Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Prt 171 ~ Kita nggak mau dedek


Aily tertawa puas setelah berhasil membangungkan Aidan dan Aiden. Gadis kecil itu sudah menebak sejak awal kalau para kakaknya hanya pura-pura tidur.


Sasaran paling empuk tentang mengerjai seseorang ditujukan pada Aidan yang tidak suka berbasa-basi dan tentu saja mempunyai kesabaran setipis tisu. Berbeda dengan Aiden, meski banyak diam dia mempunyai kesabaran seluas semesta.


"Yey Ai tau kok kalian pura-pura bobo." Aily masih cekikikan sendiri, berbeda dengan kedua kakaknya yang saling tatap satu sama lain.


"Ini semua gara-gara kamu! Coba aja tidak teriak!" Omel Aidan.


"Aku bangun karena Ai mau ngasih makan upil kak Idan. Jorok!"


"Kak Idan sama kak Iden jangan marah-marah nanti Ai laporin sama ayah loh kalau kakak belajar bohong."


Aidan dan Aiden memutar bola matanya malas melihat gadis kecil yang berada di tengah-tengah mereka. Tertutama Aidan, kalau saja Aily bukan adiknya, bocah itu mungkin sudah melemparnya kelaut.


"Ai kenapa ke kamar?" tanya Aiden yang sangat sabar menghadapi tingkah adiknya.


Aily bangkit dari duduknya dan membisikkan sesuatu di telinga kakaknya, membuat dua bocah laki-laki itu membulatkan matanya tidak percaya.


"Ayo!" Ajak Aidan lebih dulu turun dari ranjang.


Aily dan Aiden mengikuti dari belakang, mereka siap berperang malam ini demi menyelamatkan posisi masing-masing. Langkah ketiganya berhenti di ambang pintu melihat orang tua mereka saling berpelukan.


"Bunda cium-cium Ayah, itu tidak boleh!" Aidan mengembungkan pipinya. Yang boleh mencium hanya dirinya saja.


"Aku tidak mau punya dedek!" Aiden ikut-ikutan, terlebih tadi Aily membisikkan kalau ayah dan bunda mereka akan membuat dedek.


Aily tidak sengaja mendengarnya saat ayah dan bundanya berada di dapur tadi.


"Ai juga tidak mau!"


"Ayah-Bunda!" Teriak ketiganya bersamaan sehingga berhasil menghentikan pergerakan Sean yang akan melahap habis bibir Alexa.


"Sayang?"


"Kita mau tidur sama Ayah!"


Sean menghela nafas panjang melihat kedatangan tiga anak-anaknya. Pria itu mengira sudah menidurkan mereka dengan benar.


"Kalian sudah besar Nak, tidak ada namanya tidur sama ayah atau bunda!"


"Sini Sayang, kita tidur sama-sama." Berbeda dengan Sean, Alexa malah memanggil ketiga anak-anaknya naik ke ranjang.


Hal itu semakin membuat Sean cemburu, sudah tiga hari ini dia tidak mendapat jatah apapun dari istrinya. Dan malam ini harus gagal lagi?


"Lexa, mereka sudah besar, Sayang."


"Diam Ayah, dan baringlah!" perintah Alexa tidak ingin mengecewakan anak-anaknya.


Sean menghela nafas panjang, membaringkan diri tepat di pinggir ranjang. Di sampingnya ada Aily, paling tengah Aiden dan samping Alexa ada Aidan.


"Idan juga!"


"Iden juga!"


Lagi dan lagi Alexa dan Sean dibuat menganga oleh tingkan ajaib anak-anaknya.


"Alasanya kenapa tuh?" Canda Alexa.


"Pokoknya tidak mau!" Ketiganya kompak menyahut sambil mengembungkan pipi masing-masing.


***


"Aily Cantik, Aidan tampan dan anak ayah Aiden paling sabar, mana nih?" Suara Sean mengema di ruang tamu.


Membuat ketiga bocah yang saling berebutan mainan segera mendekat.


"Ai disini!"


"Iden disana!" Aiden tertawa.


"Idan masih tidur!"


Sean mengulum senyum melihat anak-anaknya telah berbaris rapi meski mengeluarkan jawaban tidak masuk akal. Pria itu menunduk untuk mengecup satu persatu pipi anak-anaknya dan memberikan bekal sesuai warna kesukaan masing-masing.


"Makasih Ayah, kami sayang Ayah!" Memeluk ayah mereka cukup erat.


"Ayah juga Sayang kalian. Ayo masuk mobilnya yang rapi sambil nunggu bunda beres-beres!"


Tiga bocah yang wajahnya mirip tersebut menganggukkan kepalanya, berjalan secara teratur menuju mobil untuk berangkat sekolah bersama ayah dan bundanya.


"Om Arya!" panggil Aily setelah sampai di dalam mobil.


"Hm."


"Tante cantik mana?"


"Di rumah sama dedeknya, mau ketemu?" Arya melirik Aily, anak bosnya yang paling jahil melebihi siapapun.


"Ai mau ketemu tante cantik. Ai mau tanam-tanam bunga lagi."


"Kalau gitu izin sama ayah bunda dulu ya. Nanti om anter kerumah tante cantik." Arya tersenyum saat gadis kecil dengan seragam sekolah kanak-kanak itu maju ke depan.


Aily menurunkan kaca mobil untuk melihat ayah dan bundanya yang entah sedang membicarakan apa di depan rumah.


"Ayah-Bunda ayo! Jangan pacaran mu, Ai tidak mau dedek!"