Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 7 ~ Tipu muslihat


Alexa mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran yang dulunya milik Ricard. Melirik sekilas papan nama yang terletak di atas meja bertuliskan.


Presdir utama


Alexa Olivia Jonshon


Wanita bertama indah itu senyum simpul. "Aku tidak pernah berpikir akan ada di perusahaan sebagai pemimpin," gumam Alexa masih menatap papan yang telah diganti oleh Sean.


"Tapi sekalinya berpikir langsung dapat," celetuk Sean berdiri di hadapan Alexa. Pria itu baru saja datang setelah mengurus segala sesuatu. Sean, adalah teman baik Alexa saat kuliah dulu.


Di kehidupan sebelumnya, Sean adalah orang yang sangat Alexa benci, tapi di kehidupan sekarang, Alexa memutuskan berteman untuk mengubah sesuatu di masa depan.


"Itu karena sesuatu," sahut Alexa menyandarkan tubuhnya seraya menumpu kaki dengan kaki lainnya. "Mana kak Ricard?"


"Sebentar lagi dia akan datang. Kalau begitu saya pergi dulu Nona," pamit Sean setelah menyapa Alexa.


Wanita bermata indah itu mengangguk. Mengalihkan perhatian dari ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan.


Atensi Alexa kembali teralihkan ketika pintu kembali di buka. Kali ini Alexa beranjak dari duduknya untuk menyambut Ricard. Memeluk pria tampan itu penuh kasih sayang.


"Terimakasih kak sudah mempercayakan semuanya padaku," ucap Alexa.


"Sama-sama, apapun akan kakak lakukan demi buat kamu bahagia Lexa. Berhati-hatilah dengan pria, jangan bodoh karena cinta," nasehat Ricard.


"Tentu, aku bakal ingat semua patuah kakak."


"Kalau begitu lepaskan pelukanmu Sayang, kakak harus pergi sekarang. Sean akan menemani kamu di perusahaan ini. Ingat, kalau ada masalah langsung hubungi kakak."


Alexa menyengir langsung melerai pelukan kakaknya. "Pergilah carikan aku kakak ipar," candanya dan dibalas decakan oleh Ricard.


"Sayang?"


Alexa menyembulkan kepalanya di balik tubuh Ricard ketika mendengar suara sang suami.


"Kakak pergi dulu," ucap Ricard setelah menyadari kedatangan Ziko. Pria tampan itu lewat begitu saja tanpa menegur.


Naik ke pangkuan Ziko dan bermanja, sebab di luar ada Jesika. Terlebih Alexa mendapat kabar bahwa Ziko baru saja bertemu dengan selingkuhannya.


Tembok, daun bahkan lantai di perusahaan mempunyai mata dan telinga yang siap mengintai semua pergerakan Ziko.


"Kau senang setelah dinobatkan hm? Kau tidak peduli sama perasaanku?" tanya Ziko melingkarkan tangannya di pinggang Alexa.


"Justri karena aku peduli Sayang, makanya aku melakukan hal ini. Bukanya tadi kamu ngomong kalau aku ataupun kamu yang mimpin perusahaan sama saja. Lalu kenapa sekarang seperti jengkel?" tanya Alexa mengusap rahang tegas Ziko.


Dilihat dari sisi manapun, Ziko tengah menahan marah dan itu membuat Alexa sangat senang.


Dulu dia menyerahkan perusahaan ayahnya begitu saja tanpa tahu apa yang direncanakn Ziko, tapi sekarang berbeda. Alexa ingin mengubah segalanya dan mencegah kejadian di kehidupan sebelumnya tidak terjadi sekarang.


"Aku merasa kau tidak menghargaiku Lexa. Bagaimana mungkin aku bekerja menjadi bawahan istriku sendiri," lirih Ziko bersikap seolah-oleh bersedih untuk mengambil simpati Alexa.


"Aku menghargai juga mencintamu, makanya aku rebut perusahaan ini dari kak Ricard. Dia tidak mau menyerahkan perusahaan padamu Sayang, tapi padaku mau. Jadi aku terpaksa mengambilnya. Maaf, kalau ini membuat hatimu terluka." Alexa memasang raut wajah penyesalan.


"Benarkah?" Ziko memastikan.


"Apa aku pernah bohong padamu? Aku sangat mencintaimu Ziko, jadi apapun akan aku lakukan untukmu. Mewujudkan semua keinginanmu."


"Aku memang tidak salah memilih seorang istri." Ziko langsung memeluk mesra tubuh seksi Alexa, membuat Jesika yang sejak tadi mengintip terbakar api cemburu dan itu salah satu tujuan Alexa.


Membuang Ziko? Nanti setelah Jesika meninggalkan Ziko, juga telah mencintanya. Karena Alexa tahu ditinggalkan oleh orang yang dicintai sungguh menyakitkan.


"Aku tidak akan datang keperusahaan. Aku mempercayakan sepenuhnya kepadamu," lanjut Alexa. "Wakil Presdir hanya gelarmu, tapi posisimu tentu saja Presdir utama."


"Benarkah?" Mata Ziko berbinar sempurna.


"Benar Sayang." Alexa segera turun dari pangkuan Ziko setelah Jesika telah pergi.


Diam-diam Alexa senyum licik. Ziko tidak bisa melakukan apapun tanpa persetujuannya, sebab keputusan besar hanya diambil oleh Presdir saja.