mengatakan tidak ingin melihat Serin lagi di sekitarnya.


"Sean juga pria yang baik untukmu. Semoga bahagia bersama keluarga kecilmu, dan doakan aku agar segera diberi malaikat kecil."


"Pasti."