
Sean duduk dengan tenang di sebuah sofa menunggu calon istrinya mencoba baju pengantin yang akan digunakan saat resepsi nanti.
Tidak ada kata bosan ataupun lelah menghampiri Sean jika itu bersama Alexa. Yang ada rasa bahagia setiap detiknya yang dia rasakan.
Sean berdehem kecil melihat calon istrinya keluar dari ruang ganti baju memakai gaun yang sangat indah. Gaun itu semakin menambah kecantikan Alexa yang memang pada dasarnya sudah cantik
"Bagaimana?" tanya Alexa penuh senyuman.
"Cantik," jawab Sean tanpa berniat mengalihkan tatapannya dari Alexa. Sungguh calon istrinya seperti bidadari. Bolehkan Sean menyembunyikan Alexa di kamar saja saat resepsi agar tidak ada yang bisa menikmati kecantikannya?
"Apanya yang cantik?"
"Kamu."
Alexa menghela nafas kasar, semakin mendekati Sean meski gaun itu sedikit berat di tubuhnya.
"Aku bertanya tentang bajunya Sean!" ucap Alexa penuh tekanan.
"Cantik Lexa. Semuanya sangat cantik," puji Sean.
"Benarkah?" Alexa mengulum senyum menggoda, sejak tadi dia sadar kalau Sean sedang salah tingkah. Bolehkan Alexa semakin membuat pria itu meleyot?
"Kenapa menatapku seperti itu, hm?"
"Bukankah akan lebih cantik kalau aku memakai lingerie seperti malam itu Tuan Sean?" bisik Alexa, lalu berlari masuk keruang ganti untuk menyimpan gaun tersebut.
Sementara Sean diam mematung di tempatnya. Jantung pria itu berpacu dengan hebat, belum lagi telinga dan wajah yang mulai memanas. Benar-benar Alexa sangat pandai membuatnya salah tingkah setiap detiknya.
"Tuan!" panggilan sang karyawan.
"Hm," gumam Sean tanpa melirik.
"Sekarang giliran Tuan untuk mencoba jas yang ...."
"Jasnya sudah cocok tidak perlu di coba lagi," tolak Sean dan menghampiri Alexa yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Kenapa?" tanya Alexa tanpa dosa.
"Pergi dan membuatmu kenyang sampai sembilan bulan!" bisik Sean dan mengamit pinggang Alexa meninggalkan butik tersebut.
***
"Sean, ayo kita mulai! Katanya mau buat aku kenyang sembilan bulan," goda Alexa memeluk Sean dari belakang.
"Nanti."
"Kapan?" Alexa kembali menggoda.
"Setelah kita menikah Lexa, jadi sabarlah," sahut Sean terus mengaduk nasi goreng yang dia buat.
Alih-alih makan siang diluar, Alexa malah memaksa Sean agar pulang ke apartemen saja dan menyuruh Sean memasak sesuatu. Menolak? Tentu saja Sean tidak kuasa menolak permintaan dari calon istrinya.
Baru calon istri bucinnya berada di atas langit, entah bagaimana jika sudah menikah.
"Duduk dan nikmati makan siang kamu!" perintah Sean. Tatapan pria itu tertuju pada kotak susu coklat yang berada di meja patri. Dia bergeser dan menyembunyikan susu tersebut dari Alexa.
"Ngapain?" tanya Alexa penuh selidik.
"Tidak ada, aku hanya memeriksa bahan makanan di dapur," sahut Sean. Pria itu ikut bergabung di meja makan setelah mengamankan susunya.
"Setelah menikah kita benar-benar akan tinggal disini Sean? Kau tidak mau tinggal dirumah?" tanya Alexa memastikan.
Memang tempat tinggal dan rencana masa depan sudah mereka diskusikan lebih dulu setelah hari pernikahan telah di tentukan. Alexa bertanya sekarang hanya untuk memastikan semuanya.
Wanita bermata indah itu sedikit aneh dengan semua keputusan Sean. Harusnya pria dihadapannya ini memanfaatkan semua kekayaan yang dia punya. Membeli rumah baru, mobil baru dan mengklaim perusahaan seperti yang di lakukan Ziko dulu.
"Kamu tidak mau tinggal di sini? Aku hanya punya tempat ini Lexa. Kau mau rumah baru?" tanya Sean. Jika jawaban Alexa ya, maka Sean akan menjual beberapa asetnya untuk membelikan rumah baru untuk kekasihnya.
"Tidak, aku cuma mau memastikan. Tinggal di sini tidak masalah bagiku Sean."
"Bukan terpaksa kan?"
"Tidak sama sekali. Bukannya setelah menikah seorang istri memang ikut suaminya? Menikmati segala usaha sang suami dan menghargai semua keputusannya."
"Ck, sepertinya aku sangat beruntung akan menikah dengan wanita sepertimu. Sangat pengertian," puji Sean mengulum senyum.
"Baiklah karena kau mengatakan beruntung menikah denganku, maka aku rugi menikah denganmu Sean."
"Lexa!"
"Canda Sayang, ayo makan!"