Pengkhianatan Di Malam Pengantin

Pengkhianatan Di Malam Pengantin
Part 112 ~ Aku benar-benar hamil


"Nyari apa Tuan?" tanya penjaga apoteker.


Sean mengusap tengkuknya yang tidak gatal, sebernanya dia sangat malu jika harus mengatakan membeli benda yang begitu keramat. Namun, pria itu berusaha menunrunkan harga diri dan rasa malunya demi sang istri.


"Test pack untuk istri Saya," ucap Sean dengan wajah datarnya.


"Baik Tuan, tunggu sebentar," sahut penjaga apoteker dan mengambil beberapa macam test pack kamudian meletakkan di atas etalase.


"Tuan ingin test pack yang bagaimana? Kami memiliki beberapa jenis yang bisa ...."


"Yang paling akurat dan gampang!" potong Sean yang tidak ingin mendengar penjesalan tentang test pack yang akan membuat telinganya berdeging.


"Saya sarankan yang ini." Petugas menyerahkan Test pack Sensitif Compact Unit.


"Terimakasih."


Setelah menyelesaikan pembayaran, Sean segera meninggalkan apoteker tersebut dan buru-buru pulang ke apartemennya.


Di sepanjang jalan, Sean terus berdoa agar apa yang dikatakan dokter benar-benar terjadi. Pria itu juga berdoa agar kandungan istrinya tidak kenapa-napa karena telah mengonsumsi alkohol dalam jumblah lumayan banyak.


Laju mobil Sean memelan ketika melewati sebuah restoran dan melihat dua orang yang sangat dia kenali keluar dari tempat tersebut.


"Ziko dan Serin?" gumam Sean.


***


"Akhirnya datang juga," celetuk Alexa setelah Sean sampai di apartemen dengan selamat. "Ayo kita ke kamar," ajak Alexa menarik tangan suaminya tanpa ingin memberitahukan apapun pada bundanya juga Delia.


Alexa tidak ingin memberikan harapan palsu pada kedua orang tersebut.


"Bisa-bisanya kalian masuk ke kamar sementara bunda dan Delia masih ada," omel Kania. "Sean, kenapa istri kamu bertingkah aneh sejak tadi? Apa otaknya geser karena sakit?" tanyanya lagi.


"Itu karena Alexa sangat bahagia Bunda, Lexa sedang .... Ssstttt, sakit Lexa!" keluh Sean ketika kulit perutnya diputar oleh sang istri.


"Bunda dan kak Delia tunggu sebentar ya," ucap Alexa dan segera menarik suaminya ke kamar.


"Mana test packnya?" Menegadahkan tangannya sampai Sean memberikan kotak berwarna biru padanya.


Dengan sigap Alexa berjalana ke kamar mandi diikuti oleh Sean di belakangnya.


"Aku bisa sendiri, Husbu!"


Alexa memutar bola matanya malas, lalu duduk di atas closet. "Hadap pintu!"


"Hm."


Sean sontak membalik tubuhnya menghadap pintu dan hanya mendengarkan kucuran air seperti sedang mengoreng ikan. 1 menit, dua menit tidak ada suara yang terdengar.


"Lexa, kau baik-baik saja?" tanya Sean tanpa membalik tubuhnya.


Hening, tidak ada sahutan dari wanita yang sejak tadi memperhatikan jendela tongkat test pack yang dia genggam.


"Lexa ...."


"Husbu aku beneran hamil!" teriak Alexa langsung bangkit dari duduknya dan memeluk sang suami dari belakang. "Aku beneran hamil anak kita, sebentar lagi aku jadi bunda, Husbu," lirih Alexa kembali meneteskan air matanya.


Sean langsung membalik tubuhnya dan membalas pelukan sang istri. "Terimakasih Sayang sudah memberi aku kesempatan untuk menjadi seorang ayah," bisik Sean di telinga Alexa.


Pria itu langsung mengendong Alexa, hingga perut wanita itu berada tepat di depan wajahnya. Dikecupnya perut Alexa berulang kali dan memberi pujian pada wanita itu.


"Ayo kita beritahu bunda," ajak Sean tanpa berniat menurunkan Alexa dari gendongannya.


"Tunggu Husbu, aku lupa bilas." Alexa menyengir tanpa dosa.


"Ck, dasar bocil 27 tahun," ejek Sean dan menurunkan Alexa dari gendongannya. Pria itu kembali menghadap pintu dan menunggui Alexa membilas daerah tempat uri*nenya keluar.


"Ayo!" ajak Alexa merangkul lengan sang suami.


Keduanya kembali menemui Kania dan Delia yang sibuk bicara satu sama lain, entah membicarakan apa Alexa juga tidak tahu.


"Bunda," lirih Alexa menghampiri bundanya.


"Kenapa Sayang?"


"Lexa hamil," bisik Alexa tepat di telinga bundanya.


Mata Kania membulat sempurna, dia melirik Alexa dan Sean secara bergantian karena tidak percaya. Baru beberapa hari yang lalu Kania kehilangan harapan setelah mendapat kabar dari Serin bahwa Alexa tidak bisa hamil, kini harapan itu kembali bersemi di hati Kania.


"Benar?" tanya Kania memastikan.


"Benar Bunda, istri Sean hamil!" sahut Sean dengan penuh percaya diri.