Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 71 ~ Resepsi


Janji suci pernikahan akhirnya telah selesai diucapkan oleh sepasang kekasih yang kini telah resmi menjadi suami istri.


Suara gemuruh tepuk tangan memeriahkan berakhirnya sumpah yang telah Alexa dan Sean ucapkan di depan para tamu undangan.


Keduanya saling melempar senyum dan mengengam tangan masing-masing. Jantung Sean seakan ingin melompat dari tempatnya sekarang juga melihat betapa cantiknya Alexa saat ini.


Bukan hanya itu, bahkan sekarang Sean masih tidak percaya telah berganti status sebagai suami Alexa.


"Benarkah aku sudah menjadi suamimu?" tanya Sean memastikan.


"Iya Suamiku," sahut Alexa.


Pipi Sean tiba-tiba merona mendengar jawaban itu keluar dari Alexa. Dengan sigap pria itu menarik pinggang ramping Alexa agar semakin dekat dengan tubuhnya. Menunduk untuk meraih bibi yang sejak tadi merekah karena tertawa.


Suasana riuh dari para tamu yang menyuruh Sean untuk mencium Alexa semakin membuat pria itu bersemangat.


Satu senti lagi bibir Sean mendarat di bibir ranum milik Alexa, dia memejamkan matanya menikmati betapa lembutnya bibir itu dia kul*um.


"Sean udah," bisik Alexa mendorong dada Sean. "Semua tamu memperhatikan kita."


"Ah-iya ak-aku tadi ... Baiklah Lexa." gugup Sean sampai-sampai dia bicara tanpa terkonsep sedikitpun.


Kali ini pria itu benar-benar salah tingkah. Sungguh Sean baru merasakan dahsatnya rasa gugup dihari pernikahan.


"Waktunya pelemparan bunga," bisik Sean.


Alexa mengangguk sebagai jawaban, dia dan Sean berdiri membelakangi para tamu. Di bawah panggung sudah ada beberapa wanita dan pria masih lajang menunggu buket bunga tersebut.


"Satu ... Dua ... Tiga ..." Teriak Alexa dan Sean berbarengan, lalu melempar bunga sekuat tenaga.


"Yey aku yang dapat!"


Alexa dan Sean langsung berbalik untuk melihat siapa pria yang berteriak senang tersebut. Keduanya mengulum senyum melihat Ricard seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.


Ricard langsung berlutut di depan Delia yang sejak tadi menemani Ricard. Pria itu menyerahkan bunga pada Delia di depan semua tamu.


"Will you marry me, Delia?" pinta Ricard, membuat seseorang yang tidak jauh dari kerumunan orang-orang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tidak terima melihat keromantisan mantan istrinya.


"Jawab dulu kak!" pinta Alexa turun dari panggung bersama Sean.


Delia langsung menganggukkan kepalanya, membuat para wartawan yang kebetulan ada di acara itu mulai mengambil gambar untuk konsumsi publik nantinya.


Di hari yang bahagia untuk Alexa dan Ricard. Ada dua orang manusia berbeda gender merasakan sakit yang sama karena harus menyaksikan kedua pasangan itu tertawa bahagia.


"Sungguh kau akan menyesal telah merebut Sean dariku," gumam seorang wanita dan meninggalkan gedung tersebut.


Wanita itu tidak sengaja bertabrakan dengan mantan suami Delia di parkiran.


"Hati-hati kalau jalan!" gerutu sang Wanita dan masuk ke mobilnya, begitupun mantan suami Delia.


Kembali pada mempelai pengantin yang tampak bahagia menyambut ucapan selamat dari pada tamu. Entah dari rekan bisnis atau teman jauh yang turut datang kepernikahan mereka.


"Apa kamu lelah?" bisik Sean pada Alexa setelah tamu mulai berkurang.


"Sedikit, tapi tidak masalah. Hal seperti ini tidak terjadi setiap hari. Mari kita nikmati saja," jawab Alexa dan dijawab anggukan oleh Sean.


Pria itu menarik tangan Alexa agar duduk di pelaminan karena tidak ada lagi tamu yang menghampiri.


"Benarkah kita sudah menikah?" lagi Sean kembali bertingkah. Pertanyaan itu sudah Sean ulang puluhan kali, membuat Alexa pusing mendengarnya.


"Sesenang itu?"


"Hm, aku sangat senang karena kita akhirnya menikah Lexa." Sean menyandarkan kepalanya di pundak Alexa. "Aku mengira saat kau menikah dengan Ziko itu adalah akhir dari kisah cintaku," lanjutnya.


"Apakah rumah tanggaku hancur karena sebagian dari doamu?"


"Lexa, kau bicara apa hm?" Sean mendelik.


"Aku hanya bercanda suamiku, jadi berhentilah cemberut seperti itu, malu sama tamu."


"Hm, baiklah istriku!"