Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Paksaan dari ibu suri


Pertemuan seluruh para cenayang di ruangan tengah pura membicarakan keputusan yang terbaik untuk menangani permintaan ibu suri. Kepala cenayang masih belum menemukan titik tengah dan jawaban. Memberikan mantra penghalang iblis yang katanya mengejar ibu suri, nyata di dalam ruang persemedian ilmu itu berasal dari sinar muara hijau. Cenayang Han hanya ikut terdiam membisu, dia tidak ingin kantung pemberian Karang yang bersarang di salah satu anggota tubuhnya di tarik oleh kepala cenayang. Han sudah berjanji kepada Karang untuk mencegah cangkang lembah sungai jin terbuka akibat matahari dan bulan ingin bersatu.


“Sekalipun han setengah dirinya menjadi arwah penasaran, tapi sosok cenayang Karang di masa hidup sudah bergaris takdir nama cenayang pelindung di salah satu pura. Kekuatan yang dimiliki tidak akan pernah bisa membunuh jiwa yang hidup, aku tidka akan membuka rahasia kekuatan Karang” gumam Han.


“kepala cenayang, tolong segera putuskan apa yang seharusnya kami lakukan” ucap salah satu cenayang melihat wajah gusar sang kepala cenayang.


Dia menggeleng seolah memberikan jawaban keputus-asaan. Mereka sudah siap menerima hukuman dari sang ibu suri di hari esok. Mengesampingkan segala ego di benak sang cenayang Han, dia ingin membantu pura namun jika kekuatan cenayang Karang di masa depan malah membuat kehancuran karena sumpah dan keinginan cang cenayang Karang membuat hati Han bergetar hebat.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Han.


Dia memikirkan ulang hal untuk mencegah ibu suri tidak menyakiti dan menindas pura. Dengan memberikan mantra pelindung sementara sebagai bukti agar dia tidak kecewa. Han menyodorkan selembar tiga lembar kertas kepada kepala pura.


“Mantra apa yang akan engkau berikan ini pada bu suri?” tanya kepala dayang membaca isi dan guratan tulisan dari Han.


Karang menjelaskan kepada sang kepala dayang, perkataannya juga di dengar oleh para cenayang lain. Membuat seluruh isi pura merasa sedikit tertolong dengan rencana darinya. Mantra kekuatan sinar hijau yang sama di dalam balutan kegelapan untuk ibu suri.


“Lalu bagaimana jika semua kertas itu tidak basah?” tanya kepala dayang menatap Han.


“Kita hanya perlu menyampaikan ke ibu suri bahwa itu adalah mantra untuk melindungi dia agar tidak terbunuh” ucap Han meyakinkan.


Matahari belum berganti rembulan dan hari ketiga sudah di depan mata. Tidak di sangka ibu suri kembali lagi ke pura di saat hari sebelum perjanjian selesai.


“Bukakan pintu untukku!” perintah ibu suri di depan gerbang pura.


“Ibu suri, bukan kah seharusnya anda datang tepat di hari esok?” jawab sang penjaga gerbang pura sambil membungkuk.


“Jika engkau ingin selamat, turuti saja keinginan ku!”


Gerakan pengawal ibu suri menarik pedang kemudian mengarahkan ke leher sang penjaga. Dia terpaksa membukakan pintu dan berlari menuju depan pintu masuk ruangan pura untuk mengabarkan kedatangan ibu suri beserta pengikutnya. Peralatan tajam, baju zirah dan senjata lainnya tidak mereka tinggalkan di depan pura. Hari ini mereka mengabaikan syarat memasuki pura suci dengan membawa senjata yang berbau darah jin membuat sekujur tubuh mereka sangat gatal.