Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Serikat palsu


Segala cobaan datang tanpa jeda dan enggan pergi


Menghantam jiwa membakar ranting kering tanpa henti


Dia berusaha memadamkan dan menyiram dan tumpahan madu yang katanya bisa menawarkan segala dahaga kegelisahan


Mungkin ku berpikir berpisah saja cukup tanpa harus mengobati luka bakaran api yang sakitnya tidak pernah bisa hilang meski siang telah berganti malam


Meski kepakan sayap itu pernah menyentuh kelopak bunga lain walau tanpa sengaja


Semua itu tidak akan merubah hati putri Arska


Kemungkinan tidak akan hilang janji


Tidak akan berhenti putaran waktu untuk saling menemukan


Hanya saja kelelahan dan pilu menutupi setapak jalan pertemuan


Bejana untaian rindu dan meragu masih tetap menjadi satu


...💙💙💙...


Raja Permadi terbang merampas hiasan rambut runcing yang hampir menusuk sang putri. Gerakan cepat Jin bersayap itu membuang hiasan rambut dan menggenggam erat tangan putri Helena. Ibu suri hanya terdiam dan menarik sudut senyuman melihat segala rencananya berjalan dengan mulus.


“Bagus sekali!” gumamnya sambil merapikan rambut.


Percakapan ibu suri dan Putri Helena sebelumnya di kolam teratai.


“Jadi apa rencana mu?” tanya ibu suri penasaran.


Tingkah putri Helena yang lebih tenang dari biasanya, hiasan wajah yang tidak secerah dengan balutan busana lebih anggun dan berwarna biru. Diam-diam putri mengetahui hal-hal yang di sukai oleh raja Permadi.


“Bantu aku sekali lagi mendapatkan hati Raja Permadi” ucap putri Helena.


“Sudah ku duga sebelumnya..” gumam ibu Suri.


“Lalu apa keuntungan yang aku peroleh jika membantumu? Bukankah aku sudah pernah gagal membantu mu untuk memberikan cucu ku? Lagi pula aku sudah tidak berniat menjodohkan engkau dan memberi peluang besar menempati posisi sebagai Ratu di kerajaan Yaksa.”


Perkataan ibu Suri di patahkan oleh putri Helena dengan menyodorkan sebuah berlian berwarna merah delima berukuran segenggam telapak tangan. Putri memberikannya dan memberi kode setuju atas permintaan yang dia sampaikan.


“Baiklah kalau begitu kesepakatan di mulai”


...----------------...


“Jadi menurut ku, alangkah baiknya perjodohan ini kita rajut kembali wahai Raja yang bijaksana pikirkanlah nasib rakyat dan kerajaan Yaksa” ucap ibu Suri berdiri melipat kedua tangan.


Raja menahan amarahnya karena merasa di situasi ini dia sedang di jebak, dia berpikir sejenak lalu melepaskan genggaman tangan putri Helena. Tangis putri pecah terisak memeluk erat sang Raja.


“Bunuh saja aku untuk menghilangkan rasa malu ini!”


Adegan yang membuat para penghuni aula melotot. Raja yang sudah rishi di perhatikan oleh para pejabat istana memerintahkan panglima agar rapat pertemuan Aula di bubarkan.


Gong suara pukulan dan pengumuman pembubaran rapat di tunda. Seluruh para pejabat dan aparat istana meninggalkan Aula. Begitupun Raja meminta ibu suri kembali ke kamar kebesaran.


“Lantas, begitukah cara kita memperlakukan tamu? Wahai raja, tidak pantas aku meninggalkan putri Helena di saat seperti ini”


“Tidak apa-apa, terimakasih atas kebaikan ibu Suri” ucap putri Helena.


Sandiwara putri dan ibu suri tampak lancar, di sela perdebatan kecil untuk meyakinkan Raja Permadi.


Raja tidak ingin membalas tatapan putri Helena, dia yang tidak tahan jika melihat wanita menangis tapi ada sebuah hati yang harus dia jaga dan perjuangkan.


“Sekali lagi aku tegaskan padamu wahai putri yang baik, kita tidak mungkin bersatu”


..._To be continued_...