
Sean langsung menurunkan Alexa dari pangkuannya, lalu mendudukkan di sisi ranjang. Tidak lupa pria itu mengambil bantal juga guling di atas tempat tidur.
"Minumlah sendiri dan tidur sendiri pula!" imbuh Sean dengan wajah datarnya. Pria itu hendak meninggalkan kamar, tapi urung saat merasakan pelukan dari belakang.
Alexa memeluk suaminya dan membenamkan pipinya di pundak sang suami. Dia berkata lirih. "Aku hanya bercanda tapi kenapa Husbu menganggapnya serius? Aku yang hamil, tapi kamu yang sensitif."
Sean sontak membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan sang istri. "Karena aku tidak mau kau terluka meski seujung kuku saja Lexa. Kandunganmu baru baik-baik saja dan sekarang ingin minum? Apa kau gila?" Sean melerai pelukannya dan menatap Alexa penuh cinta.
Sementara yang ditatap malah senyum-senyum sendiri tanpa ada rasa bersalah dihatinya. Wanita itu mengalungkan tangan di leher Sean, berjinjit untuk mengecup bibir suaminya yang sedang cemberut.
"Yang mengatakan aku akan minum anggur merah itu siapa, Husbu? Aku membawakannya untukmu. Mari kita bersenang-senang malam ini atas kepergian Serin juga kandungan aku yang jauh lebih baik dari sebelumnya," imbuh Alexa menyentil hidung mancung Sean.
Wanita itu berjalan mundur dan duduk di sofa, membuka tutup botol anggur merah kemudian menuangkannya ke gelas.
"Aku akan minum ini!" Alexa menunjuk susu ibu hamil yang Sean buat tadi sebelum masuk ke kamar.
Ya sesayang dan seperhatian itulah Sean padanya. Semua kebutuhan Alexa pria itu penuhi bahkan hal-hal kecil sekalipun.
"Ck, kau benar-benar menguji kesabaranku," decak Sean berjalan mendekati Alexa. Duduk tepat di samping istrinya.
Pria itu mengambil gelas berisi anggur merah lalu menyodorkan pada Alexa. Keduanya bertos ria sebelum menikmati minuman masing-masing.
Hanya satu botol tidak akan membuat Sean mabuk, jadi tidak masalah. Namun, resikonya dia tidak bisa mencium istrinya. Memang tidak ada yang melarang, hanya saja Sean takut bekas atau aroma anggur merah dapat merusak tubuh wanita yang dia cintai.
***
Pagi hari yang cerah, tidak secerah wajah wanita cantik yang kini duduk di sisi ranjang menghadap jendela kamarnya.
Dia adalah Serin, sejak bangun terus saja menatap keluar jendela. Dendam wanita itu pada Alexa sangat besar hingga terus berpikir hal apa yang harus dia lakukan untuk melukai Alexa.
Sayangnya, sampai saat ini Ziko tidak menjawab telponnya sama sekali. Serin juga tidak tahu harus menelpon siapa untuk dimintai bantuan. Terlebih sekarang dia dalam pengawasan ayahnya.
"Nona, makanlah dulu!" pinta pengawal Jackson yang mencegah terjadinya penusukan semalam.
Serin senyum sinis, tangan wanita itu bergerak dan menyenggol tangan pria tersebut hingga nampang yang dibawa Arnold sang pengawal terjatuh kelantai.
"Aku tidak butuh!" ucap Serin penuh tekan.
"Tapi Nona harus makan agar bisa beraktivitas dengan baik. Tuan akan sedih jika ...."
"Bulsh*it jika Tuan Jackson sedih." Serin tertawa sinis. "Keluarlah dan jangan kembali lagi!" usir Serin.
Dipikiran Serin hanya Sean dan Alexa saja, mungkin jika Serin telah mendapatkan Sean semua dendamnya pada Alexa akan sirna. Sebab Serin hanya menginginkan Sean, dia mencintainya.
"Kenapa Nona tidak pergi saja? Bukankah rumah ini bagai neraka buat Nona?" tanya Arnold yang merasa kasihan melihat Serin.
Terlebih setelah tahu riwayat penyakit mental Serin. Orang sakit mental seharusnya disayang dan diberikan perhatian lebih, bukan malah membuatnya semakin terpuruk.
"Itu bukan urusanmu!" sahut Serin.
Arnold mengangguk mengerti, pria itu melangkah mendekati nakas dan meletakkan selembar tiket.
"Kabari saya jika Nona ingin menemui Nyonya Griya," imbuh Arnold dan meninggalkan kamar yang sangat mewah, sayangnya pemilik kamar tidak mengigingkan kamar tersebut.
Setelah kepergian Arnold, Serin melirik secarik kertas di atas meja. Dia mengambil kertas tersebut dan hendak merobeknya. Namun, urung saat mengingat sesuatu.
Dia kembali meletakkan kertas tersebut, lalu memperhatikan kopernya yang dibawa oleh beberapa orang suruhan Jackson tadi.
"Baiklah aku akan pergi," gumam Serin.