
...Bumi jin berputar pada porosnya di balik sinar penerangan pergantian cahaya matahari dan rembulan....
...Pertemuan melukis sejuta kenangan, menempatkan segumpal hati untuk menyatu. Menghalangi dan meracuni jejak kedatangan yang beradu, kedua sosok itu masih saling mencari dan menemukan....
...Cinta biru terlalu banyak pertumpahan darah, gerai air mata dan kekhawatiran...
...💙💙💙...
“Arghh….” Teriak sesosok dayang.
Dia terkejut melihat bekas tapak kaki jin penuh darah menuju ke salah satu dayang istana. Hal itu membuat seluruh dayang di kumpulkan oleh Ratu Sesa untuk di interogasi. Seluruh dayang berbaris rapi di depan halaman istana. Dua dayang belum hadir disana yaitu dayang pendamping Ratu Harun dan putri Helena. Tampak putri Helena berjalan memasuki istana dengan gaun selayar berwarna hitam rambut berkibar tertiup angin menampakkan aksesoris anting dan kalung tengkorak.
“Putri, kemana perginya dayang pendamping mu? Rupa-rupanya aku tidak melihatnya hari ini” tanya Ratu Sesa.
“Dia sedang aku perintahkan untuk pergi ke ruangan timur untuk mencarikan pakaian yang baru dan indah untuk ku. Apakah engkau tetap menyuruhnya kembali ke istana dan mengabaikan permintaan dari sosok jin putri mahkota pewaris Gurun pasir?" Ucap sang putri penuh rasa sombong sambil mengangkat kepalanya.
Ratu Sesa mengepal tangan, ingin sekali dia menampar putri Helena yang tidak pernah menghormati dirinya namun dia tidak memikirkan ulang Raja Gurun yang teramat menyayanginya.
“Baiklah kalau begitu kalian panggil dayang pendamping Ratu Harun” perintah Ratu Sesa memalingkan muka dari sang putri.
Langkah kaki para dayang menuju ruangan kebesaran sang Ratu bersamaan dengan Ratu Harun yang kan memasuki ruangannya.
“Kami menghadap yang mulia Ratu, dayang pendamping di perintahkan untuk hadir di halaman istana bersama dayang lainnya” ucap para dayang menunduk.
“Aku baru bangun dan mencari udara segar dengan berlari-lari kecil sebentar di depan kamar, katakan saja dayang ku akan tiba kesana setelah mengurus pemandian air hangat ku”
“Baik Ratu" ucap sang dayang lalu membungkuk badan berjalan pergi.
Di dalam ruangan, kepala dayang terasa hampir terlepas akibat menanggung beban mahkota Ratu Harun yang begitu berat. Baju yang tebal dan besar dengan penutup wajah yang membuat dia sesak seharian.
“Ratu, syukurlah engkau kembali” Kata sang dayang pendamping melepaskan mahkota lalu meletakkan ke telapak tangan sang Ratu.
Berselang beberapa jam, Ratu Harun ikut melihat dayang pendampingnya berbaris di halaman istana. Ratu Sesa menghukum semua dayang yang tidak mau membuka mulut atas perbuatan yang akan menjadi buah bibir wilayah Gurun.
“Jika kalian tidak mau mengatakan jejak kaki siapa ini maka aku akan mencambuk kalian semua!” kata Ratu Sesa penuh amarah.
“Kakak, engkau harus menunggu satu dayang lagi baru bisa menjatuhkan hukuman ke semua dayang. Bagaimana jika kita mendengar apa yang di katakan nanti dari dayang pendamping putri. Bukankah engkau sosok Ratu kedua yang adil?” ucap Ratu Harun tersenyum menepuk pundaknya.
..._To be continued_...