Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sebab akibat


Bersemai corak penuh warna menjadi satu padu, seketika hanya sebagai gambaran pengisi jejak bekas era dunia jin. Tentang kehidupan menyalakan bumerang dan sofar. Sepasang sayap raksasa sudah waktunya di uji kembali kekuatannya.


Dia sedang menjalani hukuman sebab akibat menentang segala ikatan aturan menjaga wilayah dan kerajaan Yaksa dari para leluhur jin terdahulu. Sinar cangkang yang menyala di bawah sinar rembulan menembus kolam keabadian. Raja dan putri yang mengubah haluan dari peperangan yang seharusnya tidak pernah usai. Berkali raja mengabaikan gencatan senjata dan peperangan, tetap saja pasukan Yaksa menyerang Jati Jajar sehingga hujan darah saat bulan menghilang menjadi nyata.


Sekali lagi mereka meminta pada jiwanya sendiri untuk saling menemukan. Begitupun raja yang bertekad selalu menuju putri Arska. Kapan takdir benar-benar bisa menyatukan mereka? Dua tubuh yang terpisah namun hati yang berusaha menyatu. Cenayang Han yang berusaha meminta arwah cenayang Karang untuk mengunci jiwa yang telah berpindah kea lam dunia begitu berat saat putri Arska tidak menjawab panggilannya di alam mimpi.


Hari ini tepat dimana tiga masehi di dunia jin sedang menggelar acara pesta kembang api dan pelepasan lentera di sepanjang lembah sungai jin.Setiap jin dan penghuni sekitar dua wilayah kerajaan berbaur menuju tempat tersebut melewati satu malam bersama tanpa memikirkan permusuhan.


Fenomena dan kejadian langka bagi kedua kerjaan, mereka berjalan beriringan dan berganti-gantian menunggu antrian panjang untuk pelepasan lentera terindah sebagai bekal harapan masing-masing di sampai memenuhi sungai ghaib.


Kilauan sungai bercahaya lentera di malam hari, beberapa para jin menangis mengenang yang telah pergi. Dunia jin hampir menyerupai alam manusia yang memiliki keluarga, para prajurit sebagai kepala rumah tangga di tarik menuju istana untuk ikut berperang dan berjuang mempertahankan wilayah kerajaan. Salah satunya isak tangis sosok jin kecil yang membawa lentera kecil, dia terlihat penuh isak tangis.


Di kerajaan Yaksa


Gerakan cepat yang di ikuti para dayang dari belakang. Hiasan dan perhiasannya semakin banyak, gaunnya yang semakin glamor dengan riasan mencolok menghiasi wajahnya. Kabar kedatangan putri Helena mengunjungi kerajaan Yaksa terdengar sampai di telinga ibunda Ratu, ibu dari Raja Permadi itupun mendatangi kerajaan Yaksa secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan sang suami dia bersama dayang pendampingnya menuju kamar tamu peristirahatan putri Helena.


“Putri, ibunda Ratu datang” ucap salah satu dayang membungkuk lalu membukakan pintu.


Dia langsung bertingkah begitu manis dan lemah gemulai di depan ibu sang Raja. Putri Helena memeluk ibunda Ratu dengan meneteskan air mata dengan gerakan mengusap seolah ada air mata yang sudah berlinangan di pipi.


“Daku sangat merindukan mu wahai ibunda Ratu yang agung, terimalah hormat ku” ucapnya menyatukan kedua tangan.


Mereka berbicara di depan alun-alun istana, disitu semua para dayang dan penjaga tidak di perbolehkan mendekati mereka. Hanya ada ibunda Ratu dan putri Helena yang sedang di perhatikan oleh ibu suri dari kejauhan. Lama sekali mereka berdiskusi ibu suri tidak tahan menahan amarahnya karena dia merasa ada hal yang mencurigakan. Langkahnya sudah hampir mendekati mereka, dua pengawal yang menahan langsung di tampar olehnya dan dia berjalan lebih cepat sampai pada tempat ibunda ratu dan sang putri.