Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 107 ~ Mabuk bersama


Alexa meletakkan ponselnya di atas meja setelah bicara dan meminta izin pada sang suami. Meski respon yang diberikan Sean sedikit tidak bersahabat, tetap saja dia bersiap-siap untuk memenuhi ajakan Irwan makan malam bersama.


Berurusan dengan Sean nanti saja, sekarang dia harus menangani rubah licik seperti Serin.


Alexa menenteng tas tangannya keluar dari apartemen setelah jarum jam sudah menunjukkan angka 8 malam. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran yang telah Irwan persiapkan.


"Aku harap kau bisa bekerja dengan baik malam ini," ucap Alexa pada orang keperyaanya di seberang telpon.


Rencana Serin dan Irwan sudah Alexa ketahui sejak pagi atas laporan orang suruhanya, jadi Alexa memerintahkan agar membatalkan rencana tersebut dan menjalankan rencananya sendiri.


Alexa mengembangkan senyumnya setelah sampai di restoran yang bisa dikatakan cukup liar sebab menyediakan minuman keras. Terlebih Irwan memesan ruangan Vip untuk keduanya.


"Mari kita lihat rencana siapa yang akan berhasil malam ini," gumam Alexa.


Dia membuka pintu perlahan dan mendapati Irwan duduk sendirian dengan kaki bertumpu pada kaki lainnya. Belum lagi tangan yang di rentangkan lebar-lebar seraya bersandar pada sofa.


Cukup tidak sopan untuk ukuran menyambut tamu, tapi tidak masalah bagi Alexa.


"Saya telat 15 menit," imbuh Alexa langsung mendudukkan diri di kursi panjang. Dia ikut menumpu kakinya, hingga belahan roknya sedikit tersingkap.


"Bahkan jika telat setengah jampun saya akan tetap menunggumu Lexa."


"Benarkah?" Salah satu alis Alexa terangkat.


"Tentu, ah ya saya sudah memesan cemilan untuk menemani minuman kita."


"Ck, saya mengira pak Irwan pria yang cukup baik, ternyata sangat liar." Decak Alexa.


Wanita itu mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan yang hanya diterangi lampu berwarna biru dan terlihat sedikit gelap.


"Andai saya tahu makan malamnya akan seliar ini, saya tidak akan menolak ajak pertama pak Irwan."


Alexa meraih botol so*ju di atas di atas meja kemudian membukanya. Dia menuangkan ke gelas milik Irwan juga miliknya.


"Sebenarnya saya tidak terlalu kuat minum, tapi demi menghargai pak Irwan saya akan minum dengan tenang." Alexa mengangkat gelasnya kemudian menyodorkan pada Irwan.


Irwan langsung menyambut gelas Alexa dan bersulang seperti tengah merayakan sesuatu. Sesekali Irwan melirik penampilan Alexa yang cukup menarik malam ini.


"Tenggorokan saya terasa terbakar," keluh Alexa pura-pura tidak berdaya di depan Irwan.


"Mari kita lihat sampai dimana kemampuan kamu mengendalikan alkohol Irwan," batin Alexa senyum licik.


Alexa menyenggol sesuatu di atas meja hingga terjatuh, saat itulah dia menunduk untuk mengambilnya. Hal itu Alexa gunakan untuk mengkode pelayan suruhannya agar segera melaksakan perintahnya.


"Apakah kita bisa bicara informal saja Lexa? Bukankah kita teman?"


"Kenapa tidak, Irwan."


Alexa kembali menuangkan soj*u kegelas Irwan dan terus memuji pria itu agar selalu ingin meminum tuangannya.


"Kau tahu Irwan? Aku hanya menceritakan tentang masalah kehamilan padamu, tapi orang lain bisa mengetauhinya juga. Aku sangat sedih," imbuh Alexa setelah meneguk segela Soj*u bersama Irwan.


Dia senyum licik melihat wajah Irwan yang telah memerah, sudah dipastikan telah mabuk berat. Ayolah, 3 botol soj*u tidak membuat Alexa mabuk dan hilang kesadaran, dan ini baru 5 botol untuk berdua dan Irwan sudah mabuk, sangat cemen.


"Apa kau yang memberutahukannya Irwan?" tanya Alexa.


"Kau menuduhku Lexa? Ayolah aku tidak berniat membocorkan hal itu, tapi dia memberiku uang," sahut Irwan dengan kesadaran minimnya.


"Kau mengenal Serin?"


"Tentu saja aku mengenalkanya, dia adalah perempuan bodoh yang rela kehilangan banyak uang karena pria. Kau tahu Lexa?" Irwan berpisah tempat duduk di samping Alexa, membuat dua pangawal Alexa waspada kalau saja wanita itu disentuh oleh Irwan.


"Serin mencintai suamimu, dia terobsesi pada suami. Dia itu gila," lirih Irwan menumpu kepanya di meja.


"Bagaimana bisa dia menyukai suamiku, padahal dia tinggal di korea?"


Irwan tertawa sangat renyah, kembali mengangkat kepalanya dan menunjuk Alexa. "Kau tidak tahu kan apa yang terjadi dua tahun yang lalu? Hah, kalu memang bodoh sepertinya. Lexa, ayo tidurlah bersamaku. Aku akan membuatmu ...."


Bugh


Irwan tersungkur ke lantai karena mendapat pukulan keras dari Sean.