
"Sean, aku cuma tidak mau ada yang menganggu rumah tangga kita. Terlebih Serin pernah nyelakain kita sampai punggung kamu sakit beberapa hari," jelas Alexa mengelus dada bidang Sean yang terbalut kemeja.
"Kenapa cemberut seperti itu?" tanya Sean melirik istrinya. Padahal dia hanya bertanya tadi, tapi respon Alexa sangat berlebihan. Hm, sepertinya sebentar lagi dia akan libur dapat jatah karena Alexa akan datang bulan.
"Takut Husbu marah."
"Ck, aku cuma bertanya Lexa bukan marah. Hati-hati ya Sayang, aku tidak mau kamu terluka karena wanita sepertinya." Sean beralih mengecup kening Alexa dan menarik wanita itu kepelukannya.
"Aku belum tahu pasti kenapa dia mencari masalah, kalaupun suka seperti yang kamu katakan sepertinya tidak. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya."
"Apapun alasannya aku harus balas dia. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur hanya karena wanita lagi."
"Pasti Lexa, aku juga tidak ingin itu terjadi dalam rumah tangga kita," bisiknya.
***
Senyuman Serin mengembang sempurna setelah mendaratkan kakinya di tanah Indonesia, tanah kelahirannya.
Sebenarnya wanita itu pernah berkunjung ke Indonesia 2 minggu yang lalu demi menyaksikan seseorang menikah padahal sebisa mungkin dia sudah mengagalkannya.
Dan kunjungannya ke indonesia waktu itu tidak di ketahui oleh siapapun termasuk bunda dan ayahnya. Kali inipun, ayahnya tidak tahu bahwa dia telah sampai di Indonesia.
"Aku sudah sampai, kau tidak perlu menjemputku," ucap Serin pada sepupunya di seberang telpon.
"Terserah kau saja Serin!" sahut Irwan di seberang telpon. Pria itu sedang kesal karena ponsel Alexa tidak aktif juga tidak datang ke sekolah.
Berbeda dengan Serin yang masih memasang wajah bahagianya. Wanita itu memutuskan sambungan telpon dan berjalan keluar dari bandaran.
Tidak ada yang menjemput membuatnya harus mandiri kali ini.
"Nona Serin?" sapa seorang pria yang usianya jauh lebih tua 3 tahun.
"Ya itu nama saya, kau mengenalku?" tanya Serin balik. Dia melepas kacamatanya untuk menatap dengan jelas pria di hadapannya.
"Naiklah Nona, saya diperintahkan Nyonya Kania untuk menjemput Nona," ucap pria itu lagi dengan senyum simpulnya.
"Ah kebetulan sekali, ayo." Dengan antusias Serin langsung masuk ke mobil itu tanpa curiga sama sekali.
"Nona belajar di luar negeri?"
"Saya tinggal di sana dan kembali karena sesuatu. Kenapa kau bertanya? Kuharap kau tidak jatuh cinta padaku," ketus Serin.
Lagi-lagi pria itu terkekeh. "Sepertinya saya memang jatuh cinta pada Nona," ucapnya.
Serin memutar bola mata jengah mendegar sahutan pria tersebut. "Dasar sopir tidak beradab," cibir Serin.
Wanita itu mulai memfokuskan perhatiannya pada benda pipih dimana foto seseorang menjadi latar ponselnya. Ya seobsesi itulah Serin pada seorang pria.
Cintanya pernah redup untuk beberapa saat karena mengira pria yang dia cintai tidak menyukai wanita, melainkan pria. Tapi setelah melihat berita tentang pernikahan pria itu dengan seorang wanita, cinta Serin kembali bersemi.
Serin langsung bergerak untuk menyuruh seseorang agar mencelakai keduanya demi menggagalkan pernikahan tapi gagal total.
"Kenapa mobilnya berhenti?" tanya Serin ketika mobil yang dikendarai berhenti di tengah-tengah jalanan sepi. Samping kanan dan kiri hanya terdapat air, lebih tepatnya sekarang wanita itu berada di jembatan sangat panjang.
"Saya juga tidak tahu Nona, tiba-tiba mesinnya mati begitu saja," sahut pria itu dan turun dari mobil.
"Lalu?"
"Saya akan menelpon seseorang untuk menelpon ...."
"Aaakhhhh kamu bodoh apa bagaimana?" bentak Serin saat menyadari tidak ada jaringan di tempat tersebut.
"Saya pintar Nona," pria itu mengulum senyum dan berjalan menjauhi Serin.
"Kau mau kemana?"
"Meminta bantuan," sahut pria itu tanpa menoleh.
Serin mengepalkan tangannya karena sangat kesal. Hari pertama berada di indonesia bukannya bertemu orang yang dia cintai, dia malah tersesat tanpa arah seperti ini.
Ayolah Serin tidak mengetahui jalanan di kota yang dia kunjungi. Dia berkunjung karena modal nekat dan cinta dihatinya.
"Panas sekali," keluh Serin memutuskan masuk ke mobil.