
Merasa tidak bisa menjemput anak-anaknya yang berada di sekolah, Alexa terpaksa menghubungi Sean untuk mewakili hari ini karena takut Aily menangis jika kelamaan menunggu.
Wanita itu sedang duduk di ruang guru sambil mencatat sesuatu di kertas not miliknya.
Senyuman Alexa mengembang sempurna setelah sambungan telpon terhubung pada sang suami.
"Husbu sibuk?" tanya Alexa.
"Tidak Sayang, kenapa?"
"Sepertinya aku tidak bisa menjemput anak-anak hari ini. Sama Husbu bisa?" Tanyanya tidak enak karena tahu jarak sekolah dan kantor sangatlah jauh.
"Biar aku yang jemput anak-anak, jangan lupa makan siang nanti."
"Makasih Husbuku."
Alexa kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali sibuk, sementara di kantor Sean membereskan semua berkas penting yang sedang dia kerjakan.
Bohong jika Sean tidak sibuk, bahkan pria itu ada pertemuan sebentar lagi. Namun, demi tidak membebani sang istri juga anak-anaknya yang kecewa dijemput oleh orang lain, Sean rela melakukan apa saja.
Pria itu merapikan jasnya dan keluar dari ruangannya.
"Arya, ubah jadwal pertemuan saya dengan Anggara group di luar jam kerja, itupun kalau pihak mereka ingin!" perintahnya.
"Baik Tuan."
Karena Arya sedang sibuk mengantikan dirinya, alhasil Sean pergi sendiri ke sekolah anak-anaknya sebab sebentar lagi jam pulang sekolah tiba.
Jika pihak Anggara Group tidak ingin mengundur pertemuan, maka Sean rela kehilangan kersama antar perusahaan.
***
Sean memarkirkan mobilnya tepat di depan pagar sekolah dan berjalan santai memasuki sekolah kanak-kanak yang kebanyakan dihuni oleh wanita-wanita yang menunggui anak-anak mereka.
"Sean!"
Langkah kaki Sean berhenti tapi urung untuk berbalik, membuat orang yang memanggil segera mendekat dengan senyumannya.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini, apa kabar dengan Alexa?"
"Sangat baik," sahut Sean tapi tatapannya tertuju pada tiga anak berwajah mirip berlarih ke arahnya.
"Boleh aku bertemu dengan Alexa? Aku ingin meminta maaf dengan benar karena telah ...."
"Ayah!" Tiga bocah kecil langsung memeluk Sean yang baru saja berjongkok dan menghiraukan wanita yang sejak tadi berusaja mengajaknya bicara.
Mungkin sikap Serin sudah berubah baik, tapi tidak dengan respon Sean yang tidak pernah mengajaknya bicara sebab berusaha menjaga perasaan Alexa.
Sean tidak ingin membuat Alexanya cemburu meski sedetik saja.
"Kenapa bukan Bunda yang jemput Idan?"
"Idan tidak senang kalau ayah yang jemput?" tanya balik Sean.
"Idan senang kok." Aidan memperlihatkan gigi rapinya karena tersenyum.
Biasanya Alexalah yang menjemput tiga malaikat kecilnya, tapi sekarang pengecualian.
"Ai senang banget dijemput sama Ayah, besok-besok ayah lagi ya?" pinta Aily yang berada di gendongan Sean, berbeda dengan Aidan dan Aiden yang berjalan kaki menuju mobil di depan pagar sekolah.
Mungkin karena Aily satu-satunya anak perempuan itulah mengapa Sean sangat memanjakan dirinya.
"Ayah?"
"Kenapa, Sayang?" tanya Sean langsung menoleh ke belakang dimana Aiden sedang mengajaknya bicara.
"Tante itu terus liatin ayah dari tadi. Ayah kenal?"
Sean tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ternyata Aiden terlalu peka akan sekitar sehingga menyadari Serin yang terus saja memperhatikannya sejak tadi.
"Tante itu sepupu jauh Bunda, terus istrinya Om Arnold."
"Saudara om Arya?" tanya Aidan ikut menimpali.
"Iya, sekarang sudah mengerti kan?"
Aidan dan Aiden lantas menganggukkan kepalanya. Kedua bocah itu paling tidak suka jika ada yang menganggu ayahnya dan membuat bunda kesayangan mereka bersedih.
"Anak-anak ayah mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Sean mulai melajukan mobil secara perlahan meninggalkan lingkungan sekolah.
Ayli yang sejak tadi sibuk menghitung sesuatu langsung menatap ayahnya. "Ai mau kerumah om Arya tanam-tanam bunga, Ayah."
"Pulang kerumah, kata bunda kalau ada tugas tidak boleh jalan-jalan," sahut Aidan.
"Ck, kenapa anak-anak ayah pada pintar-pintar sih hm? Jadi senang liatnya." Puji Sean.
Pria itu memutuskan membawa anak-anaknya pulang kerumah, tidak lupa mengabari Arya agar membawa Aily kerumah bertemu dengan Ayra untuk berkebun kecil-kecilan.