Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
ilalang yang menguning


“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya putri penuh rasa curiga.


“Putri aku sedang menjaga mu semalaman” jawab Raja mendekati posisi putri yang menjauhinya.


Gangga membawa putri terbang keluar dari gua. Tidak ada kata perpisahan dan sepatah katapun. Sang putri hanya menoleh ke arah sang saja yang di balas raja dengan lambaian tangannya.


Di kerajaan Yaksa


Ibu suri sudah kembali dari pencarian atas mimpi buruknya, dia tidak mendapatkan hasil apapun dan pulang dengan hati yang bergemuruh. Salah satu mata-mata yang dia tugaskan untuk memberikan informasi mengenai istana memberitahukan kepadanya mengenai penyelamatan putri Arska dan penyerangan Raja. Ibu suri menjatuhkan ceret batu, benda itu pecah terlepas dari tangannya.


“Putri sialan itu? Berani sekali dia mendekati cucu ku?” kata ibu suri geram berjalan keluar mencari sang Raja.


Dia tidak menemukan Raja di ruangan peristirahatan, hanya ada baju bekas darah sang raja yang di bawa oleh dayang untuk di bersihkan.


“Kemana perginya sang raja?” langkah ibu suri terhenti melihat sang raja sedang sibuk memainkan anak panah di latar istana. Dia sedang fokus membidik sebuah apel yang terletak di atas kepala sang prajurit. Tidak rasa khawatir dan takut yang tergambar dari prajurit tersebut. Sang raja yang ahli memanah selalu saja dengan tepat melepaskan anak panah sesuai sasaran.


“Raja, ibu suri memanggil anda” ucap kasim pendamping.


Raja menghentikan aktivitasnya dan menuju sang ibu suri. Dia melihat raut amarah di wajah neneknya itu. Dengan tenang sang Raja menyentuh tangan sang ibu suri.


“Nenek, apa yang membawa mu datang kesini?” tanya sang Raja dengan lembut.


“Aku ingin menjodohkan mu dengan putri Helena”


“Nenek beristirahatlah, aku akan memikirkannya” kata sang raja.


Bukankah seharusnya seorang nenek khawatir setelah melihat baju zirah sang cucu bersimbah darah? Wanita tua itu hanya mementingkan dirinya sendiri.


Senja telah datang menyapa alam jin yang baru mengalami bencana. Air sudah surut dan bunga-bunga kembali bermekaran. Daun-daun yang kering berguguran memasuki latar istana. Baru saja beberapa jam berlalu sang raja bertemu dengan sang putri, kini rasa traumanya kehilangan sang putri kembali membuat kekhawatiran yang besar di hatinya. Ketika dia akan menuju keluar gerbang, terlihat Huson dan Futon mengikutinya. Kasim pendamping yang mengetahui bahwa raja sedang di ikuti dan berjalan menghampirinya di halangi oleh huson. Dia menyeret badan sang kasim ke belakang istana dan memukul kepalanya.


Praghh..


pukulan mengenai kepala dan badan sang kasim sampai mengeluarkan muntah darah. Semetara Futon kehilangan jejak sang Raja saat mengikutinya sampai pada hutan terlarang.


“Kemana perginya dia?” gumam Futon menyalakan tombak.


Raja berdiri tepat di belakangnya dan menepuk pundak sang paman.


“Wahai paman, mengapa engkau mengikuti ku?” tanya Raja memperhatikan tombak mematikan yang panah melukai sang putri.


“Kau harus mempertanggung jawabkan segala yang terjadi atas pembelaan mu kepada musuh.”


“Bukankah sudah aku katakana bahwa aku yang akan memutuskan kapan untuk membunuhnya?” Raja melipat kedua tangan.


Raja mengurungkan niat menuju kerajaan jati jajar untuk melihat sang putri. Dia memutuskan untuk kembali ke Yaksa namun di sepanjang perjalanan Futon menyerang dengan kilatan tombak api. Raja Permadi hanya menepis dan menghindari serangan.