
"Pelajarannya sampai di sini dulu, minggu depan kita akan melanjutkan diskusi kelompok tentang pemasaran," imbuh Alexa mengakhiri sesi mengajarnya, terlebih bel pulang berbunyi 5 menit yang lalu.
Untung saja semua siswa tidak berisik dan meminta pulang lebih awal, atau Alexa akan dibuat pusing, terlebih moodnya yang tidak stabil sebagai ibu hamil.
"Terimakasih Bu, sampai jumpa lagi!" sahut siswa XI Ekonomi 3 secara serempak.
Satu persatu siswa mulai keluar dari kelas, ada yang berdesak-desakan adapula yang menunggu kelas sunyi seperti yang Alexa lakukan saat ini.
Demi melingudingi diri dan mematuhi peringatan sang suami, Alexa ekstra berhati-hati agar kandungannya tidak kenapa-napa.
"Biar saya yang bawa bukunya, bu," imbuh ketua kelas.
Alexa mengangguk dan segera memberikan buku paket pada siswanya. Terlebih jika harus ke ruang guru sebelum pulang, itu akan memakan waktu cukup lama. Karena Alexa berada di kelas yang sangat dekat dengan parkiran sekolah.
"Makasih, Ibu pulang dulu ya," ujar Alexa pada gadis remaja yang terlihat manis itu. Gadis yang pernah menangis di perpustakaan karena ingin putus dengan pacarnya.
Alexa berjalan santai menuju pagar sekolah bersama siswa yang lainnya. Berdiri di depan pos jaga untuk menunggu kedatangan suami tercinta yang katanya sudah ada dijalan.
"Mau saya antar Bu? Saya bawa mobil kok," tawar cowok yang siang tadi memegang gitar.
"Tidak perlu, pulanglah dengan selamat kerumah dan belajar yang benar," sahut Alexa dengan senyuman.
Tidak mungkin dia menumpang pada siswanya padahal Sean akan tiba sebentar lagi. Yang ada siswanya akan mendapat masalah karena kecemburuan tuan posesifnya.
Senyuman Alexa mengembang ketika melihat mobil hitam berhenti tepat di depannya. Pemilik mobil turun dengan wajah datarnya, mungkin marah melihat beberapa siswa berdiri di samping Alexa.
"Dia istri saya!" ucap Sean mengenggam tangan Alexa.
"Saya tau om, nggak usah ngegas!" sahut siswa laki-laki lainnya.
Melihat itu, Alexa hanya bisa mengulum senyum. Sampai kapanpun, suami dan siswanya tidak akan pernah akur jika begini. Siswa yang menyebalkan bertemu dengan suami posesif, perpaduan yang sangat sempurna.
Setelah berada di dalam mobil, Alexa menurunkan kaca jedala lalu melambaikan tangan pada siswa yang sejak tadi siang membuat moodnya sedikit stabil.
"Tidak perlu terlalu ramah Lexa!" Sean menarik tangan Alexa dan segera menutup jendela mobil. Dia cemburu melihat istrinya menebar senyum pada laki-laki lain meski bocah ingusan sekalipun.
"Kenapa Husbuku semakin hari semakin posesif hm?" tanya Alexa memeluk salah satu lengan Sean, sementara satunya lagi sibuk menyetir.
"Kenapa tuh? Apa jangan-jangan sekarang Husbu merasa jelek dan tidak percaya diri ya? Itulah mengapa takut aku berpaling dan ...."
Alexa mengigit bibir bawahnya, tidak lupa menyentuh bibir yang baru saja dikecup oleh sang suami.
Sementara pelaku kembali fokus pada jalanan setelah mendapatkan asupan manis di sore hari. Asupan yang mampu membuat bibir Alexa terkunci.
Jika sudah dikecup seperti itu, maka Alexa akan diam saja sambil mengigit bibir bawahnya.
"Jangan digigit terus Lexa!"
"Kenapa?"
"Aku tidak tahan melihatnya," jujur Sean langsung mengundang tawa dari Alexa.
Bukanya berhenti, Alexa malah semakin mengigir bibir bawahnya, bahkan sesekali mengeluarkan suara sesapan padahal wanita itu tidak melakukan apapun.
"Ck, benar-benar nakal kamu ya!" Sean mencubit cuping hidung Alexa setelah menghentikan mobilnya di depan Supermarket.
Pria itu baru teringat susu ibu hamil istrinya sudah habis, juga stok buah semakin menipis.
"Mau ngapain?"
"Manjain istri," sahut Sean menarik tangan Alexa agar turun dari mobil. Dia mengenggam tangan Alexa memasuki minimarket, dan tidak sengaja bertemu Ziko di rak buah-buahan.
"Lexa?" sapa Ziko tersenyum.
Berbeda dengan Sean yang tampak tidak suka melihat keberadaan mantan suami Alexa, dia semakin mengenggam tangan istrinya.
"Ayo, sepertinya tempat ini kurang nyaman!" ajak Sean menarik Alexa pergi padahal baru saja masuk.
Sementara Alexa menyempatkan menoleh hanya untuk menatap Ziko yang masih tersenyum padanya. Entahlah, tapi ada yang aneh dari tatapan yang Ziko berikan.
Seperti menyiratkan peringatan? Tapi apa?