Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sang Raja menggoda


Sosok jin kiriman dari ibu menemukan keberadaan mereka, dengan tangan yang penuh berlumuran darah Raja melawan serangan dan menggunakan kepakan sayapnya untuk menghindari setiap lemparan senjata beracun. Ketika sang Raja lengah, sosok jin pembunuh mengangkat pedang siap menusuk jantung Ratu Arska. Tiba-tiba sinar putih terik keluar dari dahi sang putri menutupi seluruh tubuhnya sampai sang pembunuh seperti terhalangi oleh sinar tersebut.


Sekeliling berubah membeku, sangat dingin sampai siapapun yang berdiri atau berada di dekatnya berubah menjadi es. Raja terbang menghindari sinar dingin yang menjalar sedang sosok jin utusan akhirnya membeku.


“Putri, putri sadarlah!” teriak Raja Permadi.


Sayap raksasa itu sudah basah kuyup tidak sanggup mengepak lagi. Perlahan Raja mulai turun ke tanah sehingga sinar es mulai menjalan menaiki telapak kakinya. Setengah bagian raja Permadi mulai membeku, di samping putri Arska dia meraih tangan sang Putri mengusapnya. Usapan kedua telapak tangan perlahan membuat sinar itu menghilang.


“Putri…” panggil sang Raja sekali lagi.


Sang putri mulai membuka matanya, dia sangat terkejut melihat sang Raja yang sekujur tubuhnya hampir di tutupi oleh es. Sang putri menangis memeluk tubuh sang Raja yang di lapisi es, begitu erat sampai dia mengucapkan hal yang tidak pernah sang Raja bayangkan sebelumnya.


“Raja, jika engkau tiada hari ini karena demi menyelamatkan kerajaan Jati Jajar maka aku akan membalas pengorbanan mu dengan mengorbankan nyawa ku” ucap sang putri.


Seketika hujan reda dan berganti dengan sinar mentari yang sangat terik. Panas yang turun ke dunia jin perlahan melelehkan tubuh Raja Permadi. Begitupun sang pembunuh yang di utus oleh putri Helena tubuhnya mulai mencair, raja langsung bangkit bergerak menebas lehernya sampai kepalanya terlepas. Raja yang sudah lemas karena banyak mengeluarkan darah menjatuhkan pedangnya dan terduduk menahan rasa sakit pada bagian luka. Putri Arska memotong ujung gaunnya lalu menutup luka sang Raja. Ini adalah kali kedua dia menutup luka pada tubuh sang Raja akibat menolong dirinya.


“Selamanya..”


“Engkau adalah raja perayu yang baru aku temui” bantah sang putri berdiri mencari-cari dimana Gangga.


Sudah sangat lama dia memanggil hewan kesayangannya itu tapi tidak muncul juga sedangkan Raja Permadi yang belum bisa menggunakan sayapnya untuk terbang memutuskan untuk mengajak sang putri berteduh di salah satu pohon yang rindang.


“Jangan khawatir, Gangga adalah hewan yang kuat dan pintar” kata Raja Permadi.


Putri baru menyadari ujung sayap sang raja terluka, ada benda tajam yang masih tertancap disana. Dengan tangan bergetar dia mencabut benda itu dan melihat raut wajah sang Raja yang kesakitan. Sang putri kembali memotong ujung gaunnya namun ukuran ujung sayap Raja terlalu besar dan lebar.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam putri Arska begitu khawatir melihat Raja yang semakin lemah.


Semula putri ingin meninggalkan sang Raja, walau bagaimanapun di pikiran sang putri bawah sosok yang di hadapannya adalah musuh dari kerajaan Jati Jajar yang sudah menumpahkan beribu pasukan di medan perang. Tapi hatinya berkata lain, sosok yang di hadapan nyatanya sudah menyelamatkan dirinya. Dia melihat sang Raja terkulai lemas bersandar pada pohon, wajahnya penuh keringat yang bercucuran.