Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 92 ~ Drama King


"Dasar bodoh, mencegah Alexa pulang saja kau tidak bisa!" omel Serin pada Irwan di seberang telpon.


Wanita itu kini ada di dalam mobilnya dengan perasaan kesal. Dia mengira Alexa sama seperti wanita pada umumnya, lebih tepatnya seperti Kania yang baik hati dan mudah percaya dengan orang lain.


Namun, apa yang dia pikirkan salah besar, Alexa bukanlah wanita yang mudah di kalahkan.


"Aku sudah berusaha Serin, tapi mau bagaimana lagi."


"Buat mereka bertengkar aku tidak mau tahu!" perintah Serin.


"Kau punya ide?" tanya Irwan di seberang telpon.


Serin tersenyum licik, selintas ide muncul di kepalanya tentang bagaimana membuat mereka bertengkar hingga dia punya celah untuk masuk kerumah tanggan mereka.


Serin menceritakan semua rencananya pada Irwan, kemudian memutuskan telpon begitu saja.


"Mari kita lihat apa yang akan terjadi. Sean hanya milikku Lexa, bukan milikku. Dua tahun yang lalu aku sudah menyukainya tapi kau malah merebutnya dariku," geram Serin tidak terima ada yang memiliki Sean selain dirinya.


Mungkin Sean tidak mengingat Serin, tapi wanita itu hapal setiap pertemuan mereka dua tahun yang lalu. Dulu Serin seringkali ikut bersama ayahnya untuk menghadiri beberapa pesta perusahaan, dan selama itu pula dia selalu bertemu dengan Sean.


Serin sering kali mendekati Sean meski hanya sekedar menyapa, tapi Sean menganggapnya angin lalu.


Sean tidak pernah tergoda padanya, bahkan pria itu pernah berkata dia hanya menyukai pria, bukan wanita.


"Kau salah karena membohingiku Sean, kau mengatakan tidak menyukai wanita tapi kau menikah dengan Alexa!" geram Serin.


***


Mendengar suara pintu tertutup, Sean buru-buru membaringkan tubuhnya di ranjang dan meringis tidak karuan. Padahal rasa sakit diperutnya hampir menghilang, tapi karena ingin dimanja pria itu melanjutkan sandiwaranya.


"Maaf aku lama," ucap Alexa mendudukkan diri di sisi ranjang, mengelus perut Sean penuh kasih sayang.


"Sakit banget?" tanya Alexa dengan raut wajah khawatirnya.


"Banget Lexa, rasanya mau nangis tapi malu," lirih Sean merubah posisinya memeluk pinggang ramping Alexa.


"Sepertinya Husbu salah makan sesuatu," gumam Alexa mengelus rambut Sean yang acak-acakan.


Sementara Sean diam-diam tersenyum karena berhasil membohingi istrinya.


"Aaakkkhhhh, sakit banget!" teriak Sean.


"Kita kerumah sakit ya? Wajah kamu sudah tidak sepucat tadi tapi aku takut," bujuk Alexa dengan mata berkaca-kaca, takut suaminya benar-benar menderita.


Namun, Alexa dengan patuh mengusap perut kotak-kotak milik Sean penuh kelembutan dan kasih sayang.


Sesekali wanita itu mengecup kening Sean untuk menenangkan. "Sepertinya makanan yang aku masak buat kamu sakit perut seperti ini," sesal Alexa.


"Jangan sedih Lexa, bukan salah makan kok. Memang lagi diare saja."


"Sudah mendingan? Makan dulu ya, terus minum obat lagi. Setelah minum obat dan belum sembuh juga kita kerumah sakit," ujar Alexa.


Wanita itu berdiri dari duduknya dan hendak pergi tapi tangannya malah ditarik oleh Sean.


"Suapin!" pinta Sean dengan wajah memelas.


Alexa menganggukkan kepalanya yang membuat Sean berteriak senang dalam hati. Tepat saat pintu tertutup, Sean mengepalkan tangannya ke udara.


"Ternyata rasanya menyenangkan dimanja seperti ini. Terimakasih sakit perut karena datang diwaktu yang tepat," gumam Sean.


Pria itu menatap dirinya pada pantulan cermin, memastikan ekpresi wajahnya sudah meyakinkan bahwa dia benar-benar sakit.


Tapi sepertinya drama yang dia mainkan harus dia akhiri setelah minum obat, jika tidak dia akan mendarat di rumah sakit.


Melihat knop pintu bergerak, Sean langsung merebahkan tubuhnya tanpa memperhatikan sekitar.


Dugh


"Aaakkkkhhhhh, sialan sakit banget," batin Sean mengusap kepalanya yang membentur kepala dipan.


Meski begitu dia tetap tenang karena takut Alexa mengetui dramanya.


"Sakit lagi ya? Kok wajahnya sampai merah?" tanya Alexa meletakkan sup ayam di atas nakas.


"Husbu?" panggil Alexa.


Sementara yang dipanggil sibuk mengendalikan diri karena rasa sakit di kepalanya. Ternyata karma dibayar tunai.


"Sudah tidak terlalu sakit, aku cuma lapar," sahut Sean.


"Ayo makan." Alexa membantu Sean untuk duduk dan menyuapi suaminya sup ayam dengan telaten.


Karena lapar, Alexa juga ikut makan dengan satu sendok dan piring berdua.