
Brugh
Tubuh seseorang langsung terjatuh ke lantai. Mungkin terkejut mendengar semua kebenaran yang telah terungkap di depannya sendiri.
"Bunda!" pekik Alexa. Dia langsung melepaskan rangkulannya dari Ziko dan menolong bundanya yang telah tergeletak di lantai. "Bangun Bunda, maafin Lexa," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Alexa menyingir karena Ricard mendorong tubuhnya pelan. Pria itu langsung mengendong Kania.
"Selesaiakan masalah kalian!" ucap Ricard dan membawa Kania menuju kamar utama.
Sementara Alexa terdiam di tempatnya, dia khawatir pada bundanya tapi dia juga harus menyelesaiakan masalahnya bersama Ziko. Wanita bermata indah itu menatap suaminya yang tengah meringis.
Wajah lebab dan sudut bibir berdarah menghiasi wajah tampan Ziko, tentu saja ulah Ricard.
"Ayo!" ajak Alexa menarik tangan Ziko menuju perpustakaan. Di belakang Alexa ada Sean yang setia mengukuti dengan membawa map di tangannya. Map yang telah dia bawa dari pengadilan.
Alexa duduk di hadapan Ziko dengan wajah datarnya, tidak ada lagi tatapan cinta yang sering kali wanita itu perlihatkan. Kini Alexa telah memperlihatkan sifat aslinya pada Ziko.
"Sudah aktingnya?" tanya Alexa menumpu kaki dengan kaki satunya. Dia melirik Sean seakan menyuruh meletakkan map tersebut.
Dengan segera Sean meletakkan map di hadapan Ziko.
"Sepertinya kita harus mengakhiri sandiwara hari ini, Ziko."
"Maksud kamu apa Sayang?" tanya Ziko dengan tatapan tak percaya. Pria itu tiba-tiba menjadi bodoh hingga tidak bisa mencerna sesuatu dengan cepat.
Mungkin karena hari ini Ziko mendapat begitu banyak kejutan dari istrinya. Jesika yang telah masuk ke penjara, posisinya sebagai wakil presdir hilang dan sekarang mengakhiri sandiwara.
Wanita itu memajukan tubuhnya untuk membuka pulpen dan menyerahkannya pada Ziko. "Mari kita akhiri dengan cara yang baik. Tandatangani perceraian tersebut sekarang juga!"
"Tidak, aku tidak akan menandatangani apapun Lexa. Aku tidak akan menceraikanmu dengan mudah setelah kau berhasil mengambil hatiku!" tolak Ziko.
Ini tidak pernah ada dalam bayangan Ziko sebelumnya. Alexa akan menceraikan dirinya setelah dia berhasil mencintai wanita itu dan memenjarakan Jesika.
"Lexa, bukankah kamu mencintaiku? Kita bisa hidup bersama-sama. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi. Aku akan menjadi suami yang baik." Ziko berusaha meraih tangan Alexa, tapi wanita itu menyentak kasar seperti engang disentuh olehnya.
"Rasa cintaku telah hilang di hari pernikahan kita Ziko. Rasa cinta yang sangat tulus itu tersapu dengan rasa sakit saat melihat kamu bercumbu dengan Jesika di kamar pengantin kita!" jawab Alexa tegas dengan tangan terkepal hebat.
Setiap mengingat momen itu hati Alexa langsung terbakar. Dia mengira kehidupannya sekarang akan berbeda dengan kehidupan sebelum berreinkarnasi, tapi sepertinya semua pria sama saja. Tidak bisa di percaya untuk membawa hati yang tulus.
"Le-lexa, malam itu aku digoda sama Jesika. Aku benar-benar tidak bermasud menghancurkan pernikahan kita." Ziko mendekati Alexa dan bersujud tetap di samping lutut wanita itu.
Hendak meraih kembali tangan Alexa tapi lagi-lagi disentak begitu saja. "Maafkan aku Lexa dan beri aku kesampatan kedua. Aku akan ...."
"Tidak ada kesempatan kedua untuk pria bajing*an sepertimu!" bentak Alexa langsung berdiri untuk menghindari Ziko.
"Kau mengira aku sudi merawat pria cacat sepertimu? Kau menyusahkan Ziko!" hina Alexa. "Tandatangani surat perceraian itu!" lanjut Alexa.
"Tidak, aku tidak mau berpisah denganmu," jawab Ziko di sertai gelengan kepala.
"Kau tandatangan atau tidak kita akan tetap berpisah karena bukti perselingkuhanmu bersama Jesika sudah banyak. Tapi aku memberi kesempatan untuk tandatangan dan mendapatkan hakmu sebagai suamiku!" ucap Alexa. Wanita itu berharap dengan memberikan sejumlah uang Ziko akan menandatanganinya, karena Alexa tahu Ziko sangatlah serakah.
Alexa menganga tidak percaya melihat Ziko merobek surat cerai tersebut. "Aku tidak membutuhkan hak apapun lagi Lexa, aku hanya mencintaimu!"